
Sekumpulan pelayan terlihat berkumpul di taman belakang, mereka sedang menyapu halaman sambil bergosip ria tanpa pengawasan Emily.
"Hey apa kalian tahu? Semalam pelayan baru itu tidur di kamar Tuan Marvin"
"Maksudmu Brianna Carissa?" Tanya pelayan lain, wajahnya terlihat terkejut sekaligus penasaran.
"Ya, semalam aku tidak sengaja melihat Tuan Marvin menggendong Brianna ke kamarnya".
"Astaga!!" Kau tidak mengarang cerita kan?"
"Aku berani bersumpah, aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri"
"Bukankah ini aneh, apa mungkin Tuan Marvin menyukai gadis itu?"
"Ckk pasti gadis itu menggoda Tuan Marvin" timpal salah satu pelayan dengan wajah tak suka.
"Kau benar, aku rasa gadis itu diperlakukan istimewa oleh Tuan Marvin, belum seminggu bekerja dia sudah diangkat jadi pelayan pribadi"
"Kalian benar, gadis itu memang sudah menggoda Tuan Marvin" salah satu pelayan tiba-tiba ikut bergabung dalam acara menggunjing tersebut. Pelayan itu adalah Samantha, sejak tadi wanita itu memang mendengar perbincangan teman-temannya. Samantha merasa senang, ternyata ada pelayan lain yang juga tidak menyukai Brianna.
"Samantha apa kau mengetahui sesuatu?"
"Asal kalian tahu saja Brianna itu tetanggaku di desa, aku sudah hafal betul bagaimana wataknya. Gadis itu begitu berambisi dengan pria kaya, dan dia berhasil menggoda Tuan Marvin untuk menjadikannya pelayan pribadi"
"Ini sulit di percaya, aku tidak menyangka Brianna gadis seperti itu"
"Ckk wajahnya saja yang polos, tapi kelakuannya seperti wanita murahan"
Samantha tersenyum menyeringai saat teman-temannya mulai terpengaruhi. Ini adalah salah satu cara untuk menyingkirkan Brianna dari rumah Marvin, ia akan merusak reputasi Brianna di mata para pelayan. Setelah ini ia harus memikirkan bagaimana caranya agar Marvin memecat Brianna dengan begitu pekerjaannya yang dulu akan kembali padanya.
#
Cuaca pagi ini terlihat begitu cocok untuk berolahraga, langit cerah dan udara sejuk sangat disayangkan jika dilewatkan. Marvin terlihat bersemangat untuk olahraga hari ini, terlebih kini ada Brianna yang menemaninya. Kini gadis itu mengekor dibelakangnya sambil berlari kecil. Marvin memilih pergi joging mengelilingi taman yang tak jauh dari rumahnya.
Suasana taman terlihat cukup sepi, dan ini memberi keuntungan bagi Marvin karena pria itu tidak terlalu suka keramaian. Marvin berlari kecil mengelilingi taman dengan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan Brianna.
Bibirnya tertarik ke atas melihat gadisnya masih berlari mengikutinya. Sepertinya Brianna kesulitan mengejar Marvin, karena langkah kaki Marvin tentunya lebih cepat dibanding Brianna sendiri.
Brianna mulai kelelahan mengejar Marvin, keringat pun sudah membasahi sekujur tubuhnya.
"Ahhh aku sudah tidak sanggup lagi" Brianna mengatur nafasnya sambil menumpu kedua tangannya di atas lutut
Marvin mencoba mengatur langkah kakinya lebih pelan agar Brianna bisa menyusulnya.
"Brianna Carissa cepatlah!" Teriak Marvin dari kejauhan, menatap Brianna dengan ekpresi pura-pura kesal. Melihat ekspresi yang seperti itu, Brianna kembali melanjutkan langkahnya. Namun baru beberapa langkah Brianna merasakan sesuatu menusuk telapak kakinya.
"Argghhhh"
Brianna kembali menghentikan langkahnya, kakinya terasa sangat sakit begitu ia berjalan.
"Brianna Carissa!!" Marvin kembali memanggil, pria itu tidak tahu apa yang terjadi. Namun setelah itu Marvin merasa ada yang aneh dengan cara berjalan Brianna.
Rupanya Brianna mengabaikan rasa sakitnya, dan memilih menghampiri Marvin takut Tuannya itu kesal menunggu.
"Minumanku"
Brianna dengan sigap memberikan minuman yang sudah ia siapkan dari rumah. Sambil menahan rasa sakitnya, Brianna berusaha bersikap biasa saja di hadapan Marvin.
Sambil meneguk air minumnya, ekor mata Marvin mencuri pandang pada Brianna. Marvin merasa ada yang aneh dengan sikap Brianna.
"Ah ti..tidak apa-apa Tuan"
"Kau yakin?"
Brianna mengangguk meyakinkan dengan senyuman tipis di bibirnya yang terkesan di paksakan. Marvin masih tidak yakin dengan jawaban Brianna.
"Jika kau ingin buang air kecil, kau bisa pergi toilet disana" tunjuk Marvin pada sebuah toilet umum yang ada di taman tersebut.
"Ah y..ya baik Tuan"
Setelah itu Marvin kembali melanjutkan acara joging nya. Brianna menghela nafas lega begitu Marvin pergi. Ia segera melepas sepatunya dan ternyata ada paku kecil yang menancap di kakinya dan itu sukses membuat telapak kakinya berdarah. Walaupun kecil tapi menyakitkan.
"Ahhh sakiiit" Brianna terduduk sambil meringis kesakitan. Ia tidak mengerti kenapa paku tersebut berada di dalam sepatunya. Jika ada mamanya mungkin sekarang Brianna sudah menangis mengadu pada sang mama.
Tapi sekarang? Brianna bersama dengan Marvin, dan ia tidak mungkin bersikap cengeng seperti itu dihadapan Tuannya.
"Brianna Carissa?"
"Astaga! Kak James?" Brianna terkejut melihat James berdiri di hadapannya. Dengan cepat Brianna kembali memakai sepatunya, namun James menahannya karena pria itu lebih dulu melihat luka di kaki Brianna.
"Ada apa dengan kakimu?" Tanya James cemas. Ia bisa melihat ada bercak darah merembes di kaos kaki yang Brianna kenakan.
"Aku menginjak paku"
"Kenapa bisa?"
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja paku itu ada di dalam sepatuku."
"Lukamu harus segera diobati"
"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil" Brianna menggigit bibir bawahnya manahan rasa sakit.
"Luka kecil apanya hah! Kau bisa infeksi!" Tanpa sadar James meninggikan nada bicaranya. Bukan apa-apa, dia hanya khawatir. Niatnya untuk mencari Marvin kini harus teralihkan oleh Brianna. Ia tidak mungkin membiarkan Brianna dalam kondisi seperti ini.
Lagipula kemana perginya Marvin? Apa pria itu tidak tahu Brianna terluka?
"Ayo naik ke punggungku"
"A.. apa?"
James berjongkok memunggungi Brianna, memberi isyarat pada Brianna untuk naik ke punggungnya.
"Lukanya akan semakin parah jika kau berjalan gadis manis. Ayo naik"
Brianna tersipu mendengar ucapan James, tapi Brianna tidak langsung menurut. Ia tidak mau merepotkan James apalagi harus menggendongnya sampai rumah Marvin, itu lumayan jauh.
"Tidak perlu kak, aku..."
"Naik Brianna Carissa"
"Tapi bagaimana dengan Tuan Marvin?"
"Dia bukan bayi yang harus diawasi, Marvin bisa pulang sendiri. Ayo cepat naik kakiku pegal"
Brianna kali ini menurut, dengan ragu ia menaiki punggung James. Tak bisa dipungkiri jantungnya kembali bergemuruh saat berdekatan dengan pria itu, tanpa sadar bibirnya tersenyum kecil mendapat perhatian tersebut dari James.