My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Menemani Suami Lembur



Brianna meletakkan secangkir kopi di atas meja, menyajikannya untuk sang suami yang terlihat serius dengan pekerjaannya. Saat ini ia tengah menemani suaminya bekerja lembur di rumah. Satu jam yang lalu Marvin baru saja pulang dari kantor dan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah menikmati makan malam yang singkat.


"Kak, kopinya" Brianna bersuara mencoba mengalihkan perhatian Marvin, namun pria itu hanya bergumam sambil fokus menatap laptopnya.


Akhir-akhir ini Marvin terlihat sangat sibuk. Terbukti hampir setiap hari pria itu pulang larut malam. Brianna duduk di sofa tepat di depan meja kerja Marvin, sambil mengelus perutnya. Kini kandungannya sudah berusia 7 bulan. Dalam setiap usapannya, Brianna merasakan ada tendangan kecil di dalam perutnya. Beberapa minggu ini Brianna sudah mulai merasakan pergerakan janinnya, hatinya membuncah senang. Namun hingga saat ini, ia belum tahu jenis kelaminnya karena setiap melakukan USG si jabang bayi selalu menutupinya malu-malu. Sepertinya baby Xavier ingin memberi kejutan.


Brianna kembali melanjutkan aktivitasnya memperhatikan sang suami. Brianna bisa melihat gurat kelelahan di wajah tampan Marvin. Pria itu sama sekali belum menyentuh kopinya, ingin sekali ia meminta Marvin untuk istirahat sejenak. Namun Brianna takut akan mengganggu Marvin.


Marvin terlihat beberapa kali menerima panggilan yang entah dari siapa. Brianna tidak mengerti apa yang Marvin ucapkan karena pria itu menggunakan bahasa asing.


Seperti saat ini pria itu tengah menerima telepon, berbicara dengan serius seraya menelisik dokumen di tangannya. Keningnya mengkerut dengan wajah serius. Terlihat ada ketegangan dalam obrolannya, entah apa itu. Sepertinya ada masalah serius dalam pekerjaan Marvin.


Sekali lagi Brianna hanya diam seperti orang bodoh. Layaknya sebuah patung yang menghiasi ruang kerja Marvin. Bahkan untuk bersuara pun Brianna tidak berani, apalagi melihat ekspresi suaminya saat ini. Brianna bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, pergi ke kamar atau tetap di sana menemani Marvin.


"Kau atur semuanya, aku akan mencari solusinya lalu menghubungi mu segera"


Marvin menutup panggilan terakhirnya lalu melempar ponselnya asal di atas tumpukan kertas yang sudah berantakan. Kedua sikutnya tertumpu di atas meja, mengurut keningnya yang terasa ingin pecah. Pria itu tidak sadar bahwa masih ada orang lain yang memperhatikannya.


Brianna penasaran kira-kira masalah apa yang suaminya hadapi sekarang. Apa dirinya bisa membantu? Oh apa yang bisa ia lakukan ketika otaknya buta dengan dunia bisnis. Mulutnya terasa gatal ingin bertanya namun ia takut mengganggu konsentrasi Marvin apalagi saat ini mood suaminya terlihat buruk. Jadi yang ia lakukan sekarang adalah duduk manis di atas sofa sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.


Marvin mendesis beberapa kali seperti mengeluarkan kata-kata umpatan dari mulutnya. Syukurlah Brianna tidak mendengarnya.


Marvin mendongakkan wajahnya, dan detik itu pula tatapannya bertemu dengan mata Brianna.


"Sayang kau masih di sini?" Marvin tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Astaga sudah berapa lama Brianna di sana?


"Aku ingin menemani Kakak"


"Ini sudah malam, lebih baik tidurlah lebih dulu. Jangan menungguku"


"Aku belum mengantuk"


Marvin menghela nafasnya, apa boleh buat ia tidak bisa melarang Brianna jika sudah seperti ini. Hanya saja ia tidak ingin Brianna melihat kekalutannya malam ini.


"Kakak ada masalah?" Brianna memberanikan diri untuk bertanya. Marvin mengangkat wajahnya menatap manik mata Brianna yang juga menatapnya.


"Kemarilah"


Bukannya menjawab, Marvin justru meminta Brianna untuk mendekat. Dengan senang hati Brianna menurut. Begitu sampai Marvin langsung menarik tubuh mungil itu duduk di atas pangkuannya. Ekspresi wajah Marvin berubah seketika, rasa lelahnya menguap begitu melihat wajah lugu sang istri.


"Tidak apa-apa" Brianna mengelus pundak Marvin. Pria itu menyunggingkan senyumnya, lalu mengecup bibir Brianna sekilas.


"Emm Kakak ada masalah?" Tanya Brianna hati-hati. Pertanyaan yang belum sempat Marvin jawab.


"Bukan masalah serius" Marvin memaksakan senyumnya lalu menunduk menatap perut istrinya yang sudah terlihat membesar, mengelusnya dengan perlahan. Marvin pun merasakan bobot badan Brianna terasa lebih berat.


"Jangan berbohong, Kakak terlihat kalut sekali tadi"


Marvin menghela nafasnya. Di peluknya tubuh itu dengan erat berbagi kehangatan tubuhnya dengan Brianna. Wajah Marvin menyusup pada ceruk leher Brianna, menghirup aroma tubuh sang istri di sana untuk melepas rasa lelahnya. Perlahan pikirannya jauh lebih tenang dengan posisi seperti itu. Aroma istrinya berhasil mengangkat beban pikirannya untuk sejenak.


"Kakak bisa menceritakannya padaku, mungkin aku bisa membantu" Brianna mengelus rambut Marvin lembut. Seperti seorang ibu yang sedang menenangkan putra kecilnya. Brianna siap menjadi pendengar yang baik untuk suaminya.


Marvin tersenyum dalam diam, hatinya menghangat merasakan usapan di kepalanya. Sepertinya tidak masalah jika berbagi keluh kesahnya pada Brianna, wanita yang ada hadapannya ini adalah istrinya.


Marvin menarik wajahnya di leher Brianna, menatap paras cantik itu dengan seksama.


"Kau tahu kan aku memiliki sebuah perusahaan di Jepang?"


Brianna mengangguk, ia tahu karena Marvin sering pergi ke sana.


"Terjadi masalah di sana"


"Apa masalahnya serius?" Brianna menatap suaminya khawatir, namun Marvin membalasnya dengan senyuman kecil.


"Cukup serius, tapi tenang saja suamimu yang tampan ini bisa mengatasinya." Ucap Marvin percaya diri "Aku sudah terbiasa menghadapi masalah bisnis seperti ini, jadi kau tenang saja percaya padaku".


"Umm aku percaya, Kakak adalah pria yang luar biasa" Brianna tersenyum lembut, lalu mencium pipi Marvin. Pria itu terkekeh dengan sikap Brianna yang semakin manis saja akhir-akhir ini. Marvin membalasnya dengan mengecup bibir Brianna, lalu menyesapnya merasakan manisnya bibir mungil itu. Akhir-akhir ini ia jarang sekali merasakannya karena terlalu sibuk bekerja.


Tapi tak lama kemudian Marvin melepas ciumannya, ia hampir saja melupakan sesuatu. Pancaran matanya kini berubah sedih.


"Kakak ada apa?" Rupanya Brianna sadar dengan perubahan ekspresi suaminya.


Marvin kembali menatap Brianna dengan sendu "Maaf aku baru ingat, aku..." Marvin terlihat ragu mengatakannya.


"Hmm?"


"Aku harus pergi ke sana"