
Caca mengusap perutnya dengan senyuman lega setelah melewati ujian skripsinya dengan baik,sekalipun rasa lapar kini mendera namun suami dan anaknya beberapa langkah dari bangku taman sedang menunggu pesanan pizza.dirinya tak duduk sendirian,ada kedua orangtuanya yang sibuk Vidiocall dengan ibu mertua dan adik iparnya si kecil lea.gadis itu merengek ingin ke Swiss demi bertemu Caca dan terutama Deuz,namanya juga anak-anak tak paham status bibi dan ponakan,apalagi Lea hanya lebih besar 3 tahun kurang dari Deuz. dan tak jauh dari Leon,Erica sang adik sedang cemberut dan masih berusaha membujuk kakaknya itu agar tak mengijinkan David terus menelfon menyuruh Erica kembali ke Italia,kakaknya itu sejak pagi menelfon Erica ,yang kini merapat ke orangtua Caca Karna menyerah pada sikap cuek Leon.
"Mami......,aku tidak ingin kembali ke Italia....tapi kak David menyuruhku kembali karna alasan yang konyol...." Erica terlihat meminta pembelaan pada orangtua Caca yang memilih tak ikut campur,ia telah puas dengan kasih sayang dari kedua orangtuanya sekarang dan juga mertuanya.berbeda dengan Erica yang memang dari awal selalu meminta perhatian,hingga suara ayahnya tiba-tiba terdengar bertanya.
"alasan konyol apa yang kamu maksud nak?" Harry simak dan bertanya.
"kak Ariana ingin aku jadi model busananya,padahal aku kan udah tidak bisa jadi model lagi karna kakiku ini....." Erica bicara sambil bersandar di bahu Victoria yang menyadari keadaan tapi lebih fokus pada cucunya yang sedang kesal saat Leon sibuk menyuapi Caca hingga anak itu merasa tak di perhatikan dan berulang-ulang kali menelan liurnya,Neneknya itu tahu bahwa Leon sedang menguji putranya,sesekali hanya melirik sembunyi-bunyi hingga akhirnya meledak juga amarahnya.
"udah selesai mesra-mesraanya??!!,," Deuz lompat dari bangku taman menatap kesal pada ayahnya yang pura-pura terkejut dan Caca yang hanya melotot heran.
"sayang......apakah Daddy tidak membelikanmu pizza?" Caca tak tahu menahu saking laparnya,dan tadi sempat melihat 3 kotak pizza di tenteng suaminya sambil menggandeng Deuz yang kini mengeluarkan hp dari tas kecilnya lalu menelfon seseorang.
"Hallo Deuz,cucuku yang paling.....tampan....,apa ka...."
suara Kakeknya terputus dengan suara kesal si cucu sulung yang berteriak.
" Nonno.....,bisakah saat ini juga aku ke Italia saja,aku kelaparan di sini.....!!!,tidak ada yang memberiku makan dari pagi......" siapapun di sana sangat terkejut saat Deuz mengadu separah itu pada kakeknya yang di seberang sana menahan tawa.karna tidak ingin cucunya tersinggung,beliau pun berbicara tegas.
"berikan hpmu pada Daddy...." dan Deuz tak melakukan hal itu,malah mengatakan hal lucu lainnya.
"tidak.....Nonno....telfon saja di nomor Daddy,ini hp pemberian Zio Luis,nanti mereka tak mengembalikan padaku....." mendengar hal itu,Leon menggendong putranya yang meronta-ronta,tapi siapa yang lebih kuat di sini?,Deuz di dudukan tepat di samping Caca yang langsung mengecup dan menyuapinya sepotong Pizza.
"lihat di sana ada Sofu dan sobo.....,,mengapa kamu ingin meng adu domba Nonni dan Nonno di Italia? hmmnn,,apakah kamu ingin mereka di sini pergi darimu?"
Leon tak bisa membiarkan putranya selalu mengadu pada ayah dan ibunya di Italia,sedangkan di sini ada mertuanya yang dari awal hanya mendengar namun tak menanggapi dengan serius....,anak itu mengunyah dengan santai lalu menatap wajah serius ayahnya yang berjongkok meminta penjelasan.
"Sofu dan sobo mau kemana?,mereka kan kakek dan nenekku juga....." Deuz bicara polos lalu turun dari bangku kearah Victoria dan Harry yang meraih dan menggendongnya sambil memberinya sebotol air meneral. Leon berdiri dan bersedekap di sana lalu kembali menggoda putranya itu.
"kamu tahu kan kakek dan nenek di sini warga asli Jepang.....dan mereka punya rumah juga di new York mereka akan mengajak Mommy kamu kembali ke Jepang,atau ke New York jika kamu selalu mengadu....."
candaan Leon membuat Caca hanya mengeleng,ia memastikan Deuz akan meradang dan marah,tapi anak itu terlihat memutar bola matanya,lalu mengangkat dagunya angkuh.
"tentu saja aku akan di ajak....,Daddy yang akan di tinggal.....karna pria sejahat Daddy tidak akan bisa mengalahkan anak baik seperti aku!" kali ini Victoria tertawa terbahak- bahak di ikuti Erica dan Caca....,Harry hanya tersenyum,menjaga perasaan Leon yang terlihat kalah kali ini.
"dan jangan lupa aku belum mematikan panggilanku ke Italia....Zio!!.....dengarkan sekarang....Daddy sungguh menyebalkan..." Deuz menyapa kakeknya di panggilan aktif itu lalu menunjukkan layar hpnya di wajah ayahnya yang terkekeh sesaat lalu melotot galak,tapi Victoria langsung mengibas-ngibas telapak tangannya di depan wajah Deuz yang mundur ke arah bangku tempat Caca sibuk dengan pizza di sana.
"honney.....,,anak kita kok sombong dan keras kepala ya?,Leon terlihat tak terima meminta pembelaan pada Caca,istrinya itu hanya mengangkat bahu.
"mungkin ayahnya sekarang lupa diri seberapa angkuh dan sinisnya pada orang lain..." kata-kata Caca membuat Leon terkekeh lalu menikmati potongan pizza sisa dari gigitan putranya yang kini terlihat memperhatikan dengan serius seorang anak laki-laki seusianya tak jauh dari sana.
"hubby.....,Mami papi....aku ke kamar mandi dulu ya...." Caca beranjak berdiri di ikuti Erica yang tak ingin meninggalkan ipar sekaligus sahabatnya itu pergi ke kamar mandi sendirian.sedangkan Leon masih fokus dengan anaknya yang meminta ijin pada Kakek Harry.
"Sofu....,,aku ingin bermain bola...." Deuz yang terlihat serius menunjuk ke arah taman yang rumput di mana seorang anak laki-laki sedang memegang sebuah bola bersama seorang baby sitter,ayah dari istrinya itu langsung menggandeng tangan Deuz kearah taman hingga akhirnya Leon duduk sendirian di bangku,karna ibu mertuanyapun beranjak dari sana menyusul cucu dan suaminya.
Sosok pria jangkung bermata coklat,dia pria terhormat dan sangat Leon kenal sejak menapaki karirnya dulu di dunia fashion karna desakan ibunya,salah satu penerus Tiffany&co yaitu pria ini,istrinya ternyata teman kuliah Caca.
"apakah mataku salah atau itu kau pangeran Leonel?" suara Mark masih saja terdengar lembut jika menyapa Leon yang melangkah sambil mengisi kedua tangannya di dalam kedua kantong celana formal pria Italia ini,Nicola yang baru keluar dari lobipun ikut terkejut melihat sosok pria yang dulu nyaris menyita perhatian para model lain ketika mertuanya mengundang putra bangsawan ternama dari keluarga Yunani itu.namun karakter Leon yang cenderung dingin sungguh menjadi tameng yang sulit di sentuh.
" Leonel?,itu sungguh kau...." sekali lagi Mark meyakinkan dirinya sendiri saat Leon menyambut jabatan tangan mark.pria itu tak bisa melupakan kilau mata Leon yang begitu berkarisma dan Tajam.
"putraku mempertemukan kita Mark.....,apakah dia anak ke dua kalian?" Leon tersenyum menunjuk ke arah Deuz yang sibuk bermain tak jauh dari sana,bersamaan dengan kedatangan Caca bersama Erica yang makin membuat Nicola tak bisa berkata apapun,selama 4 tahun kuliah dirinya mengenal Caca dengan baik di kampus,tapi dirinya baru saat ini mengetahui gadis Asia yang menyukai fotografi ini adalah istri dari seorang miliader ternama.
"oh ia,ini Casandra istriku.....,honney....kenalkan ini Mark dan istrinya Nicola,mereka adalah teman lamaku saat kuliah di new York...." Nicola langsung tersenyum kearah Caca yang ikut terpana lalu saling pelukan.
"Ya Tuhan.....,,karna kita sudah beda jurusan,dan sering kuliah online.....aku tidak mengangka kau telah menikah ca.....,dan anak tampan itu adalah...." Nicola yang terlihat lebih cerewet memuji ketampanan Deuz yang terlihat cepat akrab pada Luke.
"pria introvert....tak kusangka memiliki sisi romantis seperti ini ya sayang..." Mark berbisik pada Nicola sambil melirik Leon yang tersenyum karna pendengarannya masih normal,sedangkan Caca lebih memperhatikan Deuz dan kedua orangtuanya.
"Nama anak kami adalah Luke.....,,kakaknya di rumah,dia pendiam dan yaah sibuk dengan sekolahnya...." Nicola menjelaskan sambil menuntun Caca duduk di atas rumput hijau tak jauh dari anak mereka bermain,sedangkan Leon dan Mark berupaya mendekati putra mereka masing-masing yang tak terima jika pria dewasa mengawasi keduanya.
"Nak....kenalkan,ini Daddy Mark....ayah dari temanmu luke...." Leon menyapa putranya yang tersenyum tulus pada Mark tapi membuang muka pada ayahnya.dan Mark menyadari itu lalu memberi kode agar mereka menyingkir dari sana kearah bangku taman.
"Deuz persis dirimu.....benar-benar sinis ya,tapi pandai memilih teman" Mark berbisik pada Leon yang ternyata berpikiran salah selama ini mengira putranya mirip istrinya.
"dominan,jika anak dan ayah yang satu tipe,mereka akan sering bertengkar karna terlalu memiliki kesamaan karakter dan sifat....." Mark paham hal itu karna anak keduanya nyaris persis dirinya dan cenderung lebih keras kepala.
"istrimu anggun,muda dan cerdas.....,tapi mengapa dia bisa jatuh cinta pada pria tua dan posesif sepertimu?" Mark berbicara lembut tapi tetap saja terdengar realistis bagi Leon yang memandang istrinya sesaat lalu tersenyum menepuk pundak Mark.
"aku tidak begitu introvert lagi saat ini sejak Caca hadir,maksudku.....tanpa dirinya hidupku tidak akan berarti bagi orang lain....kau tahu banyak tentangku bukan.....?" Leon terlihat lebih jujur dan tak mengelak kali ini,Mark salut akan Perubahan ini lalu merangkul bahu si pria posesif ini yang berbisik dengan senyum sinis di bibir tipisnya.
"lain kali jangan memuji istriku,sekalipun di dalam hati,jangan...,dia milikku...." Mark merinding mendengar bisikan itu,apalagi Leon melepas rangkulan Mark lalu berdiri melangkah kearah putranya,tapi ia berhenti berjarak dua langkah lalu berbalik dengan tertawa hingga lesung pipinya terlihat melegakan Mark.
"aku bercanda Mark....!,dia memang Cantik dan anggun....!" Leon berucap lalu mundur meraih bola milik putranya yang sudah berkeringat setelah berlarian bersama luke.
"sudah basah baju kalian,ini masih siang.....saatnya istirahat...,hai Luke,maaf keringatmu sudah banyak...." Leon tak ingin anak-anak itu kelelahan,tapi Deuz tak terima langsung menarik ujung jas ayahnya.
"Daddy....berikan bolanya....aku masih ingin bermain" Leon menekuk satu lututnya agar sejajar dengan Deuz,meraih tisu yang di sodorkan Caca yang ikut menemui Deuz,luke juga di sana sudah di banjiri peluh.
"besok hari Sabtu.....,datanglah di rumah kami,kalian puas bermain di sana.....,kita akan membuat acara syukuran untuk calon adikmu dan kelulusan mommy kamu.....sekarang katakan pada Luke...." Leon berbicara pada Deuz yang awalnya sedang kesal pada ayahnya kini kemarahannya entah menguap kemana,anak itu langsung menerjang ayahnya dengan pelukan.pelukan ini sangat langka beberapa hari ini dan Leon merindukan putranya seperti ini.
"Terima kasih Daddy.....i love you!,luke.....,kita harus bicara...okey.....!" Mark dan Leon terharu saat kedua anak itu sangat antusias membuat perjanjian ingin bermain apa besok.
"kalian tidak bertengkar lagi?,sebuah kemajuan langka.....cucuku memeluk dan mengecup pipi ayahnya...." Harry berbicara lalu menyikut pinggang menantunya yang terlihat masih sulit berkata-kata Karna masih terpana Deuz mengecup pipinya hingga masih membekas dan terasa hangat.
"hubby.....Nicola dan Mark pamit...." Caca membuyarkan lamunan Leon yang memandang Mark lalu Nicola,keduanya pamit setelah menyetujui akan hadir sebagai tamu undangan besok.