
Ruangan bernuansa putih langsung menyambut Brianna begitu matanya terbuka. Setelah hampir 2 jam tak sadarkan diri akhirnya Brianna tersadar dari pingsannya. Matanya mengerjap beberapa saat menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya, alisnya menyerngit karena merasa asing dengan tempatnya berada sekarang.
"Sayang kau sudah sadar?" Sayup-sayup Brianna mendengar seseorang berbicara padanya. Gadis itu merasakan ada genggaman hangat di telapak tangannya.
"Kakak?" Brianna melihat suaminya tengah berdiri di sisi ranjangnya. Tersenyum dengan tatapan teduhnya.
Brianna mengangkat kepalanya bermaksud ingin menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Rasa pening masih menjalar di kepalanya, membuat Brianna meringis. Marvin dengan sigap membantu Brianna duduk, tatapannya kembali berubah khawatir begitu mendengar ringisan tersebut.
Marvin mengambil segelas air putih untuk Brianna dan langsung di minumnya hingga tandas
"Apa kepalamu pusing?"
Brianna mengangguk kecil, wajahnya masih terlihat pucat namun berusaha untuk tersenyum. "Sedikit pusing, tapi sekarang jauh lebih baik". Brianna menunduk menatap pergelangan tangan kirinya, di sana sudah ada jarum infus yang terpasang.
"Aku akan memanggil dokter"
"Tidak usah, aku baik-baik saja Kak"
"Kau yakin?"
"Iya"
Marvin mengelus pucuk kepala Brianna dengan lembut, senyuman manisnya kembali terlihat dan bola matanya juga berbinar. Sebelumnya dokter sudah memeriksa Brianna dan memberitahu penyebab Brianna pingsan.
Awalnya Marvin memang cemas luar biasa. Begitu sampai di rumah sakit, teman Brianna yang tidak ia ketahui namanya itu langsung menjelaskan kronologis kejadiannya. Saat itu teman Brianna pergi ke toilet, ia mendapati Brianna menunduk sambil memuntahkan sesuatu di depan westafel. Walaupun gadis itu tidak terlalu akrab dengan Brianna, ia khawatir melihat Brianna terus muntah-muntah. Gadis itu sempat memberikan minyak hangat untuk meredakan rasa mualnya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, karena setelah itu Brianna jatuh pingsan.
Setelah mendengar penjelasan dokter rasa cemasnya perlahan berganti menjadi rasa senang yang amat sangat.
Brianna melihat tingkah Marvin saat ini, ia merasakan suaminya mengusap perutnya sambil tersenyum menatap fokus ke arah sana. "Kakak, sebenarnya aku kenapa? Dan siapa yang membawaku kemari?"
Brianna diam sejenak, ia jadi ingat saat ingin makan siang di kantin tadi perutnya tiba-tiba terasa mual luar biasa. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti ini, dirinya juga tidak memiliki riwayat penyakit magh. Jadi apa penyebabnya?
"Lalu apa kata dokter Kak? Aku sakit apa?"
"Kau kelelahan sayang dan juga..." Marvin menghentikan ucapannya, matanya kembali menatap perut Brianna dengan senyuman mengembang.
"Dan apa?" Tanya Brianna tak sabaran, kenapa Marvin terus mengusap perutnya?
"Kau hamil"
Hening, Brianna terdiam mencoba mencerna kalimat Marvin barusan. Jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang, dirinya tidak salah dengar kan?
"Ha..hamil?" Brianna mengerjap beberapa saat. Ia menunduk menatap perutnya yang masih diusap oleh Marvin dengan sangat lembut.
"Benar sayang, kau sedang hamil sekarang. Di sini little Xavier kita sudah tumbuh usianya baru 2 minggu" Marvin menarik tangan Brianna untuk ikut mengusap perutnya, meyakinkan gadis itu jika di dalam rahimnya telah tumbuh buah cinta mereka. Air mata mulai berkumpul di pelupuk mata Brianna, hatinya membuncah senang. Itu tandanya sebentar lagi ia akan menjadi sosok Mama.
"Ka..Kakak, ini bukan mimpi kan?" Air mata kebahagiaan Brianna jatuh di sudut matanya. Dengan cepat Marvin menangkup pipi bulat istrinya lalu mengecup bibirnya singkat. "Ini nyata sayang, kau bahagia?"
Brianna mengangguk dengan senyuman merekah, ia tidak menyangka akan menjadi seorang Mama secepat ini. Sebelumnya Marvin juga mengungkapkan jika pria itu ingin segera memiliki anak dan sekarang Tuhan telah mewujudkan keinginan Marvin. Pancaran kebahagiaan itu begitu jelas di wajah tampan suaminya, Brianna bahagia melihatnya.
"Maaf mungkin karena aku menyentuhmu semalam kau jadi kelelahan. Aku tidak tahu kalau little Xavier sudah hadir" Marvin menatap Brianna merasa bersalah. Jika saja ia lebih bisa menahan nafsunya mungkin Brianna tidak akan seperti ini. Marvin baru sadar perubahan sikap Brianna akhir-akhir ini karena di pengaruhi oleh janin diperut istrinya, buah hati mereka.
"Tidak apa-apa Kak, ini bukan salahmu. Lagipula aku baik-baik saja sekarang"
Marvin tersenyum kemudian mengecup kening istrinya "apa Mama kita sudah tahu kabar ini?"
"Aku belum memberitahu mereka, ini akan menjadi kejutan saat kita pulang".