
Mrs.Queen sedang menyajikan teh panas untuk suaminya yang hari ini bersantai di rumah,saat mendengar suara kesal Leon yang menerima telfon dari Damar.
"aku sudah katakan,jika itu menguntungkan untuk kedua belah sepakati saja.....,jangan katakan kau ingin aku kesana menangani masalah yang seharusnya bisa kau hadapi Damar?!"
Mrs.Queen bergegas mendekati putranya dan mengelus-ngelus punggung Leon yang melirik malaikat kecilnya di box bayi tepat tak jauh dari ayah dan pengasuhnya.sedangkan istrinya sedang demo mogok makan sejak mendengar suaminya akan ke Swiss nanti siang.
"Dad.......mengapa tidak bilang dari awal jadi Ceo itu berat....dan juga jadi ayah untuk dua orang anak sebegini sulit di uangkapkan dengan kata-kata"
keluhan Leon tidak dapat menahan tawa Mr.Aurelius Napoleon,melihat putranya terseok-seok merapat di meja makan dan menopang dagunya di sana sambil menatap ke pintu kamar.
"anak nakal.......anakmu baru satu.......siapa yang satu?"
"Caca......,sikap kekanak-kanakan sungguh luar biasa......"
"buka brankasmu dan kembalikan kameranya jika hal itu bisa menyibukkan dirinya"
"tidak...."
"Daddy tidak mengerti jalan pikiranmu dengan sikap mengekang kebebasan menantuku seperti ini,kamu yang akan kewalahan nak....percayalah ......ada cerminan dirimu dalam sikap Caca.....Daddy dulu selalu mengaturmu dan hasilnya lebih dari 5 tahun kamu......"
"Dad.......Leon......stop....,Caca sepertinya akan turun dari kamar...."
peringatan Mr.Queen benar,menantunya turun dari tangga dengan raut wajah tak bersahabat pada Leon,wanita itu menyapa kedua orangtua Leon dengan sangat ramah dan tentu saja mendapat pelukan hangat dari keduanya sebelum ia melangkah menengok Baby Deuz di box bayi.
Caca menatap putranya yang terlelap setelah sarapan dan mendapat ASI.
"Caca......mommy sudah masakin makanan kesukaanmu.....kemarilah...."
"ummnn aku ingin di masakin Leon mom.....masakan Mommy untuk Daddy saja....."
"baiklah sayang.....kebetulan Dad dan mom akan siap-siap mau bepergian...."
Sang Ayah menuntun istrinya untuk tidak ikut campur lebih jauh lagi urusan anak muda,keduanya diam-diam mengawasi sikap menggemaskan menantu mereka yang merajuk.
"ingin makan apa?"
"aku ingin makan Berner platte"
Leon menarik nafas melirik jam dan mengawasi sekitar ruangan dapur,tak jauh dari meja makan,tepat di ruang tengah Ayah dan ibunya diam2 memberi kode agar putra mereka mengikuti keinginan Caca,sekalipun makanan itu di buat dalam waktu banyak,tapi leon sudah tau itu makanan kesukaan istrinya sejak kecil.sajian isi daging,kentang panggang dan lain-lain.sambil sibuk memasak,diam-diam mata Leon melirik sosok istrinya yang baru kembali dari menengok putra mereka,sudah hampir 7 bulan istrinya tidak merajuk,ia sibuk mengurusi Deuz dan melawan shyndrom yang di alaminya dengan baik,kemajuan lainnya adalah postur tubuhnya lebih berisi dan kini terlihat lebih tinggi dan menggemaskan,berkat Erica dan Ariana serta ibunya yang selalu menemaninya berolahraga,Caca makin menggoda batin Leon yang menelan ludah ingin menyeret istrinya ke kamar saat itu juga,namun ia menahan semua keinginannya karna tahu karakter istrinya saat ini lagi kesal.
"Hellooowwww.....siapa yang ada d dapurr pagi ini yaa?"
suara lemah lembut Caca yang berbincang dengan bayinya di meja makan kini makin meningkatkan semangat Leon lebih cepat2 menyelesaikan kegiatannya di dapur,apalagi putranya membalas dengan celetohan-celetohan bahasa planetnya,saat itu juga ia mencuci tangan dan meraih Pinggul istrinya merapat lalu mengecup lembut keningnya,berpindah ke pipi dan bibir istrinya yang ingin marah karna ia tahu tak jauh dari sana mertuanya masih mengawasi dengan mata berbinar dan bahagia,namun suara David yang baru tiba lebih mengejutkan Leon.
"bisakah kau tidak terlalu pamer,sebegini cemburunya kamu pada Deuzkuu?!"
Deuz langsung mengangkat kedua tangan mungilnya agar David meraih dan menggendongnya,pria tampan itu tentu saja langsung girang dan mendaratkan ciuman-ciuman sayang sambil menggendong Deuz yang memang sangat dekat dengan David.Ariana dan Erica serta Diana melanjutkan langkah mereka ke ruang tengah ketimbang melihat perang mulut yang merupakan rutinitas dua bersaudara itu.
"berikan Deuz padaku....dia bukan putramu!"
"siapa bilang dia putramu??!!,,lihatlah wajahnya sekarang,dia marah...."
Caca mengeleng dengan segera meraih piring sarapan yang di sajikan dan melahap masakannya dalam pengawasan leon sambil terus berbincang dengan David dari meja bar bersama Bayi Deuz yang sudah tertidur dalam gendongannya.
"bisakah kau tidak tiba-tiba memintaku ke Swiss?"
"aku juga baru dapat telfon tadi jam 5,ayolah.....David....aku makin tidak betah di sana jika sendirian.....aku terlalu....tidak bisa jauh dari..."
"dari istrimu...."
"bukan.....dari Deuz...."
"tapi matamu lebih tertuju pada istrimu....."
"dan kau berhenti ikut menatapnya,jika tidak ingin matamu Ku congkell!!!"
"berisik....istriku juga cantik.....dan lebih cerdas dalam hal ranjang....."
"apa maksudmu?"
"apa yang aku tidak tahu.....,,Deuz 2 bulan lagi akan genap setahun dan.....kau hanya bisa habiskan sabun di kamar mandi karna...."
Leon menelan ludah agar tenggorokannya tidak kering mendengar kata-kata David yang masih saja menggodanya padahal sudah tahu fakta di balik itu semua.kedua orangtuanya turun dari kamar dan pamit pergi entah liburan kemana bersama Lea,sedangkan Ariana dan Erica selalu habiskan waktu di danau.
"oh my.....,,lihatlah piyama yang di pakai Caca,,itu desain istriku....kau suka piyamanya atau isi di baliknya?"
"apa kau sedang ingin tidak memiliki lidah?"
Caca masih saja tidak menyadari tatapan Leon yang mengawasinya sebegitu intens,gadis itu memang belum di sentuh lagi sejak melahirkan,kini wanitanya sedang berbincang dengan Diana yang pamit akan kembali ke new york di teras belakang,sambil menata bunga-bunga yang sudah biasa di lakukan bersama ibunya setiap pagi.
"aku tidak ingin melihat Caca sakit lagi....itu saja..."
"apakah dia tahu itu alasannya kamu tidak menyentuhnya?"
"apa perlu aku memberitahunya?"
"tentu saja....dan......bisa saja...Caca berpikiran lain,lihatlah sikapnya....jika kamu jauh pasti berakhir dengan dirinya yang kesal...."
"mengapa aku baru menyadarinya sekarang?"
"itu kebodohanmu yang perlu di perbaiki,,bukankah kalian akan berlibur?"
"seharusnya kami berlibur,tapi Caca tidak ingin pergi keluar negeri sampai virus ini berakhir...."
"dia sungguh wanita yang bijak dan bertanggung jawab....kalian suami istri,tapi kamu yang dominan di sini....aku dengar kau menyembunyikan kameranya yaa..."
"yaa....agar dia benar-benar pulih saja dulu...."
"begitukah?"
"kalau saja bukan Karna hobbynya.....tidak mungkin kau memilikinya saat ini Leon...."
"tolong baringkan Baby Deuz di kamarnya ya.....untuk hari ini saja titip putraku..."
Leon bergegas ke arah teras belakang,namun istrinya tidak di sana lagi,terdengar deru mobil di depan semakin melebarkan langkah Leon bergegas ke depan melewati David yang sedang menggendong Deuz ke kamar.
"David.....apakah caca di depan sekarang?"
"tidak...dia baru saja masuk ke kamar....."
David mengurungkan niat menidurkan ponakannya ke lantai dua,sebagai orang dewasa ia paham kemana saudaranya berpikir.
Ariana dan Erica baru saja masuk dari mengantar Riana di depan mension,dan keduanya cepat-cepat membersihkan tangan agar bisa bebas menemani baby Deuz,karna jika Leon ada di sana,dia tidak akan mengijinkan putranya di bawa bermain,pria dingin itu sangat over protektif pada anaknya.
"hubby.....beruang kutub itu kemana?"
"Erica,telfonlaah Damar bahwa Leon tidak ingin pergi kemanapun sampai Deuz 1 tahun,kecuali di perusahaan pusat...."
"baik....sekalian aku juga ingin berbincang dengan kak Sera....lalu memesan makanan untuk kita ber-5"
David menatap horor langkah Erica yang terburu-buru ke kamar setelah mengecup pipi bayi Deuz yang terjaga dari tidurnya,karna Ariana juga ikut mencium seluruh wajah menggemaskan bayi 8 bulan itu.
"bee......kecup pipiku juga..." tentu saja Ariana langsung terkekeh dan mengigit pipi suaminya karna sangat gemas pada bayi Deuz yang terkekeh melihat adegan itu,hal itu adalah kesempatan Ariana terus mengigit suaminya yang hanya meringis dan mengumpat kesal.
"bonussskuu nanti malam bukan hanya gigitan saja ya bee"
Sedangkan Leon yang mendapati istrinya akan mandi,gadis itu baru saja melepas piyamanya terkejut suaminya masuk dan langsung menyodorkan kamera pada Caca yang terpana pada benda itu jadi makin hangat suasana hari itu.
"aku sudah boleh memegang kameraku lagi beruang kutub?"
"tentu saja sayang......berikan aku pelukan....."
"aku bahagia sekali...terima kasih hubby....."
setelah memeluk Leon sesaat,gadis itu meraih kameranya dan akan beranjak ke arah pintu,dan saat itu pula Leon menahan pinggangnya.
"mau kemana?"
"aku ingin menengok Baby kita hubby...."
"dan ayahnya tidak kamu tengok di sini?"
"hubby ada kak Ariana dan ka Sera loh,kak Erica juga lalu David pasti akan marah mmmpth......"
"beruang kutub kelaparan....."
"tapi hubby.....bayi kita kan..."
"kita punya maid banyak di mension ini dan saat ini David yang di bawah...."
"hubby....aku belum mandi..."
"nanti aku mandikan...."
"hubby.....aku bukan...."
"bukan apa?"
"tidak.....bukan apa-apa......"Leon mendudukkan istrinya di atas westafel dan mengecup keningnya yang merasakan kaki seksi sang istri melingkar dengan erat di pinggulnya yang merapat menekan tubuh istrinya lebih rapat untuk menuntaskan kerinduannya yang telah lama terpendam.
Ariana tertawa sepanjang siang itu bersama Erica saat menjaga Baby Deuz,bayi itu sungguh cerdas dan pandai membuat raut menggemaskan yang keduanya abadikan dengan kamera,David yang berbaring sambil merangkul bayi itupun ikut tertawa.ke 3nya saking sibuk bermain dengan anak Leon,tidak menyadari ada sosok lain yang baru masuk menenteng kotak makanan bersama dua orang maid,seorang pria tak asing di rumah itu,yang selama beberapa tahun hidup dan menetap di Prancis,ia adalah sepupu Leon,merupakan putra tertua keluarga besar Leon,pria itu menatap tajam sosok yang duduk di atas karpet sambil memotret bayi yang saat itu di atas sofa besar bersama pasangan Suami istri bukan lain adalah kerabat dekatnya juga yaitu David dan Ariana.tapi tatapan pria itu kembali pada sosok cantik memukau yang di atas karpet lantai rumah itu.
"Mengapa Leon masih memungutmu?!", Suara yang terdengar tegas dan lantang dan tak asing di telinga David yang bergegas bangun,dan Bayi Deuz segera di raih Ariana berpindah dalam gendongan.
"mengapa kau bisa berkeliaran di sini??!!"
Ariana yang tak suka dengan sikap angkuh dan suara keras itu langsung mengelus-ngelus pundak Deuz berbalik merapat memeluk lehernya,namun bayi itu tidak terkejut,ia hanya ikut menatap sesaat mata pria dewasa yang dari awal menatap penuh intimidasi pada sosok Erica yang saat itu langsung beranjak berdiri dengan tubuh bergetar di sertai airmata yang akan jatuh.
Leon yang baru saja turun dari tangga bersama Caca yang terlihat ikut kesal segera meraih putranya dari Ariana yang beralih menggandeng tangan Erica agar merapat ke pelukannya serta tak segan bertanya.
"siapa anda?,masuk tanpa permisi dan....."
"kak Luis?,jangan bertindak kasar di depan istri dan anakku..."
Sesaat suasana sedikit mencair namun raut pria itu tetap terlihat dingin dengan kemiripan yang dominan dengan wajah Leon,namun sosoknya lebih matang dan dewasa serta kulitnya yang lebih gelap membedakan dari sosok leon.
"Erica adalah bagian dari keluarga kita kak...,dan hal ini nanti kita bahas.....sekarang kak Luis perlu ke kamar saja dulu bersamaku ..Sayang kemarilah..."
Leon tahu kakaknya itu memang sulit menyimpan kepura-puraan,sikapnya itu membuat Caca mengeleng tidak ingin memperkenalkan diri,hanya menatap tajam membuat Luis terpada pada kedua bola mata hazel Caca yang begitu indah namun juga menyimpan bara yang menggetarkan,gadis mungil itu berlalu bersama David dan Ariana.tinggallah Leon dan Luis yang tidak bisa menahan senyum saat menyadari tatapan Caca.
"itukah istrimu?,siapapun tidak ingin pergi darinya jika sudah mengenalnya ya kan....ternyata rumor itu benar......"
"selamat datang di rumah kak,mom dan Dad......dalam perjalanan ke taman bersama Lea...."
"jangan alihkan pembicaraan Leon....kau tak ingin pergi di manapun kan sejak mengenal gadis itu?"
"yaaa.....seharusnya hari ini aku ke Swiss.....tapi hatiku tidak tenang dan pikiranku kacau tak ingin pergi....."