My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Ingin Melihat Calon Menantu



Brianna berjalan keluar dari gedung sekolah dengan langkah gontai. Suasana hatinya memburuk akibat pertengkarannya dengan Steffy. Ucapan gadis itu benar-benar menyinggung perasaannya dan juga Nina. Perlahan-lahan ia mulai mengerti bagaimana watak-watak teman sekelasnya, ya walaupun tidak seluruhnya tapi Brianna bisa menyimpulkan jika hampir seluruh teman sekelasnya menjunjung tinggi status sosial.


"Brianna!!"


Gadis itu mendongakkan wajahnya saat melihat Marvin tengah berdiri di antara pintu gerbang sekolah. Senyuman pria itu tampak mengembang saat melihat sosok gadisnya yang sejak setengah jam lalu ia tunggu.


"Kak..." Brianna berlari kecil menghampiri Marvin. Pria itu benar-benar melakukan janjinya untuk mengantar jemput kekasihnya.


"Kakak sejak kapan disini?"


"Emm setengah jam yang lalu. Kenapa lama sekali di dalam?"


"Maaf tadi ada piket kelas" jawab Brianna tak bersemangat. Marvin sudah memperhatikan Brianna dari jauh, ekspresi gadis itu tidak seceria biasanya.


"Kau tampak murung. Apa terjadi sesuatu?"


Brianna menggeleng kecil dengan senyuman yang sedikit di paksakan.


"Aku hanya sedikit lelah"


Brianna tidak mungkin menceritkan yang sebenarnya pada Marvin, ia yakin Marvin pasti akan marah besar mengingat bagaimana protektif nya pria itu. Biarlah ia menghadapinya sendiri, sudah syukur ia disekolahkan oleh Marvin. Jadi untuk saat ini ia tidak akan mengeluhkan apapun pada Marvin.


"Kita pergi makan dulu oke?" Tawar Marvin dan dibalas anggukan pelan oleh Brianna. Keduanya berjalan menuju sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.


"Siapa pria itu?"


"Dia pria yang aku lihat saat hari pertama gadis itu ke sekolah"


"Apa pria tampan itu kekasihnya?"


"Aku rasa bukan, sepertinya itu majikannya?"


"Apa???"


#


Marvin menatap Brianna yang kini sedang melahap satu cup ice cream dengan porsi besar di tangannya. Ia senang karena saat ini wajah Brianna tidak semurung tadi, rupanya ice cream bisa mengembalikann mood gadis itu. Keputusannya membawa Brianna ke kedai ice cream ternyata sangatlah tepat. Marvin bisa melihat senyuman cantik Brianna kembali.


"Mau?" Brianna menyodorkan satu sendok ice cream ke mulut Marvin. Dengan senang hati pria itu melahapnya tanpa penolakan.


"Bagaimana rasanya?"


"Sangat enak, pantas saja sedari tadi bibirmu terus tersenyum." Marvin mengacak rambut Brianna gemas.


"Ini ice cream terenak yang pernah aku makan"


"Kalau begitu aku akan membelinya lagi untuk stock di rumah"


"Tidak perlu. Kurasa ini sudah cukup, lagipula harganya pasti mahal" cicit Brianna pelan.


Marvin terkekeh mendengarnya, bahkan ia rela menghabiskan uangnya jika memang ice cream itu bisa membuat Brianna tersenyum. Senyuman gadis itu adalah salah satu sumber kebahagiaannya.


"Seharusnya kakak tidak perlu melakukan banyak hal untukku, sekalipun aku kekasihmu pada akhirnya orang-orang akan tetap menghinaku"


Ucapan Steffy benar-benar memberikan efek besar pada cara berpikir Brianna. Ini seperti sebuah tamparan untuknya.


Drrttt Drrttt...


Deringan ponsel Marvin berhasil menyadarkan Brianna. Ia tidak tahu siapa orang yang menghubungi Marvin, yang jelas Brianna bisa menangkap raut tegang dari wajah tampan kekasihnya itu.


"Tunggu sebentar, aku angkat telepon dulu" Marvin beranjak dari duduknya lalu pergi menjauh dari Brianna.


#


"Hallo, ada apa ma?"


"Marvin kau dimana sekarang? Mama sudah tiba di rumah. Cepatlah pulang"


"A.. apa di rumah?" Marvin terlihat sangat terkejut, masalahnya sang mama tidak memberitahunya lebih dulu.


"Apa maksud pertanyaanmu itu? Kau tidak suka mama pulang?"


"Bukan seperti itu. Aku hanya terkejut, kenapa tidak mengabariku lebih dulu?"


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat calon menantuku"


Deg!!


Tubuh Marvin menegang begitu mendengar kata "menantu" dari mulut mamanya.


"Bukankah kau bilang sudah memiliki wanita pilihanmu? Jadi cepat kenalkan wanita itu pada mama!"


Marvin mengehela nafas sejenak, diliriknya Brianna yang masih betah melahap ice creamnya. Rasa khawatir mulai menjalar, tiba-tiba ia takut sang mama tidak menyukai Brianna sebagai kekasihnya. Mengingat Brianna hanyalah anak dari seorang pelayan di rumahnya. Apa reaksinya nanti?


"Marvin Xavier kau masih disana?"


"Ma, aku tutup dulu teleponnya. Aku akan segera pulang"


Setelah menutup teleponnya, ia segera menghampiri Brianna. Rupanya gadis itu sudah menghabiskan ice creamnya.


"Sudah selesai?"


"Umm"


"Kita pulang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"


"Siapa?" Tanya Brianna dengan alis berkerut.


"Mamaku"