
Cepat lakukan Ryan tunggu apa lagi?!"
Ryan hanya diam mendengar Steffy terus mendesaknya agar melakukan apa yang gadis itu inginkan.
"Hey!! Apa kau tuli!"
"Aku tidak bisa melakukannya"
"Apa maksudmu hah?"
"Ini terlalu beresiko"
"Hey! Ada apa denganmu hah? Bukankah kemarin kau sudah setuju dengan rencanaku? Apa imbalanmu masih kurang? Kau tenang saja aku akan..."
"Persetan dengan imbalan! Aku tidak mau melakukan rencana bodohmu itu!" Ryan mulai emosi. Ryan tidak mau menganggu Brianna lagi, Ryan teringat dengan kejadian di lapangan tadi, Brianna sudah menolongnya. Ia tidak mungkin menyakiti gadis sebaik Brianna.
"Apa kau takut hah? Kemana perginya Ryan si pembuat ulah"
"Ini menyangkut nyawa Steffy! Bagaimana jika dia mati! Kau mau bertanggungjawab?"
"Dia tidak akan mati, Aku jamin itu!"
"Terserah apa katamu, yang jelas aku berhenti sekarang!". Ryan pergi meninggalkan Steffy, namun baru saja beberapa langkah ucapan Steffy berhasil menghentikan langkahnya.
"Jika kau tidak mau melakukannya, maka aku sendiri yang akan turun tangan, aku tidak peduli jika dia benar-benar mati!"
"Steffy!!!" Ryan berubah menjadi panik, ia mengejar Steffy yang sudah berlari menjauh darinya.
"Dasar wanita gila! Jangan lakukan itu sialan!!!"
Steffy menatap sosok gadis yang kini berjongkok di pinggir kolan renang. Brianna Carissa gadis yang kini menjadi incarannya yang sangat ingin ia singkirkan.
Seringaian muncul di bibirnya, Gadis itu mendekati Brianna dengan langkah perlahan. Dan dalam hitungan ke tiga Steffy berhasil mendorong tubuh itu ke kolam renang dengan kedalaman hampir 3 meter.
BYURRR!!!
"Rasakan kau!".
"Steffy hentikan!" Steffy menoleh ketika Ryan datang, ia bisa melihat wajah panik pria itu. Terlambat sudah, Steffy sudah lebih dulu mendorong Brianna.
"Ryan! kau mau apa hah?"
Steffy mencekal tangan Ryan yang ingin menolong Brianna. "Dia tidak bisa berenang Steffy!"
"Tolonhhmmmp!!" Brianna berteriak minta tolong, sambil terus mengambil udara ke permukaan. Gadis itu panik luar biasa, sehingga banyak air yang masuk ke dalam mulut dan hidungnya.
"Biarkan saja dia mati!"
"Otakmu sudah tidak waras!" Ryan menepis tangan Steffy, lalu masuk ke kolam untuk menolong Brianna.
Ditariknya tangan Brianna, lalu mengangkatnya ke atas permukaan. Brianna tidak bergerak, gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.
Ryan mencoba menekan-nekan dada Brianna, kecemasan begitu jelas di wajahnya. Hal itu tidak luput dari perhatian Steffy, wanita itu merasa sangat geram.
Brianna terbatuk dan mengeluarkan air di mulutnya. Ryan terduduk di samping Brianna, ia lega sekarang.
"Brianna, kau tidak apa-apa?" Tanya Ryan.
Brianna mengumpulkan kesadarannya dengan nafas memburu, sepertinya gadis itu masih shock dengan apa yang ia alami.
"Tenanglah, tarik nafasmu perlahan"
"Hhh hh Ryan?"
"Ya ini aku"
Ryan membantu Brianna bangun, syukurlah gadis itu baik-baik saja. Ryan merasa begitu cemas melihat Brianna tenggelam tadi. Ia menyesal sudah melemparkan seragam Brianna ke kolam renang. Ya, dialah pelakunya, tapi itu semua tidak luput dari kemauan Steffy.
Ryan bisa melihat wajah Brianna yang pucat. Gadis itu terlihat ketakutan.
"Brianna tunggulah sebentar"
"K.. kau mau kemana?"
"Aku ingin membeli minuman untukmu, tunggu di sini" Ryan berlari meninggalkan Brianna seorang diri. Tak butuh waktu lama, pria itu kembali dengan membawa sebotol ari mineral, lalu memberikannya pada Brianna
"Minumlah".
"Terima kasih" Brianna menerimanya dan langsungĀ meminumnya hingga habis setengahnya. Gadis itu jauh lebih tenang sekarang.
"Terima kasih sudah menolongku" gumam Brianna pelan, matanya terlihat berkaca-kaca. Jika tidak ada Ryan mungkin ia sudah mati detik itu juga.
Ryan beranjak dari tempatnya, lalu pergi mengambil sebuah handuk yang memang tersedia di kolam tersebut. Handuk tersebut ia sampirkan di kepala Brianna. Ryan sudah tidak melihat keberadaan Steffy disana, gadis itu sudah pergi.
"Ryan, Kenapa kau menolongku?"
"Kenapa memangnya? Apa aku tidak pantas menolong orang?"
"Emm bukan seperti itu, hanya saja... Bukankah kau membenciku?"
"Siapa yang bilang aku membencimu?"
Brianna terdiam, memang tidak ada yang mengatakannya. Ia hanya melihat sikap Ryan padanya yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.
"Aku memang menjahilimu kemarin, tapi bukan berarti aku membencimu"
"Lalu?"
"Tskk.. semua siswa tahu aku ini seperti apa, aku tidak bisa jika tidak menjahili orang".
"Ckk dan aku salah satu korbannya" dengus Brianna dengan bibir mengerucut. Ryan terkekeh melihatnya, oh ya ampun ada apa dengannya?
Namun setelah mengingat kejadian tadi, Ryan benar-benar menyesal. Ia menyesal telah menjadi komplotan Steffy, seharusnya dari awal ia tidak perlu berurusan dengan gadis gila itu.
Sejak awal, menjahili Brianna bukanlah keinginannya tetapi itu semua keinginan Steffy yang selalu iri pada Brianna. Dengan iming-iming imbalan Ryan tertarik dan menuruti apa yang diinginkan wanita ular itu.