My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
127.UGD



Caca menutup mata sejenak,menarik nafas yang menyesakkan dalam dada,ingin marah,ingin ribut,tapi hati kecilnya tidak akan pernah berbohong bahwa sangat kuatir setiap kali melihat raut pucat,diam dan tidak berdaya dari sosok suaminya.pria dewasa di hadapannya ini tidak akan pernah bicara jika ia sedang sakit atau terluka kecuali ada yang melihat atau terjadi hal seperti saat sekarang ini,tiba-tiba roboh bak kayu mati yang kehabisan tenaga he he🤭


"kemarilah,apakah hubby bisa berjalan ke kamar?," Caca berniat memapah tubuh lelah leon ke kamar pribadi mereka,tapi pria itu berbicara lirih Sambil melirik kasur putri bungsunya,di mana saat ini mereka berada.


"aku ingin di sini.....,Leon memaksa kakinya berdiri dengan sedikit bersandar pada Caca yang menahan kepanikan,jika Leon sakit,ibaratkan mengurus anak keduanya yang diam dan tidak ingin apapun selain tidur,tidak ingin obat apalagi bicara,segala amarah wanita ini lenyap bagai embun di pagi hari,padahal sudah hampir malam,tersisa rasa kuatir dan rasa bersalah telah bertindak sedikit barbar di depan mertuanya,raut wajah Leon seperti anak kecil yang amat terluka dan takut untuk di marahi Lebih lama,persis seperti putra kedua mereka jika sakit,meratapi penderitaan itu dengan rebahan dalam diam.berbeda dengan Deuz yang meminta segera di panggilkan dokter,atau memaksa siapapun untuk membuatnya sembuh,atau kadang terlihat mandiri dengan mencari obat di laci penyimpanan obat.


"berikan selimut dan bantal putriku.....,jika tidak keberatan biarkan aku di sini tidur sendiri..." Leon rebah di atas kasur Zeyna,syukurnya ranjang anak anak mereka Terbilang serba mewah dan terjamin kualitasnya untuk menampung tubuh orang dewasa,dari sikap ini,Caca tau jika suaminya sedang sedih,lelah tapi ada juga gengsi dan hanya ingin mengenang moment2 ia mengurus sosok Zeyna saat masih bayi di kamar ini, ia pergi ke kedepan sebentar berbicara dengan bibi molly salah satu pengasuh dan kepala dapur leon sejak kecil,kini tetap bekerja dan setia pada loen dan Caca yang sudah menganggap beliau sebagai ibu di rumah ini,walau sudah di beri kebebasan untuk pensiun,tapi wanita paruh baya itu masih sering ke rumah mewah ini hanya untuk memastikan mereka sedang baik-baik saja,apalagi Leon telah memberikan tanah dan rumah tidak jauh dari lahan perkebunan David,maka makin seringlah ia kesana.setelah berbincang sambil di pijit agar Caca tidak ikut pegal dalam menangani urusan rumah tangganya ini,ia kembali ke kamar Zeyna memastikan suaminya sudah tidur di bawah pengaruh obat yang menurut resep dokter keluarga.


Caca terjaga di sana tanpa sepengetahuan Leon,menyelimuti,memijit kaki,mengabari dokter bahwa suhu tubuh suaminya sudah sedikit turun,dan tidak lupa mengirim pesan pada salah satu anak buahnya agar memanggil beberapa orang untuk menjaga sekitar mension ,suaminya itu di diagnosa kelelahan dan demam,suhu tubuhnya lumayan hangat,tapi tidak sepanas tadi.Caca di sana semalaman dengan rasa bersalah di saat Leon mengigau mengucapkan kata-kata maaf untuk dirinya dan anak-anak.


"maafkan Daddy....., Casandra,Deuz,Zeus ,Putriku Zeyna.......maafkan ayah kalian ini...."tidak ingin mendengar hal itu,Caca ingin pergi keluar kamar,tapi hatinya tidak tega meninggalkan Leon terbaring sakit,hingga akhirnya ia rebahan di samping menjaga Leon sampai subuh,terjaga saat pria itu memanggilnya dalam mimpi,akhirnya hingga larut malam Caca tidak jadi menemui anak-anak di rumah kakek nenek,ia menelfon ibunya agar mengurus anak-anak dulu,karna harus mengurus suaminya yang sakit,dan menyarankan agar mereka tidak Panik.


Pukul tujuh pagi,caca duduk termenung di meja makan,ia ingin menemui anak-anak dan mengajak mereka kembali di mension,tapi hari ini ia menelfon dan meminta maaf pada Zeyna bahwa ada keperluan mendadak jadi tidak bisa kesana hingga nanti sore,dalam diam yang bingung,di kejutkan dengan suara kaki,Leon sudah bangun dan mencarinya,dengan penampilan dari semalam dan masih terlihat demam,awut awutan.


"Mom .....,ayo kita ke rumah kaca,menjemput anak-anak"


"kamu keras kepala sekali.....lihat dirimu sekarang ,"


"aku ingin mengakhiri semua ini dengan bicara baik-baik bersama mereka..." apa yang ingin di akhiri sih?batin Caca yang mengecek suhu tubuh suaminya,lalu menuntunnya duduk di kursi,lalu menelfon Sera dan Damar,meminta tangan kanan keluarga ini untuk menemui dirinya secara pribadi,sejak masalah Zeyna dan sampai Caca Kembali ke Swiss,sepasang suami istri itu sibuk menangani pekerjaan yang di tinggalkan owner Leon dan juga Caca.


"mau sarapan roti apa bubur atau sup hangat atau mau request makanan lain??" Caca bertanya pada saat menyelimuti punggung Leon dengan selimut yang di bawakan Deuz,putra sulung mereka telah datang dari mension dengan tatapan cemas,tapi ia pergi lagi dari sana dengan membawa sarapan yang di siapkan oleh Caca untuk adik2nya,ia kembali ke rumah kaca,tidak ingin mengganggu kedua orangtuanya yang masih sama-sama perang dingin,apalagi tadi sudah janji pada dua adiknya akan mengajak mereka bermain,pamit dengan mengecup pipi kedua orangtuanya sebelum kembali keluar di pintu belakang ke rumah kakek dan neneknya.wanita yang melahirkan dirinya itu hanya menatap teduh,ia adalah ibu yang cerdas dan juga tegas tak pandang bulu,mungkin karna itulah ayahnya yang dulunya dingin kini lemah dan sakit karna tidak makan dan juga mengejar kemari takut kehilangan,apalagi saat ini ia begitu pintar menyembunyikan sikap kesalnya demi kesembuhan sang ayah.


Leon mengeleng tidak ingin makan,menyadari suara mesin perahu yang membawa putra sulungnya makin menjauh,makin terlihat ketidakpura-puraan Leon menahan sakit,ia ingin rebahan di pangkuan sang istri,tapi raut wajah Caca terlihat serius menyiapkan sarapan sambil menahan airmata,bunyi bel pintu dan sapaan Sera yang bersama Damar dan juga dokter makin membuat wanita itu sibuk di dapur,membiarkan dokter menangani suaminya,hingga menumpahkan airmatanya di pelukan Sera,ya....salah satu orang kepercayaan Leon dan dirinya itu datang dengan niat meringankan beban,mereka berbicara cukup lama hingga Damar berdiri dari duduknya dengan kalimat menenangkan.


"masalah yang dulu sebelum anak-anak kalian ada,bisa kamu atasi dan hadapi ca,masa masalah keluarga seperti ini saja kamu sudah nyerah.....,selesaikan satu persatu,dan aku rasa apa lagi yang perlu di selesaikan? Luis dan Lexa sedang menerima hukuman mereka dari mertuamu,lalu Leon sudah di sini dengan jelas bahwa pelaku penculikan telah di jatuhi hukuman,lalu dia rela kembali lebih awal di sini karna tidak ingin membuatmu makin memikirkan hal hal yang tidak perlu......,kalian sudah kembali di rumah okey.....anak-anak kulihat sedang bermain bersama teman-teman warga di sini....tenanglah mengurus suamimu....." kalimat Damar dan Sera yang menyeka airmata Caca membuat suasana di pagi hari kembali agak tenang,pria yang seumuran Leon itu melangkah ke kamar,tentu saja ia akan bicara hal yang sama pada atasannya itu,tinggalah Sera dan Caca di dapur melanjutkan obrolan dengan membahas kabar masing-masing, 1 tahun hanya Komonikasi lewat handphone membahas pekerjaan,Caca cukup merindukan sosok wanita kuat ini.


"ada bathtub di sini,kau lupa saat berada di luar negeri,ada beberapa perabot yang kalian kirim dan di pasang di rumah ini.....,mandilah....aku akan kembali dengan pakian ganti...." Sera berlari kecil ke ruangan lain,mencari pakian yang ia bawa tadi,sejak dulu wanita itu suka memberikan perhatian kecil pada Caca,karna ia sudah menganggap Caca adiknya.


Di lain sisi,Damar sedang duduk di depan pembaringan menulis beberapa pesan yang di katakan Leon,walaupun sakit,Leon selalu memikirkan tanggung jawabnya,apalgi saat ini musim libur umum,ada beberapa terapan yang Damar harus laksanakan,dokter sudah selesai memberikan resep dan juga pergi dari sana dengan memberikan pesan pada Sera saat berpapasan,bahwa Leon benar-benar drop dan harus istirahat di rumah,jika memaksakan diri,ia bisa berakhir di rumah sakit.


"sampaikan pada nyonya,bahwa Tuan Leon mengalami Demam dan panas tinggi karna kelelahan,ia juga nyeri perut karna asam lambung....paksa dia makan....jangan lupa untuk obatnya di minum...." Sera mengangguk dan melangkah ke kamar,melihat Leon yang memang terlihat pucat di bawah selimut.


"di mana istriku?" Leon bertanya lirih membuat senyum Sera lebar,lalu memberi kode pada Damar agar segera pamit.


"istirahat yang cukup,Caca sedang mandi,dan kami harap kamu tidak melawan apa yang di katakan dokter daripada harus menjadi anggota baru di UGD...."


"kalian mulai cerewet.....aku hanya terlalu lelah,bukan mau mati"


"jangan menganggap sepele asam lambung...." Sera menulis beberapa pesan di kertas,seperti menu menu makanan yang harus di siapkan chief di rumah ini.


"jika sudah selesai,segera ke mobil,aku menunggu di depan sekalian aku ingin berbicara dengan bibi molly.....tadi aku melihatnya di teras membersihkan taman....." Damar beranjak keluar kamar saat melihat Caca masuk dengan membawa sarapan,wanita itu terlihat lebih seger dan manis setelah mandi di mata Leon,tapi hatinya masih terasa sakit mengingat di tinggal dengan emosi waktu di rumah Italia,ia jadi memegang keningnya agar tidak pusing karna otaknya tidak sejalan dengan perasaannya ,saat ini ingin berada di pelukan wanita itu,ingin di tiduri dan mendengar permintaan maaf mungkin,tapi gengsi😆.


Damar dan Sera tersenyum lucu di mobil yang melaju pergi dari mension,kedua suami istri itu tidak pernah capek mengurusi hubungan Caca dan Leon yang terkadang penuh dengan drama gengsi,bikin baper, gengsian,dan juga ngakak.


"demi gengsi,bisa-bisa bos kita masuk UGD ha ha"


"masih calon penghuni UGD he he"