
Hari Pernikahan 💐
Akhirnya hari yang paling di nanti pun tiba. Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi sebuah gedung mewah yang dimana sebuah pesta pernikahan sedang berlangsung di sana. Pernikahan Marvin dan Brianna berlangsung hari ini dan berjalan dengan lancar, beberapa menit yang lalu pasangan tersebut telah berhasil mengucapkan janji suci mereka di hadapan Tuhan. Mereka telah sah menjadi sepasang suami istri, baik di mata hukum maupun agama.
Wajah keduanya terlihat berseri-seri menunjukkan bahwa hari ini mereka tengah berbahagia. Begitu pula orang tua mereka, Livy dan Yasmine terlihat meneteskan air mata harunya melihat putra-putri mereka kini bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Untuk pengantin pria silahkan untuk mencium istri anda" ucap sang pastor diiringi riuh para tamu undangan yang tidak sabar menanti moment ini.
Marvin dan Brianna kini saling berhadapan, pandangan keduanya bertemu membuat wajah Brianna merona seketika. Jantungnya berdebar dengan cepat saat Marvin menatapnya dengan sangat intens, belum lagi para undangan terus berteriak menggodanya.
Tangan kanan Marvin terulur mengelus pipinya dan sedikit mengangkat wajahnya. Pria itu terkekeh melihat wajah gugup Brianna ditambah lagi wajahnya yang memerah.
"Apa kau gugup?" Bisik Marvin mendekat. Tangan kirinya sudah melingkar manis di pinggang ramping sang istri.
Brianna mengangguk dengan polos, tanpa sadar gadis itu menggigit bibir bawahnya membuat Marvin mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang bibir manis itu.
Marvin mengulum senyumnya lalu mengikis jarak wajah mereka. Brianna dengan refleks menutup matanya.
Cup!
Sebuah kecupan berhasil mendarat di kening Brianna, menekannya lebih lama membuat hati Brianna menghangat seketika. Bibir tipisnya melengkung ke atas, menampilkan senyuman indah yang selalu membuat jantung Marvin berdebar tak karuan setiap melihatnya.
Ciuman Marvin turun ke hidung dan terakhir bibir manis sang istri. Menekan bibirnya dengan pelan dan sedikit **********. Tidak ada ciuman menggebu-gebu penuh nafsu, yang ada adalah ciuman penuh cinta dan ketulusan.
"Aku Mencintaimu Nyonya Xavier"
Brianna membuka matanya begitu Marvin selesai menciumnya, gadis itu tak kuasa menahan senyumnya lagi. Entah keberanian darimana Brianna langsung melingkarkan tangannya di pinggang Marvin, memeluk tubuh tegap itu dengan erat.
"Aku juga mencintaimu, Kak" balas Brianna.
Bunyi riuh tepuk tangan kembali terdengar, semua tamu undangan turut berbahagia melihatnya tak sedikit dari mereka mengabadikan moment manis tersebut, begitupun dengan awak media. Mereka dengan semangat mengangkat kamera mereka hingga menghasilkan gambar yang siap menjadi santapan publik di luar sana.
"Waktunya melempar bunga!" Salah satu dari tamu undangan berteriak membuat seluruh tamu di sana tertawa. Nina yang juga hadir di sana langsung memberikan satu bucket bunga pada Brianna. Para tamu yang merasa dirinya belum memiliki pendamping hidup langsung berkumpul mengambil barisan, berburu bunga yang akan di lempar pasangan pengantin tersebut. Konon katanya bagi siapapun yang berhasil menangkap bunga pengantin tersebut, maka dia akan segera mendapatkan jodoh.
"Kita hitung sampai tiga!"
"1..."
"2..."
"3!"
Brianna dan Marvin langsung melempar bunga tersebut ke arah tamu yang berkumpul.
Hap!!
Mia yang kebetulan berada di kerumunan orang-orang single tersebut berhasil menangkap bunganya. Namun di waktu bersamaan sepasang tangan lain juga menangkap bunga tersebut.
Mia terkejut melihat tangan tersebut menggenggam punggung tangannya, ia yakin si pemilik tangan adalah seorang pria. Ia mendongak melihat siapa pemilik tangan tersebut dan seketika matanya membulat.
"Tu..tuan James?"
#
"Selamat atas pernikahan kalian" Hanna memeluk Brianna dan Marvin secara bergantian, rona bahagia terlihat jelas di wajah cantik Livy. Begitupula dengan Yasmine wanita itu tak kuasa menahan air matanya begitu memeluk anak semata wayangnya.
"Kenapa mama menangis?" Tanya Brianna khawatir, ia mengusap air mata sang ibu yang merembes membasahi pipinya.
"Tidak apa-apa, mama hanya terlalu bahagia. Mama benar-benar tidak menyangka putriku menikah secepat ini dan mama sedih karena harus melepas mu untuk suamimu". Yasmine terkekeh di sela-sela tangisannya.
"Ma..." Brianna kembali memeluk mamanya, gadis itu jadi menangis mendengar ucapan sang mama.
"Walaupun aku menikah, aku tidak akan pernah meninggalkan mama"
"Ya mama tau, ssst jangan menangis nanti riasan di wajahmu hancur" Yasmine melepas pelukannya lalu mengusap pipi putrinya. Keduanya saling melempar senyum dan menenangkan satu sama lain.
Setelah itu Yasmine beralih memeluk Marvin "Tolong jaga putriku dengan baik, jangan pernah menyakitinya dan bahagiakan dia" Yasmine mengusap punggung lebar Marvin dan pria itu membalasnya "Tentu saja, tanpa diperintah pun aku akan melakukannya, Anna adalah tanggungjawab ku sekarang" jawab Marvin.
"Aku percaya padamu" Yasmine tersenyum begitu tulus. Hatinya merasa lega mendengar ucapan Marvin, ia berharap putrinya bisa hidup bahagia bersama Marvin.
#
Brianna hanya mengulum senyumnya mendengar puji-pujian mereka dengan wajah yang merona.
"Selamat atas pernikahanmu sahabatku, kau cantik sekali hari ini"
Nina datang memberi ucapan yang entah keberapa kalinya, gadis itu tidak bosan-bosannya memuji kecantikan Brianna.
Brianna hanya terkekeh lalu memeluk Nina "Terima Kasih sahabatku".
"Setelah ini kau harus segera memberiku keponakan yang lucu"
"Hah? Keponakan?" Brianna tidak mengerti.
"Astaga, maksudku bayi. Kalian tidak berniat menunda memiliki anak kan?"
"Ah itu... Aku tidak tahu" Brianna mengusap tengkuknya dengan wajah memerah. Ia melirik ke arah Marvin yang sedang sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya.
Bayi? Itu tandanya suatu saat nanti dirinya akan mengandung buah hatinya dengan Marvin. Membayangkan saja wajahnya langsung memanas.
"Aku tunggu kabar baiknya nanti" Nina mengkerlingkan matanya lalu pergi berbaur dengan tamu yang lain, ah tidak, lebih tepatnya berbaur dengan meja yang penuh makanan lezat.
Setelah Nina pergi kini giliran James yang datang. Pria itu merentangkan tangannya dan langsung di sambut oleh Brianna. Gadis itu memeluk James dengan senang hati, tanpa repot-repot meminta izin pada Marvin. Lagipula suaminya itu sedang sibuk dengan tamunya.
"Kak, aku merindukanmu!"
"Aku juga merindukanmu gadis kecil" balas James.
"Kakak kemana saja selama ini?"
Tanya Brianna lalu melepas pelukannya.
"Aku sibuk mengurus perusahaan Marvin yang ada di Negara C. Maaf aku tidak menghadiri pesta kelulusanmu"
"Ckk kenapa tidak mengabariku?"
"Nanti suamimu yang galak itu bisa membunuhku jika terlalu sering menghubungimu" kekeh James.
Selama 2 minggu terakhir James memang di tugaskan untuk mengurus masalah perusahaan Marvin yang ada di Negara C, itu sebabnya mengapa di pesta barbeque waktu itu James tidak terlihat. James baru kembali dari Jepang kemarin malam, ia sangat menyesal karena tidak ikut andil dalam persiapan pernikahan Marvin dan Brianna.
"Kapan menyusul kami?"
"Maksudmu?"
"Menyusul kami menikah". sambung Marvin tiba-tiba membuat Brianna terkejut.
"Kakak punya kekasih kan? Ah jangan bilang kalau kakak masih single".
James mengusap tengkuknya malu, Brianna benar dirinya memang masih single.
"Astaga, bagaimana mungkin pria setampan dirimu tidak laku?"
"Apa???" James terkejut mendengar ucapan Brianna yang terdengar tidak sopan itu, ia mendelik ke arah Marvin yang sudah tertawa.
"Ckk ini pasti gara-gara kak Marvin"
Marvin menghentikan tawanya "Kenapa menyalahkan aku?"
"Kakak terlalu banyak memberinya pekerjaan, kak James jadi tidak memiliki waktu untuk mencari kekasih dan berkencan".
"Ah itu benar Brianna, suamimu itu selalu membuatku pusing" James mengeluh pada Brianna dan langsung dilempari tatapan tajam oleh Marvin. Namun James tidak takut sama sekali, pria itu justru terkekeh mengejek.
"Dia nya saja yang tidak menarik, kenapa menyalahkan aku" dengus Marvin kesal.
"Kau tenang saja Brianna, sebentar lagi aku akan mendapatkan gadis impian ku" ucap James penuh arti. Ia melirik salah satu gadis yang sedang duduk di antara kursi tamu. Sosok yang selama ini menarik perhatiannya dan belum sempat ia dekati.