
Sepertinya Brianna hanya menganggap ucapan Marvin mengenai pernikahan itu hanyalah lelucon belaka. Gadis itu tidak menganggap serius ucapan Marvin, Brianna hanya tertawa kecil kemudian kembali bergelut dengan istana pasirnya.
Pernikahan sama sekali belum terbesit dalam pikirannya. Brianna belum pernah membayangkan menikah dengan Marvin. Yang ada di pikirannya saat ini adalah belajar dan bermain.
Sementara itu Marvin memang serius dengan ucapannya. Pria itu benar-benar melamar Brianna. Marvin Xavier bukanlah pria yang romantis, kalimat itu spontan terlontar dari mulutnya dan tidak pernah sedikitpun untuk bercanda. Tapi melihat reaksi Brianna yang seperti itu, Marvin sedikit kecewa, tapi ia memaklumi situasi seperti ini emang kurang cocok untuk melamar. Brianna pasti menganggap Marvin hanya bercanda saja.
Baiklah, mungkin ia akan memikirkan cara yang lebih romantis untuk melamar gadis kecilnya ini.
#
Setelah puas bermain istana pasir, Marvin langsung mengajak Brianna pergi makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel. Keduanya saling bergandengan tangan sambil melemparkan senyumannya masing-masing. Keduanya terlihat begitu serasi, membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri. Termasuk seorang gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka, orang tersebut adalah Steffy.
Gadis itu terlihat mencebik kesal melihat keromantisan Marvin pada Brianna. Sikap manis Marvin benar-benar membuatnya merasa iri apalagi yang menerimanya adalah temannya. Ah tidak, Steffy tidak pernah menganggap Brianna sebagai teman, melainkan rival.
"Cihh apa menariknya gadis itu? Gadis miskin anak dari seorang pelayan. Apa Marvin Xavier masih waras memacari gadis udik sepertinya" cibir Steffy.
Sedari tadi ia memang memperhatikan kedua sejoli tersebut. Steffy sungguh penasaran dengan sosok Marvin Xavier. Bahkan ia rela ijin sekolah hari ini agar ia bisa melihat kegiatan Marvin. Steffy tahu Marvin melanjutkan liburannya disini, berkat informasi dari pamannya.
Sialnya ia harus mendapatkan pemandangan yang menurutnya sangat menjijikan. Ia bersumpah akan menghancurkan kebahagiaan Brianna Carissa. Sungguh ia tidak terima melihat gadis itu diperlakukan seperti tuan putri, karena dirinya yang lebih pantas mendapatkannya.
***
Marvin membawa Brianna ke salah satu restoran Seafood. Brianna terlihat begitu antusias melihat beberapa menu makanan disana, terlihat sangat menggiurkan. Lidahnya belum pernah merasakan makanan mewah seperti itu.
"Pesan saja apa yang kau mau"
"Ini membingungkan, rasanya aku ingin makan semuanya kak"
"Baiklah, aku bisa memesan semuanya untukmu. Pelayan!"
"Kak aku hanya bercanda, perutku bisa meledak jika memakan semuanya" Brianna mendengus, sedangkan Marvin justru tertawa.
Seorang pramusaji datang menghampiri mereka dengan membawa note kecil ditangannya.
"Selamat datang di restoran kami, anda ingin memesan apa Tuan?"
"Aku ingin memesan menu paling favorit di sini. Bisa kau rekomendasikan?"
Pelayan tersebut dengan lugas menyebutkan beberapa menu andalan. Marvin dengan seksama mendengarkan, sedangkan Brianna memilih mengeluarkan ponselnya, ia tidak mengerti apa yang disebutkan oleh pelayan tersebut.
Selama menunggu makanannya datang Brianna memilih untuk berfoto-foto dengan ponselnya. Brianna terlihat berpose imut dengan ekspresi yang sungguh menggemaskan.
"Tidak ingin mengajakku?"
Brianna terkejut karena Marvin sudah duduk di sampingnya. Sejak kapan pria itu memindahkan kursinya?
"Dari tadi kita belum foto bersama kan?" Marvin merebut ponsel tersebut di tangan Brianna. Mereka mengambil foto selfie bersama dengan gaya peace yang selalu di andalkan.
Beberapa foto berhasil mereka ambil, keduanya tampak tersenyum puas dengan hasilnya.
Tak lama kemudian makanan mereka datang. Brianna menganga takjub melihat olahan hewan laut itu terpampang jelas di depannya, terutama pada lobster besar yang paling menarik perhatiannya.
"Selamat menikmati"
Awalnya acara makan siang tersebut berjalan dengan lancar namun sesuatu yang aneh terjadi pada Brianna. Dipertengahan wajah Brianna berubah berkeringat dan pucat, gadis itu menghentikan kunyahan nya saat merasakan perutnya bergejolak dan melilit. Marvin pun menyadari itu, Brianna terlihat tidak nyaman.
"Ahhhhh" Brianna meremas perutnya yang terasa mulas luar biasa. Bahkan ia belum sempat menghabiskan semuanya.
"Sayang kau kenapa?" Marvin menyentuh tangan Brianna yang berkeringat dingin. Pria itu terlihat khawatir.
"Kak, aku izin ke toilet"
Brianna langsung berlari ke belakang restoran mencari toilet, bahkan ia tidak mampu menahan buang angin. Pencernaan Brianna sepertinya bermasalah, apa karena makanan tadi?
#
15 menit telah berlalu, Marvin semakin khawatir karena Brianna tak kunjung kembali. Akhirnya Marvin memutuskan untuk menyusulnya.
Marvin menunggu di depan toilet wanita, bahkan ia tidak peduli dengan tatapan para wanita yang kebetulan keluar dari toilet dengan tatapan waspada.
Sementara itu Brianna terlihat bolak balik keluar toilet. Terhitung sudah 5 kali ia keluar masuk bilik toilet, rasa mulas di perutnya belum juga mereda. Padahal tubuhnya sudah mulai lemas.
Brianna menopang tubuhnya di depan cermin, kepalanya tertunduk, nafasnya terdengar tidak beraturan, keringat dingin masih membasahi wajahnya.
"Sayang kau di dalam?"
Brianna mendongak ketika mendengar suara Marvin. Marvin pasti cemas karena hampir setengah jam ia tidak kunjung kembali. Setelah merasa lebih baik Brianna membasuh wajahnya lalu memutuskan untuk keluar.
"Kak"
"Astaga apa yang terjadi?" Marvin semakin panik melihat wajah pucat Brianna.
"Perutku sangat mulas kak, sakit sekali"
"Kita ke dokter, sepertinya kau salah makan"
"Tidak mau, aku ingin pulang saja"
"Tapi pencernaan mu harus segera diobati. Ckkk ini pasti karena makanan tadi! Aku akan menuntut restoran ini!"
"Tidak apa-apa kak, sekarang jauh lebih baik"
"Kita harus ke dokter sekarang juga"
"Kak, ku mohon jangan panggil dokter, beli saja obat" Brianna menatap Marvin memelas, sungguh ia tidak suka dokter. Brianna sangat takut di suntik.
"Aisssh baiklah kita kembali ke hotel, aku akan meminta James membeli obat".