
Acara pesta telah di mulai beberapa menit yang lalu. Pesta tersebut dilaksanakan tepat di bibir pantai yang telah di sulap dengan sedemikian rupa.
Brianna terlihat melingkarkan tangannya pada lengan Marvin. Keduanya terlihat begitu serasi, membuat siapapun yang melihatnya merasa iri. Termasuk wanita-wanita single yang menjadi bagian pengagum Marvin.
Brianna menundukkan wajahnya ketika banyak pasang mata yang memperhatikannya. Ada beberapa pria yang menatap terpesona padanya adapula beberapa wanita yang saling berbisik membicarakannya.
Jelas Brianna merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka. Ia meremas lengan Marvin membuat pria itu menatapnya.
"Abaikan saja mereka, dan angkat wajahmu" bisik Marvin. Ia tahu Brianna tidak nyaman, Marvin pun merasa geram dengan tatapan orang-orang pada gadisnya, khususnya para pria yang menatap penuh minat pada Brianna.
Rasanya ia ingin mengeluarkan mata mereka satu persatu.
"Marvin, akhirnya kau datang"
Seorang pria menghampiri mereka dengan senyuman mengembang. Pria itu bernama Samuel, rekan bisnis Marvin sekaligus pemilik pesta tersebut.
"Selamat atas kesuksesan bisnismu Tuan Sam" Marvin memberikan salam hangat, membuat pria itu tertawa renyah.
"Terima kasih, ini juga karena berkatmu yang selalu membantuku. Kau sangat luar biasa dalam hal bisnis. Aku banyak belajar padamu. Ahh ngomong-ngomong siapa gadis cantik ini?"
Brianna tersenyum kikuk, lalu membungkuk kecil "Hallo Tuan namaku Brianna Carissa"
"Perkenalkan namaku Samuel, apa kau adik Marvin?"
Brianna dan Marvin terkejut mendengar tebakan Samuel, dengan cepat Marvin mengoreksinya "Bukan, dia kekasihku"
"Kekasih??" Samuel lebih terkejut lagi, Di matanya Brianna terlihat sangat muda, wajar saja ia berpikiran jika Brianna adalah keponakan Marvin.
"Astaga! Maaf-maaf aku pikir dia adikmu".
"Aku tidak memiliki adik"
"Ah iya aku baru ingat haha. Kalau begitu silahkan nikmati pestanya, aku harus menemui rekanku yang lain"
Setelah itu mereka pun berbaur dengan para tamu. Banyak teman bisnis Marvin yang hadir dalam pesta tersebut. Hal ini membuat Marvin hampir lupa jika ia membawa Brianna.
"Kak! Kak!" Brianna menarik-narik ujung jas Marvin, menarik perhatian Marvin yang sedari tadi mengabaikannya, sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya.
"Ada apa sayang?"
"Aku ingin itu"
Brianna menunjuk salah satu meja yang di penuhi kue-kue cantik yang terlihat lezat.
"Ambil saja, kau bebas makan apapun di sini"
Tanpa pikir panjang Brianna langsung menghampiri meja tersebut dan memilih sebuah cup cake yang menarik perhatiannya sedari tadi.
"Ummm enak sekali" mata Brianna langsung berbinar saat makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya.
Brianna mengambil sebuah kursi dan duduk seorang diri. Ini lebih baik daripada ia melihat Marvin mengobrol dengan temannya, ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
#
Cukup lama Brianna duduk di sana, gadis itu mulai bosan. Sementara itu Marvin masih mengobrol dengan teman-temannya. Brianna mendengus jadi apa gunanya ia di sana? Ternyata pesta orang kaya sangatlah membosankan. Jika keadaannya seperti ini lebih baik ia menonton tv saja di rumah.
Brianna memutuskan untuk kembali pada Marvin, ia akan meminta sang kekasih untuk mengantarnya kembali ke hotel.
Namun pada saat ia berjalan menuju Marvin, Brianna tidak sengaja menabrak tubuh seorang wanita hingga minuman yang ia bawa tumpah dan mengotori gaun yang dikenakannya.
"Apa kau tidak punya mata hah!" Teriak wanita tersebut marah.
"Astaga! Aku benar-benar tidak senga.... Steffy???"
Brianna terkejut saat wanita yang tabrak itu adalah Steffy. Sedang apa dia di sini?
"Apa yang kau lakukan di sini hah! Lihat gaunku, kau mengotorinya Brianna Carissa!"
Suara tinggi Steffy berhasil menarik banyak orang. Para tamu mulai mendekati mereka untuk melihat apa yang terjadi.
"Maaf.. aku benar-benar tidak sengaja, aku akan membersihkannya".
Brianna mengambil sapu tangannya yang ia simpan di dalam tas kecilnya. Namun Steffy segera menepis seolah-olah Brianna adalah bakteri yang mematikan.
"Kau tahu berapa harga gaun hah! Kau tidak akan mampu membelinya Brianna Carissa!"
"Maafkan aku Steffy, aku akan mencoba membersihkannya"
"Aku ingin kau menggantinya! Bukan membersihkannya!" Teriak Steffy jengkel.
"Ah aku lupa kau kan hanya anak pelayan, mana bisa kau menggantinya. Iya kan?"
Steffy sengaja meninggikan suaranya agar tamu yang lain mendengarnya. Gadis itu tersenyum puas melihat wajah terkejut para tamu.
"Bukankah tadi dia datang bersama Marvin Xavier?" Ucap salah satu tamu.
"Marvin Xavier? Apa itu majikan mu Brianna Carissa?" Steffy tersenyum sinis. Brianna menundukkan wajahnya, Steffy benar-benar mempermalukannya di hadapan orang-orang.
"Apa?? majikan? Yang benar saja".
"Sulit dipercaya, mana mungkin Marvin Xavier yang terhormat membawa seorang pelayan ke pesta seperti ini".
Brianna bisa mendengar orang-orang membicarakannya sembari berbisik-bisik. Steffy nampak tertawa puas dalam batinnya. Sungguh pertemuan yang tidak terduga, dan ia puas telah mempermalukan Brianna. Ngomong-ngomong siapa itu Marvin Xavier? Ia jadi penasaran.
"Ada apa ini?"
Brianna mendongakkan wajahnya begitu mendengar suara Marvin. Kekasihnya datang dengan raut serius diikuti Samuel sang pemilik acara.
"Steffy, kau sudah datang?"
"Paman lihat gaunku, dia menumpahkan minumannya padaku". Adu Steffy sambil merengek manja. Samuel adalah pamannya, jadi wajar saja jika Steffy berada di pesta tersebut, karena Samuel mengundangnya.
"Benar kau melakukannya?" Tanya Marvin
"Aku benar-benar tidak sengaja kak".
"Tuan Marvin apa benar dia anak seorang pelayan?" Ucap salah satu tamu wanita dengan polesan make up yang begitu tebal, sontak saja Marvin melirik wanita itu dengan tajam. Lancang sekali mulutnya itu.
Steffy yang pertama kali melihat Marvin Xavier merasa takjub dengan paras pria dingin itu. Demi Tuhan, Brianna beruntung sekali mendapat majikan setampan Marvin dan ini membuatnya semakin membenci Brianna sekaligus iri.
"Sial! Jadi ini pria yang membawa Brianna ke pesta ini?" Batin Steffy.
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu nona?" Tanya Marvin dingin.
"Gadis ini yang mengatakannya" tunjuk wanita itu pada Steffy. Gadis itu terhenyak saat tatapan Marvin begitu menghunus. Namun hal tersebut membuat Steffy semakin penasaran pada sosok Marvin.
"Siapa kau? Apa kau mengenal Brianna?"
"Marvin, dia ini keponakanku namanya Steffy. Steffy apa kau mengenal Brianna?
"Kak, dia temanku di sekolah" jawab Brianna.
"Ya kami sekelas, dan setahuku dia anak seorang pelayan. Benar begitu kan Brianna? Kau sendiri yang mengatakannya padaku" Steffy menatap Brianna dengan senyuman iblis nya.
Brianna benar-benar malu sekarang, sepertinya orang-orang percaya dengan ucapan Steffy. Marvin mengepalkan tangannya mendengar ucapan gadis itu. Sungguh jika Steffy bukan keponakan Samuel, ia sudah menyumpal mulut lancang gadis itu.
Brianna berlari meninggalkan tempat tersebut. Rasanya ia tidak kuat melihat tatapan orang-orang yang mencomoohnya, walaupun tidak terlontar secara lisan akan tetapi Brianna bisa melihatnya lewat ekspresi mereka.
Brianna merasa kehadirannya membuat Marvin malu.