My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Buang-buang Waktu Saja



Seperti biasa Marvin menyempatkan diri mengantar Brianna ke sekolah. Walaupun jadwal pagi ini sangat padat, Marvin harus memastikan gadisnya sampai ke sekolah dengan selamat. Ini akan membuatnya jauh lebih tenang saat bekerja di kantor nanti.


"Ingat jangan terlalu dekat dengan teman laki-laki mu itu. Aku tidak suka melihatnya" peringatan Marvin sebelum Brianna turun dari mobilnya. Orang yang di maksud Marvin adalah siapa lagi kalau bukan Ryan.


Marvin merasa Ryan menyukai Brianna semenjak mereka mengerjakan tugas kelompoknya di perpustakaan milik Marvin. Tatapan Ryan pada Brianna memang terlihat berbeda dan itu membuat Marvin cemburu setengah mati. Marvin harus berjaga-jaga jikalau suatu saat nanti Ryan berani menyatakan perasaannya pada Brianna.


"Kak, Ryan itu hanya temanku"


"Tetap saja aku tidak menyukai anak itu. Bukankah dia pernah menjahilimu?"


"Kejadian itu sudah berlalu kak, jangan membahasnya lagi. Ryan sebenarnya orang yang baik"


"Terus saja membelanya!" Marvin merengut kesal, persis seperti anak kecil yang tengah merajuk. Untuk pertama kalinya Marvin bertingkah seperti bocah 5 tahun di depan gadis SMA.


Brianna terkekeh kecil melihat sikap Marvin, tubuhnya mendekat kemudian mengecup pipi Marvin dengan cepat.


"Jangan marah, ini masih terlalu pagi kak".


Marvin cukup terkejut dengan kecupan tiba-tiba itu. Ia melirik ke arah Brianna dengan memicingkan matanya.


"Kau mulai berani rupanya"


Brianna menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Perlahan gadis itu sadar, apa ia terlalu lancang mencium Marvin lebih dahulu?


"Maaf" cicit Brianna pelan. Kepalanya tertunduk takut.


Marvin mengulum senyumnya, ditariknya tubuh mungil itu dalam rengkuhannya. Secepat kilat ia ******* bibir gadisnya dengan gemas dan intens.


Brianna terkejut bukan main, masalahnya di dalam mobil sana tidak hanya ada mereka berdua. Ada supir yang sedang duduk di balik kemudi. Tapi sepertinya pria paruh baya itu berusaha untuk tidak melihat adegan manis majikannya. Walaupun terlihat jelas wajah pria itu tampak memerah.


Brianna mendorong tubuh Marvin dengan cepat, ia benar-benar malu.


"Kak, ada pak supir disini!" Brianna menahan dada Marvin yang berusaha mengambil ciumannya kembali.


"Salah sendiri kenapa kau memancingku tadi"


"Dasar mesum!" Brianna turun dari mobil dengan cepat lengkap dengan wajahnya yang memerah. Sungguh gadis itu sangat malu pada supir Marvin.


Marvin terkejut mendengar kalimat terakhir Brianna. Ya ampun gadisnya sudah berani menyebutnya mesum. Tapi bukannya marah Marvin justru tertawa, diikuti pak supir yang berusaha menahan tawanya.


"Gadisku sungguh menggemaskan"


#


"Ayolah paman izinkan aku bertemu dengan Marvin. Aku ingin meminta maaf padanya karena sudah berbicara lancang di pantai kemarin".


"Seharusnya kau meminta maaf pada temanmu itu"


"Aku sudah melakukannya tadi di sekolah"


"Jangan berbohong Steffy, paman tahu sekali watak mu"


Steffy mendesis, pamannya yang satu ini memang sangat sulit di bohongi. Dirinya memang belum meminta maaf pada Brianna, ah mungkin tidak akan pernah mengingat bagaimana kerasa kepalanya seorang Steffy.


"Aku serius aku sudah meminta maaf pada Brianna, untuk itu aku ingin meminta maaf pada kekasihnya itu"


"Jika niatmu tulus ingin meminta maaf paman akan mengajakmu. Tapi jika ada maksud lain, paman tidak akan segan-segan mengirim mu pada ayahmu"


"Paman berlebihan sekali!" Kesal Steffy.


"Kita berangkat sekarang"


Steffy bersorak senang dalam hatinya, akhirnya sang paman mengizinkan dirinya bertemu dengan Marvin. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencari tahu soal Marvin Xavier yang berhasil menarik perhatiannya itu.


Sementara itu Marvin sendiri sudah menunggu Samuel sejak 10 menit yang lalu di salah satu cafe dekat dengan perusahaannya. Suasana hatinya mulai memburuk karena Samuel tidak datang tepat waktu. Marvin sangat benci menunggu, jika 5 menit lagi pria itu tidak kunjung datang maka Marvin tidak akan segan-segan membatalkan kerjasama mereka.


"Selamat sore tuan, maaf sudah membuatmu menunggu" Samuel akhirnya muncul dengan nafas terengah-engah, sepertinya pria itu berlari untuk menemuinya.


"Tidak apa-apa Tuan Sam" Marvin menyematkan senyuman terpaksanya lalu mempersilahkan Samuel untuk duduk.


"Steffy duduklah"


Merasa ada orang lain yang ikut bergabung, Marvin segera mengalihkan pandangannya. Tatapannya berubah tajam saat melihat Steffy duduk manis di samping Samuel.


"Hallo Tuan Marvin kita bertemu lagi" sapa Steffy ramah, namun terlihat memuakkan di mata Marvin.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Marvin dingin.


"Emm begini Tuan Marvin, maksud Steffy datang kemari dia ingin meminta maaf soal kejadian di pantai waktu itu. Steffy sangat menyesalinya, untuk itu aku mengajaknya".


"Kita bertemu untuk membahas pekerjaan. Aku tidak ingin membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan kita Tuan Samuel".


"Kita bisa bicarakan masalah Steffy nanti setelah membahas kerjasama kita, jika Tuan Marvin tidak keberatan"


"Ckkk buang-buang waktu saja" desis Marvin pelan.