
"Huwaaa mama aku terlambat!!!" Brianna berlari pontang-panting menuju kamar Marvin. Di hari pertamanya bekerja lagi-lagi Brianna membuat masalah.
Gadis itu bangun terlambat akibat sang mama lupa membangunkannya. Rambut hitam legamnya tergerai begitu saja, hanya ada bandana putih khas pelayan yang menghiasi kepalanya. Brianna tidak sempat menata rambutnya apalagi merias diri.
Kaki kecilnya berlari melewati para pelayan yang sudah beraktifitas membuat Brianna menjadi pusat perhatian. Syukurlah disana tidak ada Emily, jika ada mungkin ia akan terkena ceramahnya.
Brianna mengatur nafasnya begitu sampai didepan pintu kamar Marvin. Jari-jarinya menyisir rambut hitamnya agar tidak terlalu berantakan.
"Ya Tuhan semoga Tuan Marvin tidak marah" gumamnya, lalu mengetuk pintu jati tersebut.
Tok..tok..tok!
Tidak ada jawaban, akhirnya dengan memberanikan diri Brianna pun masuk. Ranjang yang biasa Marvin tiduri kini kosong, namun masih terlihat berantakan. Sepertinya Marvin sudah bangun.
Brianna bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, rupanya Marvin tengah membersihkan diri. Dengan gesit, Brianna segera membereskan kamar Marvin mulai dari ranjang hingga sofa selagi pria itu mandi.
"Yeah selesai!" Brianna tersenyum bangga melihat hasil kerjanya. Rupanya bekerja sebagai pelayan pribadi tidaklah sulit, ia cukup membereskan kamar Marvin dan menyiapkan segala keperluan Marvin. Ia tidak perlu lagi menyapu halaman super luas di rumah ini, yang nyaris membuatnya sakit pinggang.
"Baru hari pertama sudah terlambat"
"Astaga!"
Brianna terlonjak kaget begitu mendengar suara Marvin di belakangnya. Rupanya Marvin sudah selesai mandi, Brianna segera menolehkan wajahnya menatap Marvin.
Brianna terkejut begitu melihat penampilan Marvin saat ini, pria itu bertelanjang dada hanya ada selebar handuk menutupi area pribadinya. Brianna segera menundukkan wajahnya dengan pipi bersemu merah.
Kenapa dirinya jadi malu?
"Maafkan saya Tuan" Brianna menggigit bibir bawahnya was-was tanpa menatap bola mata Marvin, ia takut Marvin akan marah.
Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Marvin. Brianna hanya bisa tertunduk dengan tangan saling bertaut. Tatapan Marvin selalu membuatnya merasa terintimidasi.
"Baiklah karena ini hari pertamamu bekerja sebagai pelayan pribadi, kali ini aku maafkan. Tapi ingat jangan ulangi lagi, mengerti?"
"Baik Tuan, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi" Brianna menghembuskan nafas lega.
"Baiklah, sekarang siapkan pakaian kerjaku"
"Tuan akan bekerja? Bukannya Tuan masih sakit?" Tanya Brianna terkejut. Ia ingat betul teriakan kesakitan Marvin kemarin, apa bisa pulih secepat itu?
"Apa pinggang Tuan sudah tidak sakit lagi?"
Marvin meringis mendengarnya, bukankah ini memalukan? Ia merasa seperti pria tua yang bermasalah dengan persendian. Ya walaupun masih ada rasa ngilu, Marvin tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun termasuk Brianna.
"Ya, sudah lebih baik. Sekarang siapkan pakaian untukku. Kau bisa memilihnya di ruangan pakaian itu"
Tunjuk Marvin pada salah satu pintu yang berada di samping toilet. Rupanya itu adalah ruangan walk in closet, semua pakaian dan aksesoris milik Marvin ada disana.
#
Setelah memilih pakaian kerja untuk Marvin, pria itu memintanya untuk membawakan sarapan ke kamarnya. Marvin jarang sekali sarapan di ruang makan karena ia merasa kesepian jika makan sendiri disana. Kecuali jika ada James yang mau menemaninya sarapan.
Brianna berjalan menuju seorang koki handal yang khusus menyiapakan makanan untuk Marvin.
Andrew. Pria berusia 45 tahun itu tampak tersenyum ramah melihat kedatangan Brianna.
"Selamat pagi paman" sapa Brianna tak kalah ramah.
"Selamat pagi Brianna" balasnya.
"Paman aku ingin mengambil sarapan untuk Tuan Marvin"
"Oh sudah aku siapkan di atas meja makan, kau sudah sarapan?"
"Belum paman, aku akan sarapan setelah Tuan Marvin pergi bekerja"
"Baiklah, kau bisa temui paman nanti. Paman akan membuatkan sarapan yang spesial untukmu"
"Benarkah? Terimakasih banyak paman" Brianna tersenyum senang. Lihatlah banyak orang yang begitu menyukai Brianna.
Gadis itu mudah akrab dengan siapa saja, termasuk koki di rumah itu. Andrew senang melihat kehadiran Brianna, menurutnya Brianna sangat mirip dengan putrinya yang tinggal di Busan. Itu sebabnya Andrew sudah menganggap Brianna seperti putrinya sendiri.
Brianna membawa nampan berisi makanan untuk Marvin, dengan hati-hati ia pun berjalan menuju tangga dengan langkah setenang mungkin. Ia tidak ingin membuat masalah dengan menjatuhkan makanan tersebut akibat kecerobohannya.
"Kemarikan sarapannya!" Samantha tiba-tiba muncul merebut sarapan yang Brianna bawa untuk Marvin. Makanan tersebut hampir saja tumpah jika Brianna tidak menahannya dengan kuat.
"Tapi kak, Tuan Marvin..."
"Apa? Kau ingin membantahku? Asal kau tahu gadis kecil, mengantarkan sarapan untuk Tuan Marvin adalah tugasku!"
"Tuan Marvin menyuruhku untuk membawanya"
"Ohh rupanya kau sudah mulai mencari kesempatan untuk mendekatinya?" Tuduh Samantha sinis. Wanita itu tidak tahu jika Brianna sudah menjadi pelayan pribadi Marvin.
"Tidak kak, tapi..."
"Kau hanya pelayan baru disini. Jadi jangan coba-coba kau mengambil pekerjaanku yang istimewa ini" menurut Samantha mengantarkan sarapan adalah pekerjaan yang paling istimewa karena dengan begitu ia bisa melihat Marvin lebih dekat.
Dari banyaknya pelayan, Samantha termasuk pengagum Marvin Xavier. Terkadang dia sering memperlihatkan rasa sukanya dengan berlagak manis di depan Tuannya.
Samantha melenggang meninggalkan Brianna yang tampak menghela pasrah. Brianna tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah berhadapan dengan Samantha.