
Brianna tidak tahu kemana lagi Marvin membawanya pergi, selama di perjalanan ia hanya diam tanpa bertanya pada Marvin. Ia mencengkram erat sabuk pengamannya begitu Marvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Setelah pria itu mendapat telepon dari seseorang, Marvin terlihat buru-buru.
Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah gedung pencakar langit yang berdiri angkuh di antara gedung-gedung lainnya. Lagi-lagi Brianna menatap takjub gedung tersebut
XAVIER COMPANY
Itulah nama yang tercetak jelas di depan gedung tersebut, Brianna benar-benar tidak tahu tempat apa itu. Namun ia bisa melihat orang-orang memakai setelan jas formal berlalu lalang keluar masuk gedung tersebut.
"Brianna ayo masuk, aku tidak memiliki waktu lagi"
"Ini tempat apa Tuan?"
"Ini kantorku. Aku lupa hari ini ada rapat, jadi ikutlah denganku sebentar" Marvin menarik tangan Brianna ke dalam dengan langkah lebar, ia melemparkan kunci mobilnya ke arah security untuk di masukkan ke dalam basemant.
Lagi Brianna hanya menurut pasrah, reaksi orang-orang tampak sama seperti saat mereka memasuki mall tadi. Mereka kembali menjadi pusat perhatian, lagi-lagi Brianna hanya bisa munundukkan kepalanya tak berani menatap sekitarnya. Ia takut melihat tatapan aneh orang-orang tersebut.
Marvin dan Brianna sudah berada di depan pintu lift, dengan posisi tangan Marvin masih menggenggam tangan mungil Brianna. Pria itu seolah ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa gadis yang berdiri di sampingnya ini adalah miliknya.
Bahkan para pegawai pun merasa terkejut karena ini pertama kalinya direktur utama mereka membawa seorang gadis ke kantornya. Mereka sudah menduga jika gadis yang dibawa Marvin ini adalah pujaan hatinya.
Pintu lift berdenting terbuka, Brianna mencengkram erat tangan Marvin begitu mereka memasuki lift tersebut. Ini pertama kalinya bagi Brianna menaiki sebuah lift, ruangan lift tersebut terasa sempit dan pengap. Brianna tidak menyukainya, bahkan matanya terpejam begitu lift tersebut naik menuju lantai 20.
"Ini pertama kalinya kau menaiki lift? Tanya Marvin, lalu di respon anggukan kecil oleh Brianna. Pria itu terkekeh, kemudian tangan Brianna ia lepaskan dan beralih merangkul pundak sempit gadisnya. Menarik tubuh mungil itu semakin merapat dengan tubuhnya.
"Tidak apa-apa lift ini aman, kau tidak perlu takut" ucap Marvin menenangkan. Brianna membuka matanya perlahan lalu menatap Marvin yang jauh lebih tinggi darinya. Perasaan hangat tiba-tiba menjalar didalam dadanya hingga debaran jantung Brianna mulai berdetak cepat.
Brianna menatap wajah Marvin dengan seksama, Tuannya tersebut terlihat begitu tampan dengan garis rahang yang begitu tegas, hidung mancung dan bibir tebal yang sexy sedikit basah. Brianna baru menyadari jika Tuannya ini memiliki wajah yang sangat tampan. Pantas saja para wanita diluar sana begitu mengaguminya.
Suasana kembali hening, hingga akhirnya Brianna tertangkap basah memandangi wajah Marvin. Pria itu menunduk hingga pandangan mereka bertemu, keduanya tampak terdiam saling mengagumi.
Marvin bersumpah tidak akan membiarkan wajah lugu ini hilang dari jarak pandangnya. Hanya Marvin Xavier yang boleh menikmati wajah polos ini tidak dengan pria lain. Brianna adalah miliknya, HANYA MILIKNYA.
Hingga tanpa sadar Marvin mulai mendekatkan wajahnya, memangkas jarak keduanya. Ia tidak tahan melihat wajah polos itu, matanya terfokus pada bibir plum berwarna pink alami milik Brianna.
Brianna seolah terhipnotis dengan tatapan tajam Marvin, sorot matanya terlihat berbeda dari biasanya. Tubuhnya mendadak kaku saat wajah Marvin kian dekat, gadis itu bisa merasakan wangi mint menguar dari tubuh Marvin, begitupun sebaliknya Marvin bisa mencium aroma vanila yang terasa manis di tubuh Brianna.
Nafas Marvin memburu dan hangat sudah terasa membentur wajah Brianna, dengan refleks gadis itu memejamkan matanya. Tinggal sedikit lagi bibir mereka bertemu, namun tiba-tiba saja...
Ting!
Pintu lift terbuka, membuat Brianna tersadar. Sadar dengan posisi nya sekarang Brianna segera melepaskan diri dari rangkulan Marvin. Pria itu mengerjap lalu berdehem pelan, sambil mengusap tengkuknya malu.
"Lift sialan!" Umpat Marvin kesal, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Brianna. Wajah gadis itu terlihat memerah sama malunya dengan Marvin. Apa yang akan mereka lakukan tadi?
"Ahhh ini memalukan!"
#
Brianna kini sudah berada di dalam ruang kerja Marvin, duduk manis di atas sofa sambil mengagumi interior ruang tersebut. Terlihat begitu elegan dan nyaman. Sedangkan Marvin terlihat fokus mempelajari materi yang akan ia presentasikan saat rapat nanti.
Tak lama kemudian pintu ruangan Marvin terbuka, rupanya James yang datang.
"Hallo gadis manis" James berjalan mendekati Brianna lalu mengacak pucuk kepala Brianna dengan gemas. Gadis itu tampak senang melihat kedatangan James.
"Kau disini juga?"
Brianna mengangguk dengan pipi merona setelah kepalanya di usap oleh pria itu.
"Kakak sedang apa disini?"
"Tentu saja aku sedang bekerja" pria itu terkekeh lalu beralih memandang Marvin.
Bisa ditebak bagaimana ekspresi Marvin saat ini? Pandangannya menusuk dan dingin, Marvin bahkan tanpa sadar sudah mencengkram pulpennya saat melihat interkasi Brianna dan James. Dan apa tadi? Brianna memanggil James dengan sebutan kakak? Oh yang benar saja.
"Sialan!"
James menelan ludahnya susah payah melihat aura tidak suka dari mata Marvin. Pria itu berdehem sejenak lalu memberanikan diri menghampiri bosnya tersebut.
"Jangan salah paham, aku hanya mencoba mengakrabkan diri dengan gadis itu"
"Sekali lagi aku melihatmu menyentuhnya, akan kupatahkan tangan sialanmu itu" desis Marvin tajam, syukurlah Brianna tidak sampai mendengarnya.
James berdecak sebal, kadar kecemburuan Marvin memang berlebihan.
"Ya maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi"
"Bawakan ini, apa Mr. Smith sudah datang?" Marvin memberikan sebuah map pada James yang berisi kontrak kerjasama dengan sedikit kasar. Melampiaskan rasa kesalnya disana.
"Ya beliau sudah menunggumu di ruang rapat"
Marvin berjalan menghampiri Brianna, wajah kesalnya berubah menjadi senyuman kalem begitu saja melihat wajah lugu gadisnya.
"Aku akan rapat selama satu jam ke depan, kau bisa menunggu kan?"
"Tentu saja Tuan" jawab Brianna dengan senyuman tipisnya.
"Apa kak James juga ikut?" Tanya Brianna polos, membuat Marvin harus mengatupkan bibirnya kembali menahan kesal. Menyebalkan! Oke mungkin saja dirinya iri pada James.
"Ya dia ikut. Jika kau bosan, kau bisa menonton tv"
Marvin dan James akhirnya pergi meninggalkan Brianna seorang diri. Sekarang gadis itu bingung harus melakukan apa. Gadis itu mulai menyalakan tv di depannya, berbaring sebentar mungkin tak masalah.
Brianna mulai mencari chanel favoritnya, namun anehnya semua acara di tv tersebut berisi konten bisnis.
"Apa tidak ada film kartun?" Brianna mulai bosan
Rupanya Marvin sudah mengatur program televisi tersebut khusus tentang dunia bisnis, jelas saja Brianna tak akan menemukan kartun di dalamnya.
Rasa kantuk mulai menyerang mata Brianna, bola matanya kian memberat dan tidak fokus menatap layar persegi panjang di depannya, sepertinya Brianna kelelahan. Hingga akhirnya gadis itu terlelap di temani televisi yang masih menyala.