
Deuz duduk di sebelah Lea yang baru saja selesai berolahraga bersama ibunda tercintanya,kedua remaja ini memang cocok,sekalipun Lea lebih dewasa 3 tahun dari Deuz,tapi ia suka memperhatikan adik dari ayahnya ini,anak yang serius dan teliti hingga beberapa menit yang lalu dirinya memilih menyelinap masuk ke mobil bibi kembar untuk ke kastil.awalnya kedua bibi kembar itu terkejut,tapi mereka tidak asing dengan sikap ponakan sulung satu ini emang susah di tebak.
"apakah aku boleh memberikanmu saran?" Deuz berbicara pelan tanpa menoleh pada bibi kecilnya yang sejak awal tetap terlihat kesal sejak kejadian kemarin,apalagi kakak iparnya tadi membujuknya ikut ke mension untuk makan siang demi membahas masalah kemarin,ia benar-benar emosi pada semua yang menimpa keluarga kakak sulungnya sejak dua tahun terakhir ini.
"Aunty ..apa kau mendengarku?",sapaan itu membuat handuk kecil di tangan Lea mendarat di lengan Deuz yang terkekeh,gadis itu makin kesal dan akan pergi tapi Deuz menarik kakinya hingga bibinya itu jatuh ke atas rumput lalu mengeram marah sesaat.
"kita sudah buat aturan jangan memanggilku tantemu atau bibimu kecuali di saat Mommy dan Daddy ada di depan kita,,lalu...."
"stop marah-marah Bibi Lea.....,Zia Lea...,, Aunty Lea....tidak ada siapa2 di sini,,tidak ada teman-temanmu dan jugaaa....."
"Deuz stooopppp....!,okey.....,ayo katakan apa saranmu?!" Lea bersedekap dada duduk bersila menatap tajam pada ponakan yang ia anggp adik dan sekaligus teman terbaiknya sejak kecil.
"ada kemungkinan.....kau mencintai Zio Luis,maksudku....ini cinta monyet.....dan ku sarankan buang jauh-jauh itu semua penyihir jahat......" Deuz bicara pelan tapi tegas sambil menatap mata gadis yang dua bulan lagi telah berusia 20 tahun,dan tebakan si laki-laki bermata gelap itu tidaklah meleset,seketika bola mata bibi kecilnya itu berkaca-kaca menunduk mengangguk pelan,hingga sebening embun kecil menetes di usap pelan oleh Deuz yang mendesah berang tapi juga kasihan,karna baginya ini adalah hubungan yang rumit jika sudah mengutamakan perasaan seorang wanita.
"maafkan aku,,okey....aku berjanji cukup hari ini kita bahas dan anggap semua ini tidak akan terjadi......" Deuz melihat ke arah balik kaca di mana ibunya dan kedua bibi kembarnya melambai mengajak masuk ke dalam kastil.
"ya......,aku akan terima saranmu,dan aku sudah sejak awal berusaha untuk tidak membuat perasaanku terus tumbuh lebih besar lagi,aku sedang berjuang untuk tidak berpikir bahwa kak Luis bukan milikku sendiri,aku tau kak Luis mencintai Lexa lebih dari dirinya sendiri dan mereka sudah menikah.....,mungkin juga aku hanya sedikit salah paham pada perasaanku,karna kak Luis sangat memanjakan aku....,apalagi setiap hari komonikasi virtual tentang perusahaan di Roma yang suatu saat akan aku pimpin bersama kak Erica,kak luis satu-satunya dewa pelindungku dari ketegasan Daddy dan kak Leon,mereka monster jika membahas pekerjaan kecuali kak Luis dan kak Devid,aku mungkin mencintainya dan tidak ingin dia sedih.....,aku bukan penyihir jahat..., " Lea berbisik pelan di kalimat terakhirnya.
"aku lihat semua amarahmu kemarin dan aku di sini sekarang Karna kita adalah teman......,kau tau kan,aku juga pernah berhutang satu saran darimu dulu...,maaf maksudku penyihir yang merasukimu kemarin he he...," Deuz terkekeh lalu menarik lengan Lea agar bangun ke arah kastil,dulu Deuz juga pernah seemosional Lea membela seseorang tapi cintanya bertepuk sebelah tangan,lealah yang membelanya di depan orangtua.remaja ini memang masih muda tapi tidak dengan sikapnya,ia remaja brilian dan tangguh.
"Mommy dan Zio twins mencarimu....,aku akan menemui kucingku dulu.....ingatlah aku harus ikut aturan tidak boleh ambil bagian dengan urusan kalian sebagai orang dewasa.....",Lea berdiri tegak lalu menepuk bahu Deuz,kedua remaja ini sama-sama melempar senyum,di belakang kastil ini terdapat hutan buatan yang begitu luas hingga menuju jalan pulang ke mension orangtuanya,dan juga rumah kaca milik keluarga Harland dari pihak ibunya,nyaris satu wilyah yang berkilo kilo luas ini adalah milik keluarga Deuz,di hubungkan oleh Danau dan sungai kecil yang mengarah dari perkebunan paman David lalu terus berlanjut ke lautan lepas mewakili pemukiman masyarakat awam di sana tak jauh dari gunung alpen tentunya menuju ke perkotaan,di balik pagar besi beton yang kokoh itu ada beberapa rumah penjaga dan pengurus hutan serta danau,di sana tinggallah sepasang kucing hutan dan binatang peliharaan Deuz,sepasang jaguar.
"ku dengar mereka akan di pindahkan ke Afrika....?" Lea bertanya mengingat peliharaan ponakannya itu kini telah berkembang biak di hutan buatan ini dengan baik dan sehat.Deuz melangkah mundur sambil mengangkat bahu menjawab,
"Zeus akan sedih tanpa Temannya yang kecil itu....." mengingat adiknya memilihara salah satu anak dari sepasang jaguar milik Deuz,beberapa bulan sebelum adiknya sekolah,sang Daddy tak mengijinkan Zeus membawa peliharaan di mension,sampai Zeyna dewasa,sekalipun Back adalah anak jaguar yang sudah kehilangan sisi liarnya karna besar di tangan manusia,namun sang ayah tetaplah orangtua waspada.
"aku pergi,katakan pada mom....aku akan bermain di hutan...." Deuz melambai pergi,ia bisa kembali ke mension nanti dengan caranya sendiri,ibunya dan dua bibi kembarnya di temui Lea dengan lapang dada,setelah Deuz berbicara tadi,sekarang ia sangat yakin harus lebih terbuka pada kakak iparnya demi rumah tangga si kakak sulung.
"Lea...mandinya di mension saja,kemungkinan anak-anak akan bermain di sini saja nanti siang,bawalah perlengkapan lesmu,karna Daddy baru saja menelfon bahwa setelah makan siang,mereka akan pergi ke Italia,kurasa kami tak bisa membiarkanmu di kastil besar ini sendirian....." Caca memberikan perintah bukan memberikan pilihan,selain tegas kakak iparnya ini memang unggul dalam merangkul keluarga besarnya dengan caranya sendirinya,contohnya tadi pagi-pagi ia rela meluangkan waktu di kastil,menyiapkan sarapan Lalu mengajak Lea berolahraga agar otak gadis ini tidak lebih pusing dari kemarin,mereka mengobrol banyak sambil nge-gym.
"baiklah.....sekalian bantu aku menyelesaikan tugasku nanti malam ya kak.....",Lea mulai bersikap manja dan melangkah ke kamar mengambil iPad dan beberapa perlengkapannya lalu menyusul ke mobil yang meninggalkan kastil ke arah mension,tapi sebelum itu,3 wanita ini mengajaknya berkeliling dulu untuk berbelanja,tak peduli handphone mereka berdering,seperti itulah ke 3 wanita ini jika sudah bersama,akan ada alarm dari ke 3 suami mereka,hingga sopirpun yang terpaksa menjadi sasaran jika Caca tak mengangkat telfon.
"belum juga jam 12...kemugkinan mereka mulai kurang waras....." itu suara kalem Riana,saudari kembaran Ariana ini terbilang kalem tapi juga agak ketus jika sudah mendapat tekanan,mau tak mau ia mengangkat telfon dari Leon karna Caca tidak mengangkat telfonnya sejak awal.
"ya hallo....kak Leon,,kami di perjalanan pulang kok.....tenang saja....." seperti itulah Riana menjawab,tapi Leon tetap kesal saja.
"menelfon istrimu bukan solusi terbaik,ternyata mereka masih berbelanja....." Leon mulai ketus dan berbicara pada Deviz yang saat itu baru tiba dari ruang tahanan bersama seorang bodyguard,beberapa menit yang lalu wanita itu telah mengakui dirinya di bayar seseorang yang memang bukan lain adalah musuh bebuyutan keluarga Alexander orangtua kandung Luis.
" he he...aku bisa apa....,Riana memang lembut,tapi Caca lebih keras kepala...." Deviz mengangkat bahu mendahului Leon ke arah mension,pria dua anak ini tak secerewet Devid,ia lebih tenang dan santai cocok dengan pekerjaan bergelar profesor sekaligus dokter spesialis,lalu istrinya juga yang sama-sama dokter itu membuka klinik pribadi yang buka 6 hari dalam seminggu,keluarga sederhana yang kini memiliki rumah tak jauh dari studio milik istrinya di pusat kota.
Jam 12 tiba,saat menegangkan itu terlewatkan karna makan siang yang santai,di mana Lea beranikan diri mengakui dirinya mengawasi kegiatan Lexa di rumah sakit karna tersentuh dengan keadaan kakaknya Luis,tak jarang ia bolos dari les privatenya hanya untuk memastikan Lea di sana sedang menjalani terapi dengan benar bukan sedang menyusun rencana jahat,ia tak terima saat melihat seorang wanita di sebelah kamar pasien Lexa selalu menyelipkan surat tanpa identitas di bawah pintu kamar ketika para penjaga kewalahan,atau tak jarang menitipkan pada kurir yang di utus Luis mengantar keperluan lexa.hingga pada akhirnya Lea pernah sekali mengambil sepucuk surat yang isinya membeberkan kepribadian Luis di lengkapi beberapa foto-foto kebersamaan kakaknya dengan wanita-wanita cantik di luar perkiraan Lea.
Alexa hanya menjawab dengan berat setelah menatap mata Lea yang sudah tak terlihat membencinya.
"aku minta maaf pada semuanya....aku terima semua ini salahku.....maafkan aku....."
semua yang di katakan Lea benar,surat-surat kaleng itu membuat kesadarannya kembali lebih cepat tapi dengan ingatan yang buruk,ia selalu mengingat siksaan yang fisiknya terima sejak kecil, hingga menikah di atas kertas hanya saja ada kemungkinan besar hati dan pikirannnya tidak sejalan saat Lexa melihat sosok asli suaminya kembali,fisiknya yang sempurna,raut wajahnya yang rupawan dan juga ada sisi lembut yang luis selalu berikan sejak awal mereka kembali bertemu kemarin,sekuat apapun Lexa emosional,sekuat itupula kesabaran Luis menghadapinya,hati siapapun pasti akan sedih dan luluh.
"Lexa.....,kami di sini bukan mengadilimu nak,maafkan Lea kemarin,dan kami semua di sini sangat senang kamu memilih kabur ke studio daripada ke tempat lain......,oleh karna itu....,siang nanti kita akan mengantarmu ke Italia,bersama Luis juga.....,di rumah kalian.....", Mrs.Queen menjelaskan sambil mengawasi Luis yang terlihat gelisah saat ibunya mengambil keputusan akan mengantar mereka,ia tak bisa sesingkat ini bersama Zeyna batinnya.
"Mom.....aku boleh bertanya sesuatu?" Lexa mengeluarkan kalimat singkat sambil memegang perut rampingnya dan matanya sedikit berkaca-kaca.
"bekas luka di perutku ini...,apakah benar bahwa aku melahirkan anak saat koma dan aku hamil karna pemerkosaan dari beberapa laki-laki bar?" mata Luis memerah berkilat marah mendengar kalimat itu,siapakah yang berani mengarang sebuah kisah mengerikan seperti ini dalam keluarganya?,Mr.Napoleon mengenggam kepalan tangan Luis agar tenang,ia menyadari putra sulungnya mulai tersulut emosi.
"mom.....apakah benar?" bibir Lexa mulai bergetar dan suaranya mulai serak nyaris seperti memohon kejujuran,Leon dan Caca saling pandang,memberi kode pada yang lain untuk meninggalkan meja makan saat itu juga kecuali Riana dan Deviz yang siaga di sana bersama Leon dan kedua orangtuanya.
"kemungkinan itu benar kan mom.....? lalu.....apakah salah kalau aku menemukan surat cerai yang sudah di tanda tangani kak Luis adalah salah satu bukti bahwa anak itu memang bukan anaknya kan....,makanya aku kemari,aku ingin mengambil anakku....aku akan membawanya pergi....." Leon menutup wajahnya sesaat lalu menyuruh Caca menuntun Lexa berdiri,Mrs.Queen juga ikut menuntun gadis itu agar kembali ke kamarnya saja.
"mommy akan menjelaskannya di kamar.....,kemarilah.."
"tidak....,aku ingin mendengarnya sekarang" Matanya menatap kearah Luis yang mengusap wajahnya dengan gusar,kepalanya jadi nyeri dan tanpa di sadari oleh siapapun pria itu meraih sebuah garpu ke arah pintu belakang,Leon tak bisa biarkan siang ini menjadi siang merah darah,ia menelfon seseorang di rumah tempat wanita itu agar meningkatkan penjagaan,hingga lengannya sekuat mungkin merampas garpu dan menarik lengan kakaknya duduk di kursi taman.
"stay cool brother.....,jika kau menggila siang ini,kemungkinan Lexa akan benar-benar pergi darimu....!" Leon menekankan intonasi dan suaranya agar Luis tetap tenang dan duduk menenangkan diri.
"kemungkinan itu aku sudah terima.....,aku sudah lelah dengan semua usahaku saat ini....." Luis berujar pelan menekan kepalanya ke bawah di apit oleh kedua lututnya,Leon berbalik ke arah mension mencari sesuatu di kamar kakaknya,ternyata Lexa benar,Luis sudah menyiapkan mengajuan surat cerai sejak dua bulan terakhir,ada harus gadis itu tak bisa mengendalikan diri kemarin,ia terluka oleh pemikirannya sendiri dan juga bukti bahwa Luis akan membuangnya,belum lagi ia telah tahu secara jelas latar belakanganya dari Lea.
"apakah ini adalah saatnya aku menerima karmaku?" ternyata Luis mengikutinya diam-diam dan melihat leon telah menemukan fakta lain di depan matanya.leon tak bisa menjawab,ia kini merasa bahwa kakaknya memiliki kelemahan dalam mengatasi dan menata perasaannya,dan mungkin keputusan kedua orangtua Leon tepat,keduanya harus kembali ke rumah mereka yang penuh misterius itu lalu saling membenahi diri mereka berdua di sana selama 3 bulan.
"aku akan memegang ini dan beranggapan bahwa di saat kau membuat keputusan kemarin,otakmu mungkin sudah tidak waras.....!" Leon mengisi berkas-berkas itu ke dalam aplop coklat lalu meninggalkan Luis di dalam kamar dalam diam.