My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Wajah Yang Begitu Manis



Seperti biasa Brianna melakukan aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Mengenai masalah kotak bekalnya kemarin, Brianna sudah melupakannya dan suasana hatinya sudah kembali ceria seperti biasanya.


Saat ini kelas Brianna sedang melaksanakan kegiatan olahraga. Seluruh murid sudah berkumpul di lapangan menunggu guru olahraga mereka datang. Selagi menunggu, murid laki-laki lebih memilih bermain sepak bola, sedangkan murid perempuan memilih duduk di atas rerumputan sambil bercanda ataupun bergosip ria.


"Brianna apa kau membawa bekal hari ini?" Tanya Nina sambil memainkan rambut Brianna yang sedang ia kepang.


"Tidak, aku takut Ryan membawanya lagi"


"Yah sayang sekali, padahal kemarin aku belum sempat mencicipinya"


"Baiklah besok aku akan membawanya untukmu" jawab Brianna.


Arghhh!!!


Tiba-tiba saja sebuah erangan terdengar di tengah-tengah lapangan, Nina seketika menghentikan kegiatannya dan melihat murid laki-laki berkerumun di satu titik.


"Apa yang terjadi?" Tanya Nina penasaran. Nina mengikat ujung rambut Brianna yang sudah ia kepang menjadi satu.


"Ayo kita lihat" Brianna berlari mendekati kerumunan tersebut di susul Nina di belakangnya.


"Ryan, kau tidak apa-apa?"


Brianna mendengar seseorang menyebut nama Ryan, ia mengintip di balik punggung salah satu murid yang berdiri di antara kerumunan tersebut.


Brianna terkejut saat melihat Ryan terduduk dengan kondisi hidungnya yang berdarah. Murid yang di cap sebagai trouble maker itu terluka! Entah apa penyebabnya, sepertinya pria itu terkena hantaman bola hingga mimisan.


Namun ada sesuatu yang membuat Brianna kesal pada teman-temannya yang lain, bukannya membantu mengobati luka Ryan, mereka justru sibuk berdebat saling menuduh mencari pelaku yang sudah menendang bola tersebut ke arah Ryan.


"Aishhh kenapa mereka malah sibuk berdebat"


Brianna mengeluarkan sapu tangannya, kemudian menghampiri Ryan yang kini terkulai di atas rerumputan.


"Kau tidak apa-apa?"


Tidak ada pergerakan sama sekali dari Ryan, pria itu hanya menatap sapu tangan Brianna dengan raut bingung. Merasa tidak ada respon dari Ryan, Brianna langsung berjongkok di depan Ryan lalu membersihkan darah di sekitar hidung pria itu.


Jelas saja Ryan sangat terkejut dengan sikap Brianna. Selama ini ia selalu jahil pada gadis itu, tapi sekarang Brianna justru menolongnya. Ryan menatap Brianna dengan pandangan tak percaya.


Brianna begitu telaten membersihkan area hidungnya, dari jarak sedekat ini Ryan baru menyadari jika Brianna memiliki wajah yang begitu manis. Tiba-tiba rasa hangat terselip di hati Ryan, ia tidak tahu perasaan apa itu yang jelas terasa mendebarkan.


"Ryan, kau tidak apa-apa?" Ryan tersadar begitu Brianna bersuara.


"Ehmm i..iya" Ryan mendadak gugup, ia memalingkan wajahnya saat gadis itu menatapnya.


"Syukurlah darahnya sudah berhenti keluar"


"Terima kasih" gumamnya pelan nyaris tak terdengar.


Brianna tersenyum dengan anggukan kecil. Kepalanya menoleh ke arah teman-temannya, ia baru sadar jika saat ini ia dan Ryan menjadi pusat perhatian. Apalagi para murid perempuan, beberapa dari mereka terlihat menatapnya sinis termasuk Steffy. Ekspresi gadis itu lah yang paling jelas menunjukkan kekesalannya.


Brianna sama sekali tidak peduli dengan tatapan mereka, yang jelas Brianna hanya ingin membantu Ryan. Walaupun pria itu selalu berperilaku buruk padanya, ia tidak akan membalasnya dengan keburukan pula.


"Lebih baik kau istirahat di ruang kesehatan saja".


"Tidak perlu, aku baik-baik saja" jawab Ryan datar.


"Kalau begitu aku akan bicara pada guru"


"Tidak per..."


Ryan tidak melanjutkan ucapannya, karena percuma saja Brianna sudah berlari menuju seorang guru yang baru saja memasuki area lapangan.


Ryan menunduk menatap sapu tangan Brianna yang digenggamnya. Tanpa sadar seutas senyum terbit di bibirnya.