
"Nah ini dia makanannya" Elsa datang meletakkan nampan makanan yang berisi mashed potato, sup dan salad tersebut di depan Brianna.
"Terimakasih. Maaf merepotkanmu."
"Tidak perlu sungkan pada kami, bukankah sekarang kita teman? Iya kan Steffy?"
"Iya Elsa benar, kita adalah teman" balas Steffy.
Brianna mengangguk mengerti, akan tetapi ia merasa tidak nyaman berada di antara mereka bertiga. Ia lebih nyaman bersama Nana. Entahlah aura ketiga gadis itu sangat berbeda.
Banyak hal yang mereka bicarakan selama di kantin. Kecuali Brianna, gadis itu lebih banyak diam, tidak seperti saat bersama Nana. Sedari tadi Steffy, Elsa, dan Jessi terus membicarakan topik-topik yang tidak ia mengerti, seperti membahas fashion, make up, ataupun hal-hal yang sering dilakukan oleh orang-orang kaya.
Brianna sama sekali tidak mengerti hal itu, dirinya hanya gadis kampung yang jauh dari kata modern.
"Brianna kenapa kau diam saja? Apa kau bosan bergabung dengan kami?" Tanya Steffy.
"Ah ti..tidak hanya saja, aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan" Brianna mengusap tengkuknya malu. Hal tersebut menimbulkan reaksi tanda tanya pada gadis-gadis itu. Mereka berpikir apakah Brianna sangat polos atau bodoh?
Dilihat dari penampilannya, Brianna terlihat seperti anak orang kaya. Pada saat Brianna masuk ke dalam kelas, mereka bertiga langsung melihat penampilan Brianna. Mereka tahu tas dan juga sepatu yang di kenakan Brianna adalah barang branded yang jarang sekali beredar di pasaran alias limited edition!
Mereka hafal betul soal fashion, jadi mereka merasa heran jika Brianna tidak mengerti soal fashion.
"Brianna, aku ingin meminta nomor ponselmu. Bolehkah?"
"Nomor ponsel?"
"Ya, agar kami bisa lebih mudah menghubungimu"
"Ma.. maaf tapi aku tidak memiliki ponsel"
Uhukkk!!!
Steffy yang saat itu sedang meminum jusnya langsung tersedak mendengarnya.
"Oh yang benar saja?" Pekiknya tak percaya. "Di era millenial seperti ini masih ada orang yang tidak punya handphone?" Batin Steffy.
"Kau tidak bercanda kan? Kau ini hidup di jaman apa hah?" Elsa langsung menyikut lengan Steffy, ucapan gadis itu bisa saja menyakiti Brianna namun reaksi yang Brianna berikan justru wajah polosnya.
"Kau yakin dia anak orang kaya?" Bisik Jessi pada Elsa.
"Entahlah, awalnya aku begitu yakin. Saat pagi tadi aku melihatmya di antar oleh seorang pria tampan kaya raya. Mereka menaiki mobil sport yang selama ini ayahku inginkan."
"Benarkah???"
"Tentu, kau ingin bertanya apa?"
"Apa pekerjaan orang tuamu?"
Brianna terdiam, kenapa tiba-tiba Steffy menanyakan pekerjaan orang tuanya?
"Ayahmu pasti seorang pengusaha kan?" Tebak Jessi.
"Ayahku sudah lama meninggal, dan beliau hanya seorang security" jawabnya jujur. Gadis itu tidak tahu bahwa di dalam hati, ketiga teman baru nya itu sedang mencemooh dirinya. Ini bukanlah ekspetasi mereka.
"Lalu pekerjaan ibumu?"
"Ibuku seorang pelayan" lagi Brianna yang polos menjawabnya dengan begitu jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. Brianna merasa tidak malu dengan pekerjaan orang tuanya, yang ada justru ia bangga karena mereka sudah susah payah membesarkannya, terutama sang Ibu.
"Ckk kita mengincar orang yang salah" bisik Jessi pada Fany.
"Kalau begitu dari mana kau mendapatkan tas dan sepatu mahal yang kau pakai tadi?"
"Apa???"
"Kami tahu outfit yang kau gunakan itu mahal Brianna Carissa. Jadi siapa yang memberikan semua itu, melihat pekerjaan orang tuamu saja aku tidak yakin itu pemberian ibumu" nada bicara Steffy sudah mulai berbeda, tidak seramah tadi. Ada nada meremehkan disana membuat Brianna semakin tidak nyaman.
Brianna tidak tahu jika tas dan sepatu yang di berikan Marvin memiliki harga yang fantastis. Brianna hanya menerimanya tanpa mengetahui harganya.
"Apakah itu semua penting untuk kalian?" Brianna mulai merasa tersinggung dengan ucapan Fany tadi, gadis itu seperti merendahkan pekerjaan kedua orangtuanya.
"Begini Brianna kami hanya penasaran, kau harus tahu kami ini pecinta fashion jadi wajar saja jika kami menanyakan hal itu."
"Tapi kurasa ini sudah cukup, aku harus kembali ke kelas"
Brianna beranjak dari tempatnya, rasanya aura disana terasa begitu panas hingga Brianna tidak sanggup berlama-lama disana. Brianna ingin menemui Nina.
"Cihhh dia hanya anak pembantu"
"Kalau begitu gadis itu tidak jauh berbeda dengan gadis burung hantu itu"
"Mungkin saja tasnya itu di berikan oleh Tuannya yang kaya raya" tebak Elsa.
"Astaga!!! Jangan-jangan pria yang mengantarnya tadi adalah Tuannya?"
"Kita harus mencari tahu. Kurasa ini akan menarik, gadis itu bisa jadi mainan baru untuk kita" Steffy tersenyum menyeringai.