My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Brianna Diculik



Brianna tidak tahu toko mana yang akan ia datangi, kini ia dan Samantha sudah berada di dalam sebuah taxi. Tidak ada perbincangan yang terjadi diantara mereka, Brianna merasa canggung mengobrol dengan wanita itu dan ia memilih menatap ke luar jendela mobil.


Satu jam sudah berlalu, namun Samantha tidak kunjung menghentikan taksinya. Padahal beberapa toko peralatan dapur sudah mereka lewati.


"Apa tokonya masih jauh?"


"Sebentar lagi"


"Aku rasa ini sudah terlalu jauh, bisakah kita membelinya di toko terdekat saja?"


"Harusnya kau berterima kasih padaku, kita pergi sejauh ini karena aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku tahu kau pasti bosan kan di rumah"


"Tapi aku takut mama mencariku"


"Jangan khawatirkan itu. Nanti aku akan menelpon mamamu. Nah kita sudah sampai"


Brianna dan Samantha akhirnya turun dari taxi tersebut. Mereka kini berada di sebuah daerah yang cukup sepi, Brianna tidak tahu dimana letak tokonya, yang ia lihat hanyalah beberapa toko kecil yang berjajar namun sudah tutup dan tidak terurus.


"Dimana tokonya?"


"Lewat gang ini. Kau tunggu saja disini, biar aku yang pergi" Samantha menunjuk gang kecil diantara beberapa toko tadi. Brianna mengernyit bingung, merasa tidak yakin dengan ucapan Samantha. Apakah ada orang yang membuka toko di tempat sepi seperti ini? Dan kenapa harus melewati gang sempit? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


Walaupun begitu Brianna tetap menuruti perkataan Samantha. Ia akan menunggu Samantha membeli gelas yang baru.


"Kau tenang saja, aku tidak akan lama"


"Baik, aku akan menunggu disini"


Samantha akhirnya pergi meninggalkan Brianna seorang diri. Jalanan tampak sepi seperti kota tak berpenghuni, jarang sekali kendaraan yang melewati tempat ini.


Tiba-tiba perasaan Brianna mulai tidak enak, sesekali ia menoleh ke arah gang yang Samantha masuki tadi, berharap wanita itu segera kembali. Ingin rasanya Brianna menyusul, namun dilihat dari kejauhan saja gang tersebut terlihat gelap.


20 menit telah berlalu, Samantha tak kunjung kembali. Brianna mulai was-was, ia baru sadar jika tempat ini memiliki beberapa bangunan yang cukup tua dan kumuh.


Tak lama kemudian sebuah mobil Audi berwarna hitam berhenti di hadapan Brianna. Gadis itu mengernyit saat melihat 2 orang pria tak di kenal keluar dari mobil tersebut. Wajahnya terlihat menyeramkan, tubuhnya kekar dengan ukiran tatto di sekitar lengan dan lehernya.


Tubuh Brianna seketika menegang melihat pria-pria itu mendekatinya. Derap langkah mereka terdengar tegas membuat tubuh Brianna merinding. Jelas sekali jika gadis itu ketakutan. Mulutnya mulai merapalkan do'a agar pria yang ia anggap preman itu tidak menganggunya. Keringat dingin mulai muncul di pori-pori wajahnya begitu pria-pria tersebut menatapnya dengan bengis.


"Ka..kalian siapa?"


"Bawa dia!"


Mata Brianna membulat sempurna mendengar ucapan salah satu pria dihadapannya. Tubuh Brianna terhuyung ke depan saat pria satunya lagi kenarik tangannya dengan kasar.


"Paman lepaskan aku!!"


Tubuh Brianna yang kecil tidak sebanding dengan kuatnya tenaga pria-pria asing tersebut. Sekeras apapun ia berteriak, tak ada satupun orang yang bisa menolongnya. Lantas mau dibawa kemana gadis itu sekarang?


"Hikss.. paman, kalian siapa? Kumohon jangan menculikku, aku bukanlah anak orang kaya yang bisa kalian peras" Brianna memohon sambil menangis, kini ia duduk diantara para penculik tersebut. Kedua tangannya sudah terikat dengan seutas tali yang cukup kuat membuat Brianna kesulitan bergerak. Bahkan kepalanya ditutup oleh kain hitam, sehingga Brianna tidak bisa melihat apapun selain kegelapan.


"Paman, ku mohon lepaskan aku.. hiks"


"Diam!!! Jangan banyak bicara!" ucap salah satu pria dengan tatapan menghunusnya. Hal tersebut membuat nyali Brianna semakin menciut.


#


Brianna tidak tahu dimana posisinya sekarang. Setelah 3 jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti. Kain yang menutupi kepalanya akhirnya di lepas beserta ikatan tali di tangannya. Brianna menatap sekelilingnya dengan gelisah, tempat tersebut sangatlah asing. Brianna merasa tempat tersebut jauh dari pusat kota.


"Tuan, kita ada dimana?"


"Turun!"


"A..apa?"


"Cepat turun apa kau tuli hah?!"


Brianna tersentak dengan bentakan pria tersebut. Dengan penuh rasa takut, Brianna turun dari mobil itu. Brianna mati-matian menahan air matanya agar tidak menangis di hadapan penculik itu. Kedua pria tersebut masih betah duduk di dalam mobil, memandangnya dengan senyuman menyeringai.


Blam!!!


Brianna terkejut melihat pintu mobil tertutup, dan detik berikutnya mobil tersebut melaju kencang meninggalkannya seorang diri.


"Heiii!!!!"


Brianna berteriak memanggil pria-pria itu, kakinya melangkah cepat mengejar mobil tersebut. Ada motif apa hingga mereka menculiknya lalu meninggalkannya seorang diri dijalanan sepi seperti ini?


Air mata sudah tidak terbendung lagi, Brianna menangis seorang diri sambil terus mengejar mobil tersebut. Hingga akhirnya kakinya sudah tidak mampu lagi melangkah, dadanya terasa sesak hampir kehilangan oksigen. Brianna kelelahan.


"Hiks hiks.. kenapa mereka meninggalkanku sendiri?"


Mobil tersebut sudah hilang dari jangkauaan mata Brianna, lalu ia menatap sekitarnya dengan tatapan ngeri. Tempat ini jauh lebih sepi dibanding tempat sebelumnya. Ia benar-benar diapit oleh hutan-hutan, tidak ada pemukiman warga yang nampak disana membuat Brianna semakin ketakutan.


"Hikss mama, aku takut" Brianna duduk disalah satu kayu tumbang dipinggir jalan, lalu memeluk lutunya menanti keajaiban. Brianna berharap ada orang yang melewati jalan tersebut.


Hari sudah semakin sore, ia takut akan bermalam di tempat itu. Tidak ada ponsel yang bisa ia gunakan untuk menghubungi mamanya.


Sekarang Brianna hanya bisa meratapi nasibnya, menanti seseorang yang bisa menolongnya.