
Brianna sudah tiba di kamar barunya, Brianna masih ingat jika kamar ini dulunya adalah kamar tamu. Ia merasa tidak enak harus menempati kamar tersebut karena dirinya hanyalah seorang pelayan.
"Kau mencari baju-bajumu kan? Mereka sudah ada di lemari ini" Marvin membukakan pintu lemarinya, dan benar saja isi lemari tersebut sudah terisi penuh oleh bajunya. Entah itu yang lama ataupun yang baru.
"Tuan kamar ini terlalu luas untukku, aku ingin kembali ke kamar yang dulu"
"Tidak Brianna, kamarmu tetap disini. Titik!" Ujar Marvin tegas. Brianna hanya bisa menghela nafas pasrah, apalagi ekspresi Marvin kini berubah serius. Ia lupa jika pria tersebut tidak suka penolakan.
Marvin menggiring Brianna untuk duduk di atas ranjang, kemudian pria itu mengambil sesuatu di dalam lemari, yaitu paper bag.
"Bukalah"
"Apa ini?"
"Buka saja, kau akan tahu isinya" Marvin duduk di samping Brianna, menunggu reaksi Brianna setelah melihat isinya. Dengan perlahan Brianna membukanya, ada sebuah rok bermotif kotak-kotak dan juga kemeja lengkap dengan jas almamater sebagai pelengkapnya.
Brianna bisa melihat ada sebuah logo di samping kanan jasnya.
Trinity High School
"I..ini... Seragam sekolah?"
"Ya, mulai Senin depan kau sudah mulai bersekolah" jawab Marvin sambil mengusap pucuk kepala Brianna.
"Tu..tuan kau bercanda kan?" Brianna menatap Marvin tak percaya, sungguh ini terlalu mengejutkan.
Marvin mengeluarkan sebuah name tag di dalam saku celananya, disana sudah tertera nama Brianna untuk meyakinkan gadis itu.
"Aku tidak mungkin bercanda"
Brianna membekap mulutnya terharu, bola matanya berubah berkaca-kaca. Dengan refkels Brianna memeluk tubuh Marvin, saking senangnya Brianna tidak sadar pelukannya begitu kuat hingga tubuh Marvin terjungkal ke belakang.
"Terimakasih Tuan terimakasih banyak hiks" Brianna menangis haru, gadis itu benar-benar bahagia. Dengan senang hati Marvin membalas pelukan tersebut, diiringi senyuman tipis di wajah tampannya.
Brianna melepas pelukannya, ia terkejut dengan posisinya sekarang tubuhnya nyaris menindih tubuh Marvin.
"Ah maaf" Brianna segera beranjak dari tubuh Marvin namun dengan cepat Marvin menahannya, tubuh mungil itu semakin ia tarik dalam pelukannya hingga punggungnya sepenuhnya terbaring di atas ranjang.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja" ucap Marvin lirih tepat di telinga Brianna. Tubuh gadis itu seketika membeku, jantungnya turut berdebar tak karuan. Brianna pun bisa merasakan debaran jantung Marvin.
Puas memeluk Brianna akhirnya Marvin mengubah posisi mereka, Brianna nyaris memekik begitu Marvin berada di atasnya, wajahnya menegang melihat tatapan intens Marvin.
Marvin tersenyum geli melihat ketegangan Brianna, ia bisa merasakannya lewat gestur tubuh gadis itu. Tangan Marvin terulur mengusap sisi wajah Brianna, senyuman tipis pria itu berhasil membuat Brianna diam tak berkutik.
"Bolehkah aku minta satu permintaan?"
Brianna masih betah menutup mulutnya, lidahnya mendadak kelu sekarang. Terlalu gugup dengan situasi sekarang.
"Berhenti memanggilku Tuan, dan mulailah memanggilku kakak"
"A..apa?"
"Aku ingin kau melakukannya, aku tidak mau hanya james yang kau panggil kakak"
"Tapi aku pelayanmu Tuan"
Marvin mendesis, ia benci dengan status itu, ini seperti ada pembatas di antara mereka. Pelayan dan Tuan? Persetan dengan itu semua, Marvin ingin mengubah persepsi itu di otak cantik gadisnya.
"Aku lebih suka kau memanggilku kakak. Ah ini perintah!" Marvin tersenyum memyeringai, membuat Brianna mendengus mendengarnya. Wajahnya merenggut membuat Marvin kian gemas.
"Jangan membuatku menunggu nona"
"Tapi..."
"Katakan!"
"Baiklah Tu... Emm maksudku ka...Kakak?"
"Katakan dengan benar"
"Baik, kak Marvin"
"Gadis pintar" Marvin tersenyum puas.
Ada satu hadiah lagi yang Marvin berikan pada Brianna, sebuah kecupan manis berhasil mendarat di kening Brianna hingga jantungnya nyaris melompat dari tempatnya.