My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Biarkan Dia Tidur Di Kamarku



Yasmine terlihat panik ketika Brianna tidak kunjung kembali ke paviliun. Ini sudah tengah malam akan tetapi Brianna tak kunjung kembali. Yasmine sudah menanyakan hampir ke semua pelayan, akan tetapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Brianna.


Yasmine tentu saja tidak bisa tinggal diam, wanita itu mencoba mencari putrinya ke sekeliling rumah utama namun tidak ada hasil.


"Bibi Yasmine!"


"Mia bagaimana apa Brianna ada?"


"Bibi aku sudah 2 kali berkeliling mengitari rumah utama, tetapi Brianna tidak ada disana" ucap Mia sambil menyeka keringatnya, berkeliling di rumah Marvin memang lumayan menguras energinya.


"Kau sudah mengecek seluruh ruangan?"


"Emmm,, sebenarnya ada dua ruangan yang tidak aku cek, dan Tuan Marvin melarang kami untuk masuk sembarangan"


"Ruangan mana?"


"Kamar Tuan Marvin dan ruang kerjanya"


"Apa jangan-jangan Brianna bersama Tuan Marvin?"


Hati Yasmine mulai was-was, jika benar Brianna dengan Marvin, kenapa putrinya itu tidak kunjung kembali? Padahal jam kerjanya sudah habis, seharusnya dari jam 9 malam semua pelayan kembali ke pavilun.


Tidak hanya Yasmine yang merasa khawatir, Mia pun merasakan hal yang sama.


"Bi lebih baik kita ke kamar Tuan Marvin saja, entah kenapa aku merasa yakin Brianna berada disana sekarang"


Yasmine mengangguk setuju, mereka pun akhirnya pergi menuju lantai atas. Ruang kerja Marvin adalah tempat pertama yang mereka datangi.


"Bibi saja yang mengetuk"


Tanpa berpikir panjang Yasmine langsung mengetuk pintu ruangan tersebut. Namun setelah beberapa kali di ketuk tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.


Akhirnya dengan ragu Yasmine membukanya, dan hasilnya adalah


Kosong!


Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana, membuat bahu Yasmine melemas.


"Putriku juga tidak ada disini Mia" ucap Yasmine kian khawatir.


"Masih ada kamar Tuan Marvin, aku yakin Brianna ada disana. Karena tidak mungkin Brianna keluar dari lingkungan rumah Marvin, Brianna tidak akan berani kaluar sendirian"


"Kau saja Mia yang mengetuk pintunya"


"Bibi kan lebih tua dariku jadi lebih baik bibi saja yang melakukannya" jawab Mia beralasan.


"Ckk kau ini" akhirnya mau tidak mau Yasmine kembali yang melakukannya. Jantungnya berdegup cepat saat pintu tersebut tak kunjung di buka.


"Mia, apa tidak apa-apa kita datang ke kamar Tuan Marvin? Aku takut kita mengganggunya"


"Astaga bi! Brianna ada didalam, bagaimana jika Tuan Marvin melakukan hal yang buruk pada Brianna".


"Mia!!! Jangan membuatku semakin khawatir"


Yasmine dan Mia terkesiap ketika Marvin tiba-tiba muncul di balik pintu. Wajahnya terlihat kusut karena tidurnya harus terganggu dengan bunyi ketukan pintu akibat ulah dua pelayan di hadapannya ini.


"Ma maaf menganggu istirahat anda Tuan Marvin.. emm sa.. saya ingin"


"Katakan dengan cepat! Kalian memang sudah menggangguku!" Ucap Marvin ketus. Marvin bisa saja meledakkan emosinya sekarang, namun ia mencoba untuk sabar.


"Sa.. saya mamanya Brianna, ingin bertanya apakah Brianna sedang bersama Tuan sekarang?"


Deg!


Ibu Brianna?


Marvin seketika menajamkan penglihatannya, rasa kantuknya meluap begitu saja begitu mendengar kata "Mama Brianna". Jadi ini mamanya Brianna?


"Astaga! Marvin Xavier kau sudah bertindak tidak sopan pada calon ibu mertuamu!" Batin Marvin.


Dengan cepat Marvin merubah ekspresinya, ia menyunggingkan senyuman kecil. Ini pertama kalinya Marvin melihat Yasmine dan jika diperhatikan wajah wanita itu terasa tidak asing di mata Marvin, ia seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana ia tidak ingat.


Marvin membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Memperlihatkan Brianna yang tidur diranjangnya.


"Putrimu sedang tidur"


Mata Mia dan Yasmine kompak membelak melihat Brianna tidur di atas ranjang Tuan mereka.


"Tadi Brianna sedang membaca komik di ruang kerjaku, lalu dia tertidur. Jadi aku memutuskan untuk memindahkannya ke kamarku. Tidak perlu khawatir aku tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap putrimu."


"Maaf sudah merepotkan anda Tuan, seharusnya Tuan bisa memanggil saya agar Brianna tidak tidur disini"


"Aku tidak mau menganggu tidurnya"


Jawaban Marvin berhasil membuat Yasmine terdiam, dia rasa tindakan Marvin terlalu berlebihan, melihat Brianna hanyalah seorang pelayan.


"Kalau begitu saya akan..."


"Biarkan dia tidur di kamarku"


"Tapi Tuan..."


"Apa kau tega membangunkan putrimu yang sudah terlelap tidur Nyonya Yasmine?"


"Saya akan bangunkan dia secara perlahan Tuan"


"Bibi sudahlah tak apa, aku rasa Tuan Marvin benar. Kasihan Brianna jika dibangunkan, lagipula Brianna baik-baik saja. Lihatlah dia begitu lelap"


Yasmine menghela nafasnya, lalu menatap Brianna sejenak. Ia benar-benar merasa tidak enak pada Marvin.


"Baiklah jika Tuan tidak keberatan, saya memohon maaf jika Brianna merepotkan anda. Kalau begitu saya permisi"


Mia dan Yasmine undur diri. Marvin kembali menutup pintu kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu, jika pelayan tadi bukan ibu Brianna sudah pasti ia akan memecatnya detik itu juga.


Marvin merebahkan tubuhnya di atas sofa. Seorang Marvin Xavier bahkan rela tidur di atas sofa demi seorang pelayan, dan sialnya ia mencintai pelayan pribadinya tersebut yang begitu istimewa.