My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Cemburu Pada Anjing



Marvin Xavier dan Brianna Carissa baru saja menyelesaikan kencan mereka di atas ranjang. Marvin menjatuhkan tubuhnya di sisi Brianna dengan nafas terengah, pria itu baru saja mendapatkan puncak kenikmatannya bersama sang istri. Keringat sudah membasahi tubuh mereka dengan kondisi tubuh yang sama-sama polos.


"Terima kasih sayang" Marvin mengecup kening Brianna lama, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Aktivitas panas mereka tidak berlangsung lama, mengingat Brianna saat ini sedang hamil. Marvin tidak ingin menyakiti janin yang ada di perut Brianna, untuk itu Marvin harus bisa menahan gairahnya agar Brianna tidak terlalu kelelahan saat melayaninya.


Brianna melesak masuk pada tubuh Marvin, memeluk tubuh polos suaminya dengan mata terpejam. Kentara sekali jika Brianna kelelahan dan matanya mulai mengantuk.


"Lelah?" Tanya Marvin sambil mengelus lengan Brianna yang melingkar di perutnya. Brianna mengangguk kecil dengan mata setengah terpejam.


"Apa aku terlalu kasar tadi?"


Brianna mendongak menatap wajah tampan Marvin, walaupun matanya sudah mengantuk Brianna berusaha menanggapi obrolan suaminya. Bibirnya melengkung ke atas menampilkan senyuman cantik favorit Marvin "Kakak melakukannya dengan sangat lembut" jawabnya jujur lalu kembali menenggelamkan wajahnya di dada Marvin. Hembusan nafasnya menggelitik kulit dada Marvin membuat pria itu menahan gairahnya yang selalu mudah terpancing.


"Tahan Marvin Xavier, Istrimu tidak boleh kelelahan" batin Marvin.


"Sekarang tidurlah"


#


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Marvin terbangun setelah tertidur selama kurang lebih dua jam. Namun ia terkejut saat tidak mendapati sang istri di sampingnya. Kemana perginya Brianna?


Marvin bangun mengambil kaos dan celana trainingnya yang teronggok begitu saja di lantai, memakainya dengan cepat lalu pergi mencari Brianna.


Marvin tidak menemukan Brianna di toilet kamarnya, begitu juga ruangan khusus pakaian mereka. Hati Marvin mulai cemas, ia langsung turun ke lantai bawah berharap istrinya ada di sana. Namun hasilnya tetap sama, istri kecilnya itu tidak ada.


"Sayang kau dimana?" Marvin berteriak memanggil Brianna. Suasana rumah terlihat sepi dan gelap pertanda tidak ada lagi aktivitas di rumahnya. Mamanya pasti sudah tidur begitu pun dengan mama Brianna.


Marvin berjalan mengitari seluruh ruangan di rumahnya, hasilnya tetap sama istrinya tidak ada di manapun. Jika Brianna membutuhkan sesuatu, biasanya Brianna akan membangunkannya tapi kali ini gadis itu menghilang begitu saja.


"Astaga Brianna Carissa, jangan membuatku cemas" Marvin mulai tidak tenang. Ia berjalan menuju pintu keluar, dan alisnya menyerngit saat pintu tersebut tidak terkunci. Firasatnya seketika merasakan jika Brianna berada di luar.


Dugaan Marvin ternyata benar, Ia berhasil menemukan istrinya yang kini tengah berjongkok di depan kandang milik Murphy. Apa yang di lakukan Brianna di sana?


Marvin menghela nafas lega, lalu mendekati Brianna yang masih betah di posisinya.


"Sayang"


Brianna seketika menoleh begitu mendengar suara Marvin "Apa yang kau lakukan di sini hah? Ini sudah malam, udara sangat dingin. Astaga kemana jaket mu?" Marvin mulai mengomel apalagi saat ini Brianna hanya memakai piyama tipis yang sempat dipakainya tadi sebelum mereka bercinta.


"Kakak aku hanya ingin melihat Murphy" Brianna terlihat tidak peduli dengan omelan Marvin, ia hanya sibuk memperhatikan anjing berbulu lebat itu yang sedang tertidur di dalam kandangnya. Sesekali tangannya mengelus kepala anjing tersebut tanpa ada rasa takut. Entah kenapa begitu ia terbangun tadi, Brianna tiba-tiba merindukan anjing itu dan ingin melihatnya.


Brianna memang sudah tidak takut lagi pada Murphy, anjing itu sudah menjadi teman Brianna dikala dirinya bosan.


"Tapi ini sudah malam kau bisa masuk angin, lebih baik kita masuk. Kau bisa bermain dengannya besok pagi".


"Tidak mau, aku masih ingin di sini. Kakak masuk saja lebih dulu nanti aku menyusul"


"Masuk Brianna Xavier"


"Nanti saja Kak!" Brianna mulai kesal, bahkan Murphy sampai terbangun mendengar kekesalan majikannya tersebut.


Marvin menghela nafasnya kasar, Brianna mulai keras kepala dan itu sangatlah menjengkelkan. Pria itu harus sabar menghadapi wanita yang tengah berbadan dua itu. Kesabarannya benar-benar di uji.


"Masuk sayang" sekarang nada suara Marvin jauh lebih lembut, berusaha membujuk sang istri agar kembali ke rumah. Namun Brianna tidak menggubris, gadis itu masih setia mengelus tubuh Murphy yang besar. Tiba-tiba saja Brianna tertarik ingin memeluk anjing itu, apalagi bulunya lembut pasti terasa nyaman saat di peluk.


"Sayang ayolah, kau bisa membuat anak kita kedinginan"


"Maaf kak aku lupa" Brianna akhirnya berdiri lalu beralih mengelus perutnya "Maafkan Mama sayang" cicitnya pelan. Marvin tersenyum melihatnya lalu merangkul tubuh Brianna.


"Sekarang kita masuk dan tidur"


"Tunggu dulu!"


"Oh Tuhan apalagi sekarang?" batin Marvin was-was.


"Kak, aku ingin tidur dengan Murphy"


"APA?!"


"Ajak Murphy ke kamar kita kak, aku ingin memeluknya saat tidur"


"Tidak!"


"Ayolah kak" Brianna mulai merengek, tangannya menarik-narik ujung kaos yang di kenakan Marvin.


"Untuk apa membawanya ke kamar, tempat tidurnya di sini Brianna Xavier"


"Tapi aku ingin memeluknya kak, bulunya sangat lebat pasti terasa hangat saat di peluk"


Marvin mengacak rambutnya kasar, melampiaskan kejengkelannya di sana "Kau bisa memelukku, tubuhku jauh lebih hangat di banding anjing itu!" Marvin melirik anjingnya dengan sebal, sepertinya pria itu mulai cemburu pada anjingnya sendiri.


"Masuklah"


"Bawa Murphy ke kamar kita kak, ayolah"


"Tidak sayang"


"Kakak jahat! Ini keinginan baby Xavier!"


Keinginan baby Xavier? Marvin mengerjap, apa itu tandanya Brianna sedang mengidam? Astaga Marvin baru menyadarinya sekarang.


"Kenapa cara mengidam mu aneh sekali, mintalah hal-hal yang wajar sayang"


"Jadi Kakak keberatan dengan permintaan anak kita?" Mata Brianna mulai berkaca-kaca, ingat hati seorang wanita hamil sangat sensitif.


"Bu..bukan seperti itu, tapi..." Marvin mulai gelagapan, lagi-lagi pria itu mengahadapi situasi seperti ini.


"Aku hanya ingin tidur dengan Murphy, itu saja hiks" Brianna mulai menangis, membuat Marvin kalang kabut.


"Astaga baiklah baiklah. Kita bawa Murphy ke kamar!" Marvin akhirnya menyerah, wajah Brianna langsung berubah sumeringah. Marvin mendelik kesal ke arah anjingnya yang kini menatapnya seolah-olah mengejeknya. Benar-benar menyebalkan.


#


Akhirnya Marvin harus berbagi ranjang king sizenya bersama Murphy. Anjing itu kini berbaring di tengah membatasi dirinya dengan Brianna Carissa. Gadis itu lebih memilih memeluk anjing itu di banding dirinya. Astaga! Ini benar-benar konyol, ini pertama kalinya Marvin cemburu pada anjingnya sendiri dan ingin sekali menendang anjing kesayangannya tersebut keluar dari kamarnya.


"Ahhh lembutnya, Murphy ayo tidur" Brianna benar-benar mengabaikan Marvin. Bahkan gadis itu terang-terangan menciumi Murphy tanpa mau berbagi ciumannya pada Marvin.


Pria itu berbalik memunggungi Brianna, menarik selimutnya dengan kasar layaknya anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya. Marvin benar-benar kesal, jika saja hal itu bukan karena mengidam ia bersumpah akan menendang anjing itu keluar dari kamarnya.