My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Ingin Mandi Bersama



"Good morning sweetheart"


Bisikan manis menyambut pagi Brianna hari ini. Gadis itu masih betah memejamkan matanya, menyelam alam mimpi tanpa terganggu dengan sentuhan-sentuhan kecil di tubuhnya.


Sementara itu orang yang berbisik tadi terlihat nyaman memeluk tubuh mungil wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Marvin Xavier, pria itu sudah terjaga sejak 15 menit yang lalu. Seutas senyum terus tersemat di bibirnya menatap wajah polos istrinya yang tertidur. Akibat aktivitas panasnya semalam, Brianna kelelahan dan belum bangun hingga sekarang.


Membayangkan percintaan mereka semalam, hati Marvin kembali membuncah. Ia tidak pernah membayangkan tubuh Brianna akan senikmat itu membuat Marvin tidak ingin berhenti menyentuhnya. Bahkan ia semakin jatuh cinta pada istri polosnya itu.


Marvin menatap punggung Brianna yang polos terpampang jelas di hadapannya, tubuhnya merapat ke tubuh Brianna yang kini membelakanginya. Tangan kekarnya melingkar manis di pinggang Brianna, mengusap lembut kulit perut Brianna tanpa ada penghalang sama sekali. Ia berharap malaikat kecil mereka segera hadir di sana. Marvin tidak sabar ingin menjadi seorang ayah.


Bibir Marvin mendekat mengecupi punggung halus Brianna, di sana ia bisa melihat hasil karyanya tercetak jelas memenuhi leher, pundak dan dada Brianna. Astaga, apa semalam ia sangat liar?


"Engghhh" Brianna menggeliat dalam tidurnya. Matanya mulai terbuka merasa terusik dengan sentuhan-sentuhan Marvin. Belum lagi, cahaya matahari langsung menyambut retina matanya hinga mau tidak mau gadis itu harus bangun.


"Sudah bangun?" Lagi Marvin berbisik. Brianna menoleh kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Marvin. Senyuman cantik langsung menyambut Marvin, pria itu merasa gemas melihatnya, wajahnya langsung mendekat memberikan kecupan manis di kening Brianna.


"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?"


Brianna mengangguk kecil, ya tidurnya sangat nyenyak hingga ia merasa tidurnya kali ini terasa begitu cepat. Pandangan Brianna turun melihat dada telanjang Marvin terpampang jelas di depannya. Sekelebat bayangan aktivitas semalam langsung muncul di ingatan Brianna, wajah Brianna seketika merona jika mengingatnya kembali.


Brianna menarik selimutnya menutupi sebagian wajahnya yang memerah, melihat itu Marvin hanya terkekeh lalu semakin mengeratkan pelukannya.


"Ingat semalam hmm?" Goda Marvin, sambil mengelus punggung telanjang Brianna. Gadis itu baru sadar jika tubuh mereka belum mengenakan sehelai benang pun. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Aishhh jangan menggodaku" Brianna mendorong dada Marvin menjauh lalu bangun dari tidurnya.


"Awww" Brianna meringis merasakan ngilu dan perih di **** *************. Mendengar ringisan istrinya Marvin buru-buru bangun.


"Apa masih sakit?" Tanya Marvin cemas.


"Emm iya sedikit perih" Brianna menggigit bibir bawahnya menahan perih, meremas selimut yang melilit tubuhnya.


"Maaf, apa semalam aku terlalu kasar?" Brianna menundukkan kepalanya dengan wajah memerah kembali, lalu menggeleng pelan.


Marvin beranjak dari ranjang, lalu memakai celana boxer nya yang semalaman tergeletak di atas lantai.


Marvin kembali mendekati Brianna "Aku akan mengobatinya tapi kita harus mandi terlebih dahulu".


Marvin tersenyum lalu menyingkirkan selimut yang membalut tubuh mungil istrinya.


"Apa yang kakak lakukan?" Brianna terkejut sekaligus malu. Marvin terkekeh melihat ekspresi Brianna, dengan cepat Marvin mengangkat tubuh istrinya.


"Aku sudah melihat semuanya sayang, jadi tidak perlu malu"


"Tapi tetap saja ini memalukan" dengus Brianna kesal lalu memukul dada Marvin.


"Oughhh, jangan lakukan itu kau ingin aku menyerang mu lagi seperti semalam hmm?" Goda Marvin menahan tawa. Jujur saja sekarang pun ia sedang menahan diri untuk tidak menyerang Brianna.


"Dasar mesum!" Brianna kembali kesal lengkap dengan wajah meronanya.


"Tapi kau juga menikmatinya kan sayang? Saat melakukannya kau terus mendes...argghh" Marvin memekik Brianna mencubit dadanya sangat keras hingga membekas berwarna merah.


"Turunkan aku!"


"Tidak, kita akan mandi bersama!"


"Heyyy!!!"


Blam!!!


Setelah melakukan ritual mandinya, Marvin langsung memberikan obat pereda nyeri untuk Brianna. Saat ini mereka sedang menikmati sarapan paginya dengan menu yang sangat mewah dan belum pernah Brianna coba. Brianna terlihat cantik dengan balutan dress berwarna biru muda di tubuhnya. Rambutnya yang sedikit basah tergerai indah di bahunya.


"Bagaimana terasa lebih baik sekarang?"


"Umm" Brianna mengangguk sambil mengunyah potongan daging di mulutnya yang penuh.


Marvin tersenyum melihat cara makan Brianna yang terlihat lahap, pasti istrinya itu kelaparan setelah melayaninya semalaman.


"Hari ini kita kemana kakak?" Tanya Brianna setelah menelan kunyahannya.


"Jalan-jalan mengelilingi maldives"


"Whoaa, aku jadi tidak sabar"


"Tapi apa kau baik-baik saja? Bukannya tadi pagi kau kesulitan berjalan sayang?"


Blushh


Lagi wajah Brianna merona, ia kembali teringat dengan perbuatan mereka semalam, hingga dirinya kesulitan berjalan.


"Kakak sudah memberikan obat itu, jadi tidak masalah" cicit Brianna malu.


"Jangan dipaksakan jika masih sakit, kita bisa pergi besok pagi"


"Tidak aku ingin sekarang saja, rasanya akan membosankan jika diam di kamar terus"


"Baiklah, habiskan sarapan mu setelah ini kita berangkat".


Banyak tempat yang mereka kunjungi hari ini, seperti pantai, wisata dalam laut, dan juga tempat bersejarah. Senyuman bahagia tidak pernah luntur di wajah keduanya. Berjalan saling bergandengan tangan tidak pernah mereka lewati. Banyak orang-orang yang merasa iri dengan pasangan manis Marvin dan Brianna ini.


Tapi terkadang Brianna merasa risih dengan tatapan orang-orang padanya. Bahkan tidak sedikit pria yang menatap kagum ke arahnya memuji kecantikan Brianna yang alami, tentu saja Marvin kesal dan ingin mencongkel bola mata pria yang sudah lancang mengagumi istrinya. Begitu pun sebaliknya, banyak wanita turis asing yang menatap takjub pada Marvin bahkan ada yang terang-terangan menggoda pria itu.


"Kakak wanita-wanita itu terus menatapmu dari tadi" Brianna mendengus, baru kali ini ia merasa kesal melihat ada wanita yang terus menatap suaminya penuh minat. Saat ini mereka sedang berjalan di sepanjang pesisir pantai.


"Cemburu hmm?" Goda Marvin.


"Ckk dia seperti ingin memakan kakak"


Marvin terbahak mendengarnya, di rangkulnya tubuh mungil itu lalu mendaratkan beberapa kecupan di pipi gadisnya.


"Biarkan saja, mungkin mereka baru pertama kali melihat orang tampan" ucap Marvin percaya diri diiringi kekehan kecil.


"Apa kakak tidak tergoda? Mereka jauh lebih cantik dan juga...sexy"


"Kau jauh lebih menggoda sayang"


"Aishh jangan berbohong kakak"


"Aku berkata jujur, kau istriku jadi sudah sepantasnya aku lebih tertarik padamu dibanding wanita-wanita itu"


Brianna menghentikan langkahnya lalu menatap Marvin yang kini tersenyum padanya. Hatinya tiba-tiba menghangat begitupun dengan wajahnya yang berubah merona.


Tanpa di duga Brianna menyentuh kedua pipi Marvin lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir tebal Marvin.


"Terimakasih, aku mencintai kakak"


Detik berikutnya Brianna langsung berlari meninggalkan Marvin yang terbengong dengan wajah bodoh. Sebuah sentuhan kecil yang manis berhasil membuat jantung Marvin berdebar tak karuan.