
Hari sudah berganti, setelah kemarin Brianna menunggu Marvin di ruang makan, kini giliran Marvin yang berganti posisi. Marvin menunggu Brianna sarapan dengan perasaan was-was. Takut jika gadisnya menghindarinya lagi sama seperti yang ia lakukan pada gadis itu beberapa hari yang lalu.
Tak berselang lama, bunyi langkah kaki terdengar menuruni tangga. Marvin buru-buru berdiri dari kursinya setelah melihat siluet tubuh Brianna yang hendak memasuki dapur.
Niatnya untuk mengambil air minum harus ia urungkan manakala Brianna melihat sosok Marvin yang sedang berdiri menyambutnya. Brianna terdiam di ambang pintu dapur, dengan raut wajah datarnya gadis itu segera memutar tubuhnya, berjalan cepat ke arah pintu utama.
Marvin tidak tinggal diam, pria itu langsung mengejar Brianna sebelum gadis itu pergi.
"Anna tunggu!"
Marvin mencekal tangan Brianna dan langsung dilempari tatapan tajam oleh Brianna. Sudah 2 hari Marvin menerima tatapan seperti itu, gadisnya masih marah.
"Kita harus bicara"
"Aku sudah terlambat Tuan Marvin"
Brianna melepas genggaman tangan Marvin lalu berlari keluar rumah. Bukannya masuk mobil, Brianna justru melewati James yang baru saja mengeluarkan mobil Marvin.
"Brianna kau mau kemana?" Teriak James.
"Kakak tidak perlu mengantarku, aku akan naik bus!"
Mata Marvin maupun James membulat saat mendengar perkataan gadis itu.
Naik bus? Oh yang benar saja, selama Brianna sekolah gadis itu belum pernah sekali pun pergi menaiki bus. Marvin selalu melarangnya.
Marvin dengan cepat memasuki mobilnya untuk menyusul Brianna. Ia tidak akan pernah membiarkan gadisnya pergi menaiki bus.
Brianna berjalan menuju halte terdekat, sementara itu mobil Marvin sudah melaju di belakang Brianna.
Tiin tiinn tiiin!
Bunyi klakson mengusik pendengaran Brianna. Ia melirik malas ke arah Marvin yang membuka kaca mobilnya.
"Brianna Carissa masuk!"
"Tidak!" Jawab Brianna ketus sambil mempercepat langkahnya.
"Aku tidak memberi ijin untukmu naik bus, cepat masuk!"
Brianna tetap tidak menurut wajahnya semakin di tekuk ketika Marvin terus mengikutinya. Kesal karena Brianna mengabaikannya, Marvin turun dari mobilnya lalu menarik tangan Brianna bahkan kali ini dengan paksaan.
"Lepaskan aku Tuan Marvin!" Teriak Brianna sambil memukuli lengan Marvin.
Marvin tidak menggubris, bibirnya terkatup rapat menandakan jika pria itu sangat kesal. Marvin benci mendengar Brianna memanggilnya dengan embel-embel Tuan, itu mengingatkan Marvin ketika Brianna masih menjadi maid nya.
Brianna berontak dalam cengkraman tangan Marvin, hingga tangannya terasa perih.
Marvin mendorong tubuh Brianna masuk ke dalam mobil. Kali ini Brianna menyerah, sekeras apapun ia memberontak dirinya pasti akan kalah.
Kini keduanya saling diam, Marvin mengatur nafasnya yang sedikit memburu akibat emosi yang dipancing oleh sang kekasih. Marvin memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan emosinya, lalu menatap gadisnya.
"Maafkan aku" Marvin mulai membuka suara. Nada suaranya kini terdengar begitu lirih penuh rasa bersalah. Namun Brianna diam tak mau menatap Marvin.
"Kau harus mendengarkan penjelasan ku"
Brianna tersenyum getir, gadis itu memandang keluar jendela tanpa mempedulikan Marvin.
Tak lama kemudian ia merasakan tangannya digenggam, refleks Brianna menatap genggaman tersebut dan melepasnya.
"Brianna ku mohon".
"Aku sudah terlambat ke sekolah".
"Ku mohon dengarkan penjelasan ku dulu sebentar saja, kau tidak akan di hukum walaupun terlambat"
"Kenapa aku harus mendengarkan kakak?"
"Karena kau benar-benar salah paham"
Brianna menghela nafasnya, lalu menatap Marvin.
"Lalu bagaimana dengan kakak? Apa masalah di perpustakaan kemarin kakak mau mendengar penjelasanku?"
Skak mat!
Ini seperti pukulan keras bagi Marvin. Marvin terdiam menatap Brianna menyesal.
"Tidak mau kan? Kakak menghindari ku beberapa hari di saat aku ingin menjelaskan semuanya. Aku selalu menunggumu pulang bekerja hingga tertidur, tapi kakak tetap saja mengabaikan aku.
"Apa kesalahanku begitu fatal hingga kakak tidak mau memaafkan aku?"
"Brianna aku tidak bermaksud..."
"Aku tau aku salah, tapi sikap diam kakak benar-benar menyiksaku. Sekarang bagaimana rasanya di abaikan? Sakit bukan?"
Hati Marvin tertohok mendengarnya, perkataan Brianna seperti menamparnya. Ia sadar sikapnya kemarin benar-benar keterlaluan. Apakah ini ajang balas dendam? Ah tidak dirinya memang pantas mendapatkannya. Sekarang Marvin merasakan apa yang Brianna rasakan.
Ia kembali tersenyum getir menatap Marvin "Sekarang semakin jelas mengapa akhir-akhir ini kakak menjauh, karena Steffy sedang dekat denganmu. Benar seperti itu? Aku tidak menyangka ternyata pertemuan di pantai waktu itu membuat kalian saling mengenal"
"Tidak Anna, tidak seperti itu! Aku dan Steffy..."
"Jika kakak memiliki hubungan dengannya, aku tidak masalah. Detik ini juga aku akan mundur".
Brianna membuka pintu mobil Marvin dengan cepat, menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat. Marvin panik bukan main, bukan karena Brianna menaiki taksi melainkan kalimat terakhir gadis itu yang nyaris merebut paksa oksigennya.
"Arghhhh sial!!!!!"
Marvin berteriak menendang badan mobilnya, ia tidak berhasil menahan Brianna. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah membiarkan Brianna pergi darinya. Sikapnya kemarin benar-benar sangat fatal.