
"Marvin"
Marvin melepaskan pelukannya dari tubuh Brianna begitu mendengar suara sang Mama.
"Ada apa, Ma?"
Livy mendekati Marvin kemudian berbisik pada putranya. Brianna yang melihat gelagat Livy hanya mengedikkan bahunya acuh, lalu kembali melanjutkan kegiatannya memanggang barbeque.
"Mama serius?" Mata Marvin membulat saat Mamanya membisikkan sesuatu di telinganya. Tentu saja ini perihal pernikahannya.
"Mana mungkin Mama berbohong. Yasmine mengatakannya barusan, itu sebabnya Mama langsung menghampirimu"
"Ya Tuhan" Marvin rasanya ingin melompat saking bahagianya, ia menoleh ke arah calon Mama mertuanya yang masih betah duduk di tempatnya. Wanita itu melemparkan senyuman kalemnya pada Marvin, lalu mengangguk pelan seolah-olah memberi sinyal pada Marvin bahwa wanita itu telah memberikan ijin padanya untuk menikahi Brianna.
"Jangan di tunda lagi, kebahagiaan kalian sudah di depan mata"
"Ada apa, Kak?"
Brianna menepuk pundak Marvin hingga pria itu terlonjak kaget. Marvin tak kuasa menahan rasa bahagianya yang membuncah. Di tariknya tubuh mungil itu, kemudian mengangkatnya ke udara.
"Kakak!!!"
Brianna refleks memeluk leher Marvin saat tubuhnya terasa melayang dan berputar.
"Kakak berhenti!" Pekik Brianna memukul pundak Marvin. Pria itu tertawa renyah kemudian menghentikan tingkahnya yang aneh itu.
Marvin menatap wajah cantik itu dengan senyuman manisnya. Sedangkan si gadis menekuk wajahnya karena kesal. Apalagi saat ini mereka menjadi pusat perhatian para pelayan dan juga orang tuanya.
"Turunkan aku" pinta Brianna.
Bukannya menurut Marvin justru mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir plum gadis itu beberapa kali.
Cup... Cup... Cup
Mata Brianna mengerjap begitu mendapat serangan Marvin yang tiba-tiba itu. Jantungnya nyaris meledak hingga semburat merah muncul di pipinya. Wajahnya memanas
Marvin belum juga menurun tubuh Brianna, seolah-olah tubuh mungil itu ringan seperti kapas. Keduanya saling menatap dengan ekspresi yang berbeda.
Marvin dengan raut bahagianya, dan Brianna dengan raut bingungnya.
"Aku baru saja mendapat kabar baik" ucap Marvin pelan masih dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Bisa turunkan aku lebih dulu?" Brianna mulai tidak nyaman dengan posisi mereka. Akhirnya mau tidak mau Marvin menurunkan Brianna, tapi di atas meja yang tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Kabar bahagia apa?" Tanya Brianna penasaran.
Marvin merunduk merapihkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Brianna dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menopang tubuhnya di sisi tubuh Brianna.
"Aku mendapat restu dari Mamamu"
Alis Brianna menyerngit, ia belum paham dengan maksud Marvin. Restu? Bukankah sejak dulu Mamanya sudah merestui hubungan mereka.
"Restu? Bukankah..."
"Restu untuk menikahimu" potong Marvin dengan senyuman yang mengembang.
"Me..menikah?" Brianna mengerjap beberapa kali, takut dirinya salah mendengar.
"Iya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku sudah bersabar menunggumu hingga lulus SMA, jadi sekarang sudah saatnya".
Brianna menelan saliva nya, Marvin menatapnya dengan serius itu tandanya pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Jadi bagaimana?"
"Ba..bagaimana apanya?" Tanya Brianna gugup, jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang. Ia merasakan telapak tangannya menghangat karena Marvin menggenggamnya.
"Brianna Carissa, ayo kita menikah"
Rasanya jantung Brianna ingin lepas dari tempatnya. Marvin benar-benar mengajaknya menikah di saat usianya baru beranjak 19 tahun.
"Ka..Kakak kau serius?"
"Aku tidak pernah bercanda jika membahas pernikahan, aku benar-benar ingin menikahimu" jawab Marvin begitu lirih. Brianna merasakan ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.
Marvin mengelus pipi gadisnya dengan lembut. Lutut Brianna terasa lemas detik itu juga, untung saja posisinya saat ini sedang duduk. Jika tidak, mungkin ia sudah ambruk di atas rumput.
Siapa yang mampu menolak?
Rasa cinta Marvin pada Brianna memang tidak bisa di ragukan lagi. Brianna selalu merasakan cinta Marvin setiap harinya dan sekarang Marvin melamarnya, Brianna merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia.
Suasana di taman tersebut berubah menjadi hening, orang-orang di sekitar mereka tampak was-was mendengar jawaban Brianna.
Brianna menolehkan wajahnya ke arah sang Mama, seolah-olah meminta pendapat dari wanita yang melahirkannya itu. Yasmine terkekeh melihat ekspresi Brianna yang kebingungan, wanita itu tersenyum kemudian mengangguk pelan.
Melihat jawaban sang Mama, Brianna kembali beralih menatap Marvin. Bibirnya mendadak terasa kering dan gadis itu ********** beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Marvin menunggu jawaban Brianna dengan sabar. Jujur saja dalam hatinya ia merasa was-was untuk mendengar jawaban apa yang akan keluar dari mulut gadis kecilnya.
"Kakak..." Brianna mulai berucap, nada bicaranya terdengar bergetar akibat rasa gugupnya.
"Ya Sayang?"
Brianna tidak kuat melihat tatapan teduh Marvin, tubuhnya seperti ingin meleleh. Apakah seperti ini rasanya di lamar?
Akhirnya Brianna melingkarkan tangannya di leher Marvin, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.
"Aku juga mencintaimu, ayo kita menikah" bisik Brianna pelan nyaris tak terdengar. Untung saja suasana sekitar sangat hening, sehingga Marvin bisa mendengarnya.
Bisa dibayangkan betapa merahnya wajah Brianna saat ini. Ia memeluk leher Marvin erat dan menyembunyikan wajah malu-malu nya di leher Marvin. Kebahagiaan membuncah di hati Marvin, senyuman tampannya kembali bersinar di wajahnya. Rasa was-was nya berganti menjadi rasa lega yang amat luar biasa.
"Terimakasih sayang, aku berjanji aku terus membuatmu bahagia selamanya". Kata-kata manis itu keluar dari mulut Marvin membuat hati Brianna semakin tak karuan.
Marvin melingkarkan tangannya di pinggang Brianna, membalas pelukan gadis itu tak kalah eratnya. Marvin tersenyum ke arah orang tuanya dan juga calon Mama mertuanya, memberi isyarat dengan acungan jempol bahwa lamaran dadakannya ini berhasil.
Bunyi riuh tepuk tangan terdengar seisi taman, para maid turut merasakan kebahagiaan majikannya. Bahkan ada yang sampai menangis karena saking bahagianya, ada pula yang menangis karena patah hati, khususnya untuk para maid yang masih melajang.
Marvin merasakan ada cairan membasahi lehernya, dengan cepat ia melepas pelukannya lalu mendorong bahu Brianna pelan agar bisa melihat wajahnya.
"Hey kenapa menangis?" Ekspresi Marvin berubah panik melihat ada air mata membasahi wajah cantik gadisnya.
"Tidak apa-apa hiks, aku hanya terlalu senang" Brianna tersenyum di sela tangisan bahagianya.
"Kakak terima kasih sudah memberikan banyak cinta untukku" Brianna tersenyum begitu lembut.
Tangan Marvin terulur mengusap air mata Brianna. Di kecupnya kening Brianna penuh sayang. Ciumannya kemudian turun ke mata Brianna, lalu ke pipi dan terakhir bibir manis gadisnya.
Dilumatnya bibir Brianna dengan hati-hati penuh kelembutan, menyalurkan seluruh perasaannya lewat ciuman tersebut. Marvin tidak peduli ciuman mereka di konsumsi oleh banyak orang termasuk orang tuanya. Ia hanya ingin membuktikan bahwa ia benar-benar sangat mencintai gadis di hadapannya ini.
Brianna turut membalas ciuman Marvin, sentuhan bibir pria itu berhasil membuatnya lupa dimana posisi mereka sekarang. Matanya terpejam begitu lidah Marvin membelai bibirnya dengan sangat lembut. Tangannya sudah kembali bertengger di leher Marvin membuat ciuman tersebut semakin intens.
Melihat adegan tersebut beberapa maid memilih melarikan diri ke paviliun membawa sebongkah rasa cemburu, lalu menangis akibat patah hati yang mendalam. Bahkan Mia pun ikut menangis melihat Brianna di lamar. Ia tidak menyangka gadis kecil itu mendahuluinya menikah, sedangkan dirinya sampai sekarang masih single. Namun begitu ia tetap bahagia melihat Brianna akan menempuh hidup baru bersama majikan tampannya itu.
Mia berharap ia pun bisa beruntung seperti Brianna. Mendapatkan pria yang tulus mencintainya, tampan dan juga mapan.
Begitu pula dengan Nina, gadis itu terlihat meneteskan air mata haru. Ia turut berbahagia melihat Brianna mendapatkan kebahagiaan nya sendiri. Brianna benar-benar gadis yang sangat beruntung.
Marvin melepaskan ciumannya begitu pasokan udara mereka mulai habis. Diusapnya bibir Brianna yang basah akibat pertukaran saliva mereka. Pria itu terkekeh melihat wajah Brianna yang semakin memerah, membuat Marvin gemas.
"Apa kalian sudah selesai?!" Livy berteriak dari kejauhan, wanita itu tampak tersenyum menggoda membuat Brianna semakin malu setengah mati.
"Kemarilah!"
Marvin membantu Brianna turun dari meja, Brianna menundukkan kepalanya begitu menghampiri orang tua mereka. Semburat merah masih menghiasi wajah cantiknya, membuat Livy dan suaminya terbahak melihat tingkah menggemaskan Brianna. Sedangkan Yasmine wanita itu hanya mengulum senyumnya.
"Brianna tidak usah malu seperti itu" goda Livy.
"Mama" Brianna berlari memeluk Mamanya menyembunyikan wajahnya di pundak sang Mama.
"Hey berhenti bersikap seperti anak kecil, sebentar lagi kau akan menikah" kekeh Yasmine dan Brianna hanya mencebik tak terima.
"Tidak usah malu seperti itu Brianna, anggap saja ciuman tadi kami tidak melihatnya"
"Mama, tidak usah di perjelas" Brianna semakin kesal mendengar godaan Mama Marvin apalagi di sana ada ayah Marvin juga. Ia benar-benar sangat malu.
"Ya sudah ayo kita masuk ke dalam, lebih baik kita segera tentukan tanggal pernikahan kalian" ucap Henry