
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, setelah menempuh pendidikan SMA selama 3 tahun akhirnya Brianna lulus dengan nilai memuaskan. Saat ini Marvin dan keluarga tengah merayakan kelulusan Brianna dengan mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan di taman belakang rumah besar Marvin.
Sebuah pesta barbeque sederhana turut melengkapi kebahagiaan Brianna atas kelulusannya. Tidak hanya itu,
Nina pun di undang dalam pesta tersebut.
Awalnya Brianna tidak berencana merayakan kelulusannya, namun ibu Marvin lah yang paling antusias. Beliau yang memiliki ide atas pesta tersebut. Wanita itu rela pulang ke Kota A bersama suaminya demi merayakan kelulusan Brianna.
Ini pertama kalinya Brianna bertemu dengan ayah tiri Marvin. Pria yang bernama Henry itu terlihat sangat ramah dan juga baik hati. Kehangatan keluarga Marvin semakin terasa dengan kehadiran Henry. Marvin pun terlihat akrab dengan ayah tiri nya tersebut. Sesekali mereka membicarakan dunia bisnis yang tengah dirintis oleh keduanya. Pantas saja Marvin mengizinkan ibunya menikah lagi, karena pria itu sangat baik dan juga menyayangi ibunya.
Pesta tersebut dilakukan malam hari, acara ini hanya di rayakan oleh para maid, orang tua Marvin dan Brianna serta Nina. Suasana taman terasa begitu hangat, selain itu para maid di sana juga mendekor taman tersebut dengan lampu-lampu cantik. Membuat pesta berbaque tersebut semakin menarik.
"Nina kau sungguh mendapatkan beasiswa di Universitas X?" Brianna menatap sahabatnya takjub. Saat ini mereka tengah membicarakan masalah perkuliahan sambil memanggang barbeque. Kecerdasan Nina memang tidak di ragukan lagi.
"Ya, bu Natasha membantuku mencarikan beasiswa di setiap universitas dan beruntungnya aku bisa lulus seleksi di Universitas X"
"Ya Tuhan aku turut senang mendengarnya. Kau memang cerdas dan pantas mendapatkannya." Puji Brianna membuat Nina malu.
"Terima Kasih Brianna, lalu bagaimana denganmu?"
"Aku sedang mencoba mendaftar di Universitas A. Kak Marvin yang merekomendasikannya padaku dan kebetulan dia juga alumni di sana"
"Woaahh, itu universitas yang sangat bagus. Pasti sangat mudah untukmu kuliah di sana, mengingat Marvin bisa melakukan apapun untukmu"
"Ckkk aku ingin lolos dengan usahaku sendiri, bukan mengandalkan Kak Marvin" Brianna mencebik sedangkan Nina hanya terkekeh.
"Asik sekali mengobrolnya"
Seseorang mengganggu obrolan Brianna dan Nina. Keduanya menoleh dan mendapati Marvin yang mendekat ke arah mereka.
"Kak, barbeque nya sudah matang" Brianna mengambil satu tusuk barbeque, lalu mengarahkannya pada mulut Marvin dengan maksud menyuapi. Dengan senang hati Marvin membuka mulutnya dan melahap potongan barbeque tersebut.
"Bagaimana rasanya?"
"Tentu saja rasa barbeque"
"Aishh maksudku rasanya enak atau tidak?" Kesal Brianna.
Marvin terkekeh lalu mengacak rambut Brianna dengan gemas "Enak sayang" bisik Marvin.
Tiba-tiba Marvin memeluknya dari belakang, menopang dagunya di pundak Brianna. Tangannya terulur membantu Brianna memanggang barbeque yang lain.
"Kak, ada Nina disini" bisik Brianna berusaha melepas pelukan Marvin.
"Biarkan saja" jawab Marvin tak peduli.
Brianna mendengus, ia malu harus bermesraan di hadapan sahabatnya. Nina pasti risih.
Nina yang sedari tadi berdiri di samping Brianna merasa iri melihat keromantisan Marvin. Dirinya jadi ingin memiliki kekasih. Brianna sangat beruntung bisa dicintai oleh pria itu tidak seperti dirinya yang belum pernah merasakan di cintai oleh seorang pria. Berpacaran pun ia belum pernah.
Nina pergi meninggalkan Brianna dan Marvin berdua. Brianna menjadi tidak enak pada Nina.
"Tuh kan kak Nina jadi pergi, dia pasti risih".
"Dia tidak risih, hanya saja tidak ingin mengganggu kita berdua" kekeh Marvin lalu mengecup pipi bulat gadisnya.
Mereka berdua tidak sadar bahwa orang tua Marvin maupun Brianna sedang memperhatikan dari kejauhan. Yasmine, Livy dan suaminya tengah duduk di salah kursi yang sudah disiapkan beserta hidangan-hidangan yang pelayan sajikan.
Tidak hanya itu, para pelayan pun menjadi saksi kemesraan Marvin dan Brianna. Karena seluruh pelayan di sana turut merayakan pesta tersebut.
"Lihat anak kita, bukankah mereka semakin romantis. Marvin ku terlihat sangat mencintai putrimu, Yasmine". Ucap Livy sambil senyum-senyum tak jelas melihat kelakuan putranya yang terus menggoda Brianna.
"Kapan mereka akan menikah?" Tanya Henry sambil menyeruput kopi di tangannya.
Livy sontak melirik ke arah Yasmine seolah-olah menuntut jawaban dari calon besannya itu.
"Aku rasa Brianna masih terlalu kecil untuk menikah muda" jawab Yasmine. Hal tersebut membuat Livy kecewa mendengarnya. Jujur saja ia ingin sekali melihat Marvin dan Brianna menikah secepat mungkin. Mengingat sudah sangat lama Marvin menanti gadis itu.
"Yasmine apa kau tidak lihat kedekatan mereka? Tidak baik jika mereka berpacaran terlalu lama. Apalagi umur Marvin sekarang sudah lebih dari 30 tahun. Marvin sudah sabar menunggu putrimu sampai lulus SMA agar bisa menikahinya".
Yasmine terdiam, tiba-tiba ia teringat dulu Marvin pernah meminta izin padanya untuk menikahi Brianna secepatnya. Tentu saja Yasmine tidak menyetujuinya, mengingat umur Brianna baru menginjak 17 tahun. Brianna masih terlalu kecil untuk menikah dan belum dewasa.
Marvin menghormati keputusan Yasmine walaupun ada guratan kekecewaan di wajahnya, pria itu tidak memaksa dan berusaha bersabar. Akhirnya Yasmine memberi saran pada Marvin untuk menunggu Brianna sampai putrinya lulus SMA. Dan sekarang Brianna telah lulus, tidak lama lagi mungkin Marvin akan menagih janjinya untuk merestui pernikahan mereka.
Apalagi sekarang Yasmine melihat Brianna semakin menempel pada Marvin. Jika mereka dibiarkan bersama tanpa ada ikatan pernikahan memang tidaklah baik. Bisa saja keduanya lepas kendali, terutama Marvin. Pria itu sudah dewasa dan sudah pasti kebutuhan biologisnya semakin tinggi.
"Yasmine?" Panggil Livy.
"Ah y..ya?"
"Tolong, biarkan Marvin menikahi putrimu" Kini Livy memohon pada Yasmine. Wanita itu berpikir sejenak, mungkin ini sudah saatnya. Brianna terlihat sangat bahagia bersama Marvin, dan pria itu belum pernah mengecewakan Brianna sekalipun. Marvin selalu berusaha melindungi Brianna dan membuatnya bahagia.
Tangan Livy terulur menyentuh punggung tangan Livy, kemudian tersenyum hangat.
"Baiklah besan"
Sontak Livy memekik bahagia, sampai-sampai para pelayan menatap ke arahnya.
"Terima Kasih Yasmine, mereka pasti senang mendengar kabar baik ini" Livy menatap Yasmine dan suaminya secara bergantian. Ketiganya saling melemparkan senyum dan kembali memperhatikan kegiatan putra putrinya.
"Tapi... Apa Brianna sudah siap menikah di usianya sekarang?" Keraguan muncul di wajah Yasmine.
Livy terkekeh melihatnya perasaan wanita itu justru sebaliknya, Livy yakin Brianna siap dan tidak bisa menolak lamaran Marvin.
"Jika putrimu ragu, aku akan berusaha meyakinkannya" Livy mengerlingkan matanya pada Yasmine. Lalu berlari menuju Marvin dengan raut bahagia.
"Istriku sepertinya sangat menyukai Brianna, dia terlihat bersemangat" ucap Henry sambil terkekeh melihat kelakuan istrinya.