
Tidak ada yang Brianna lakukan selain duduk dengan bosan di bangku taman belakang rumah Marvin. Semenjak Marvin berangkat bekerja, Brianna hanya membereskan kamar Marvin dan tidak ada pekerjaan lain yang ia kerjakan.
Sebenarnya Brianna ingin melakukan pekerjaan lainnya, seperti menyapu halaman, memotong rumput, ataupun mencuci piring namun pelayan lain melarangnya.
Bukan karena benci ataupun meragukan kemampuan Brianna, akan tetapi Marvin lah yang melarangnya. Pria itu menyuruh seluruh pelayan disana termasuk kepala pelayan Emily untuk tidak membiarkan Brianna menyentuh pekerjaan apapun selain melayani dirinya. Dalam artian, Brianna hanya perlu mengerjakan sesuatu yang bersangkutan langsung dengannya.
Tak bisa dipungkiri, perlakuan spesial yang diberikan oleh Marvin jelas saja memberikan rasa iri kepada beberapa pelayan terutama Samantha.
Wanita itu yang paling tidak terima, rasa bencinya kepada Brianna kian bertambah. Samantha semakin ingin menyingkirkan Brianna dari rumah tersebut.
"Huffft ini membosankan" Brianna memainkan kuku-kuku jarinya dengan bosan. Pelayan lain tampak sibuk mengurus rumah Marvin, sedangkan dirinya hanya diam menganggur seperti orang bodoh.
"Ahh paman tunggu!"
Brianna berteriak memanggil seorang tukang kebun yang kebetulan lewat didepannya. Pria parah baya itu terlihat membawa setumpuk tanaman layu hasil pekerjaannya merawat tanaman mahal milik Marvin. Setiap seminggu sekali, pria itu bertugas memantau semua tanaman disana, dan mengganti beberapa tanaman yang rusak.
"Ya ada apa nak?"
"Apa paman butuh bantuan?"
"Tidak nak terimakasih, pekerjaanku sudah hampir selesai" tolak paman tersebut dengan halus.
"Bagaimana jika aku membantu paman membawa tanaman yang rusak itu?"
Paman tersebut hanya tersenyum mendengar tawaran Brianna, kemudian menggeleng kecil.
"Tidak usah nak, biar paman sendiri yang membawanya"
"Ahh baiklah kalau begitu" ucap Brianna menyerah.
"Kalau begitu paman pamit pulang dulu"
"Ya paman hati-hati dijalan."
Brianna menghela nafasnya bosan, ia penasaran apakah benar tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan?
Brianna pun beranjak dari duduknya, lebih baik ia berkeliling mencari sesuatu yang mungkin saja bisa ia kerjakan.
"kak!!"
Brianna akhirnya bertemu dengan Mia, wanita itu baru saja keluar dari membeli bahan-bahan makanan untuk persediaan di paviliun. Mia tampak tersenyum melihat Brianna datang menghampirinya.
"Brianna kebetulan kau ada disini, aku punya sesuatu untukmu"
Mia membuka sesuatu di kantung plastiknya, kemudian memberikan Brianna satu buah ice cream yang sengaja ia beli untuk Brianna.
"Untukmu"
"Whoaa terimakasih kak" Brianna tampak senang. Mia memberikan ice cream rasa cokelat yang menjadi favoritnya.
"Kau suka cokelat?"
"Umm aku sangat menyukainya kak, tapi saat kecil aku jarang memakannya karena mama selalu melarangku, mama bilang itu akan merusak gigiku"
"mamamu benar, kalau begitu habiskan ice creamnya. Aku pergi dulu"
Brianna mengangguk, lalu memakan ice cream tersebut dengan lahap. Selagi ia makan Brianna memilih duduk di salah satu sofa, tak lama kemudian seseorang menghampirinya.
"Astaga!! Tuan James!"
Brianna terkesiap saat James tiba-tiba duduk di sampingnya. Pria itu tampak tersenyum manis membuat Brianna gugup.
Brianna segera menyembunyikan ice creamnya, takut hal tersebut dilarang, mengingat ini masih jam kerja tapi dirinya enak-enakkan memakan ice cream.
"Ah ti.. tidak apa-apa Tuan, sa.. saya akan kembali bekerja" Brianna tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya saat berhadapan dengan James. Jantungnya tiba-tiba berdebar saat bertemu dengan pria itu.
Brianna segera beranjak dari tempatnya namun dengan cepat James menahan tangannya.
"Kenapa buru-buru sekali? Habiskan dulu ice creammu"
"Bo.. bolehkah?"
James terkekeh mendengar pernyataan Brianna, kenapa gadis ini begitu polos?
"Tentu saja, tidak ada larangan memakan ice cream disini. Cepat habiskan nanti ice creamnya keburu meleleh"
Brianna mengangguk patuh, lalu kembali mengeluarkan ice creamnya. Brianna memakannya dengan canggung, mengingat masih ada James disana.
Sebenarnya ia ingin menawari James, akan tetapi ia hanya memiliki satu. Tidak mungkin kan Ia menawari James bekas gigitannya, itu terlihat menjijikan.
"Bagaimana bekerja dengan Tuan Marvin? Apa kau nyaman menjadi asistennya?"
"Ya Tuan, Tuan Marvin sangat baik aku nyaman bekerja dengannnya"
"Tentu saja dia baik karena dia menyukaimu Brianna"
"Ah syukurlah kalau begitu, jika kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman kau bisa bilang padaku"
"Terimakasih Tuan"
"Ah kau sudah tahu namaku kan?"
"Tentu, semua pelayan disini pasti sudah tahu"
"Kalau begitu kau jangan memanggilku Tuan"
"Kenapa?" Tanya Brianna bingung.
"Karena aku bukan Tuan disini, aku juga bekerja untuk Marvin. Jadi kau bisa memanggilku kakak"
Brianna mengerjap mendengar ucapan James. Haruskah ia memanggilnya seperti itu?
"ka.. kakak?"
"Ya itu jauh lebih baik"
"Baiklah Tu.. maksudku kak James"
"Gadis pintar" James mengacak rambut Brianna dengan gemas, membuat Brianna semakin gugup. Hari ini sudah dua pria yang menyentuh kepalanya, pertama tadi pagi saat Marvin akan bekerja dan sekarang James.
"Tu.. tuan sepertinya aku harus kembali bekerja" Brianna ingin segera menjauh dari James, bukan karena takut tapi jantungnya tidak bisa diajak kompromi untuk saat ini.
"Tunggu sebentar" lagi-lagi James menahannya.
"Ada ap..."
Tubuh Brianna membeku saat tiba-tiba saja, James mengusap sudut bibirnya. Jantungnya kian bergemuruh, saat iris kecokalatan milik James bertatapan langsung dengan matanya.
"Ada noda ice cream di bibirmu" kekeh James, membuat kesadaran Brianna kembali. Semburat merah tampak muncul di pipi Brianna.
"Te.. terima kasih, aku permisi" Brianna berlari meninggalkan James.
Brianna menyentuh dadanya yang berdebar begitu cepat, lalu menyentuh kedua pipinya yang memanas.
"Oh Tuhan ada apa denganku?"