
Brianna menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Wajahnya kembali merengut, kadar kekesalannya kini bertambah dan Marvin menyadari itu.
Oke mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan masalah gadis itu. Brianna masih belum terbuka padanya, dan Marvin tidak akan memaksa Brianna untuk bercerita.
"Kau sudah makan?"
"Belum" jawab Brianna singkat, matanya terpejam meredam rasa lelahnya setelah beraktivitas di sekolah. Rasa kantuk mulai menjalar, sofa di ruangan Marvin memang sangat nyaman. Brianna jadi ingat dulu sempat tertidur di sofa tersebut.
"Mau ice cream?"
Brianna kembali membuka matanya mendengar tawaran Marvin. Pria itu tersenyum puas melihat binaran semangat dari mata Brianna. Ice cream memang yang terbaik untuk mengembalikan mood gadis itu.
"Mau mau mau!!" Brianna tampak bersemangat, Marvin sangat gemas melihatnya. Pria itu beranjak dari tempatnya menuju lemari es yang tak jauh dari mereka.
"Satu cup ice cream cokelat kesukaanmu sudah siap"
"Terima kasih!"
Marvin terkekeh melihat Brianna begitu lahap, seolah-olah itu adalah stock ice cream terakhir di dunia ini.
"Pelan-pelan sayang"
"Kakak yang terbaik" Brianna tersenyum begitu manis, moodnya telah kembali. Sekarang ia harus berterima kasih pada James karena sudah mengantarkan dirinya pada Marvin.
"Lega sekali melihat senyummu kembali" Brianna menunduk malu mendengarnya.
"Mau?" Tawar Brianna
Marvin menggeleng, pria itu lebih memilih mengelus kepala gadis itu penuh sayang.
"Bagaimana dengan bekal yang mamaku buat? Apa kau suka?" Tiba-tiba Marvin menanyakan bekal buatan mamanya, alhasil Brianna mengehentikan suapan ice creamnya. Ekspresi Brianna berubah murung ketika mengingatnya.
Alis Marvin mengernyit, apa ada yang salah dengan pertanyaannya?
"Aku belum sempat memakannya" cicit Brianna sedih. Sepertinya lebih baik bercerita daripada harus memendamnya sendirian.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Makanannya tumpah" Brianna menundukkan kepalanya sedih, nada bicaranya mulai bergetar. Marvin bisa melihat kesedihan di wajah gadisnya.
"Ayo ceritakan padaku apa yang terjadi" Marvin yakin pasti ini yang membuat mood Brianna buruk.
"Salah satu temanku mengerjaiku tadi, dia mengambil bekalku saat aku ingin memakannya bersama Nina. Aku mengejarnya tapi dia terus berlari menghindariku.. hiks sampai akhirnya..." Brianna tidak bisa menahan air matanya, gadis itu mulai menangis.
Ekspresi Marvin yang asalnya tenang kini berubah tegang. Tangannya terkepal kuat setelah mendengar cerita Brianna.
"Sial!! Bocah mana yang berani mengganggu gadisku!" Batin Marvin geram.
"Ssttt.. jangan menangis".
"Aku sangat kesal hiks"
"Aku akan memberinya pelajaran nanti" Marvin menarik Brianna ke dalam pelukannya. Sungguh Marvin jadi penasaran siapa orang yang mengganggu gadisnya. Demi Tuhan, ia akan membuat orang itu menyesal.
"Tidak perlu kak, Bu Natasha sudah menghukumnya dan temanku sudah meminta maaf" Brianna membalas pelukan Marvin.
"Hukuman apa yang dia dapatkan?" Tanya Marvin penasaran sambil mengelus punggung Brianna. Gadis itu tampak nyaman membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.
"Berlari mengelilingi lapangan"
"Hanya itu?"
"Hummm"
"Hukuman itu terlalu ringan, dia sudah kurang ajar padamu" desis Marvin.
"Tidak apa-apa, dia sudah meminta maaf padaku".
"Dan kau memaafkannya?"
"Iya".
"Ckk.. Anna ku terlalu baik"
"Siapa nama temanmu itu?"
"Sudahlah tidak perlu membahasnya lagi kak, aku sudah malas" Brianna sudah tidak menangis lagi, gadis itu melepas pelukannya lalu mengusap hidungnya yang basah dengan bibir mengerucut, persis seperti anak kecil.
Marvin mengalah, baiklah ia akan mencari tahu sendiri siapa orangnya. Ia tidak bisa tinggal diam jika gadisnya sudah diganggu walaupun seujung kuku sekalipun.
Marvin harus memastikan gadisnya nyaman di sekolah itu. Ia tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada siapapun yang berani mengusik Brianna.
Kejam memang, tapi semua itu demi melindungi gadisnya. Marvin tidak mau kejadian buruk di masa lalu kembali datang menghampiri Brianna.