
"APA!? PELAYAN PRIBADI?"
Mia dan Yasmine tampak kompak memperlihatkan rasa terkejutnya. Keduanya saling berpandangan lalu akhirnya melemparkan tatapan tak percayanya pada gadis yang sedang duduk santai sambil menikmati sebuah makanan ringan di tangannya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Brianna dengan wajah polosnya.
"Brianna kau bercanda bukan?" Tanya Mia, masih dengan wajah shocknya.
"Bercanda apanya kak?"
"Pelayan pribadi, kau tidak serius kan?"
"Aku serius, Tuan Marvin sendiri yang mengatakannya langsung padaku"
"Apa kamu menerima tawarannya?" Kini sang mama yang bertanya.
"Tentu saja aku menerimanya" jawab Brianna antusias matanya berbinar senang. Berbeda dengan Mia, bahu wanita itu tampak melemas. Ia sudah bekerja selama 5 tahun, tapi sudah selama itu Marvin tidak pernah mengangkatnya sebagai pelayan pribadi.
Tapi Brianna? Baru dua hari bekerja gadis itu sudah mendapat pekerjaan yang sangat diharapkan oleh para pelayan lajang sepertinya. Tentu saja motif nya adalah, agar bisa lebih dekat dengan Marvin dan menarik perhatiannya.
"Kenapa ekspresi kakak seperti itu? Apa ada masalah?"
"Tidak apa-apa" jawab Mia tak bersemangat.
"Apa kakak tidak suka?" Ekspresi Brianna berubah murung, apa dirinya salah menerima tawaran Marvin?
"Bukannya aku tidak suka, hanya saja aku merasa iri padamu. Kau benar-benar gadis yang beruntung. Tidak apa-apa jangan terlalu dipikirkan" Mia mengelus pundak Brianna lembut, oh ya ampun Brianna hanyalah gadis polos. Tidak seharusnya ia merasa iri pada Brianna.
"Kalau boleh tahu kenapa kau mau menjadi pelayan pribadinya?" Tanya Mia penasaran dan diikuti anggukan setuju oleh Yasmine atas pertanyaan Mia.
"Aku ingin mengumpulkan uang lebih cepat kak, dengan begitu aku bisa bersekolah. Tuan Marvin bilang gaji pelayan pribadi itu jauh lebih besar."
Mia dan Yasmine langsung terdiam mendengar jawaban Brianna. Terutama Yasmine, wanita itu merasa bersalah karena belum bisa meyekolahkan putrinya kembali.
"Maafkan mama sayang, harusnya kau tidak perlu melakukan ini. mama yang harus bekerja bukan putri mama yang cantik ini"
"Tidak apa-apa, aku senang membantu mama. Dengan begitu aku bisa meringankan beban mama setidaknya untuk biaya sekolahku nanti" Yasmine merasa terharu mendengarnya, ia bangga memiliki putri seperti Brianna.
"Bibi Yasmine putrimu sungguh beruntung, baru bekerja dua hari saja dia sudah diangkat menjadi pelayan pribadi. Aku rasa Tuan Marvin menyukainya" bisik Mia pada Yasmine.
"Kau ini bicara apa Mia?"
"Sebenarnya dari awal Brianna bekerja, aku merasa aneh dengan sikap Tuan Marvin"
"Maksudmu aneh seperti apa?"
"Bi, aku sudah bekerja 5 bulan dirumah ini, baru kali ini aku melihat Tuan Marvin begitu perhatian pada pelayannya."
"Perhatian bagaimana?" Yasmine belum mengerti juga.
"Astaga bi, kau ingat kan Tuan Marvin menolong Brianna di atas pohon. Aku melihat wajahnya begitu panik. Aku pernah merasakan berada di posisi darurat seperti Brianna tapi dia bersikap tidak peduli. Tapi kali ini, Tuan Marvin rela terluka demi menolong putrimu. Tuan Marvin bukanlah tipe orang yang mau repot-repot mengurusi pelayannya. Tidakkah itu mencurigakan?"
"Aku pikir ini wajar-wajar saja Mia, mungkin saat itu suasana hati Tuan Marvin sedang tidak baik. Sudahlah jangan berburuk sangka, siapa tahu kan Tuan Marvin saat ini sedang memperbaiki sikapnya untuk lebih baik". Yasmine beranjak dari tempatnya menuju ranjang, tidur adalah pilihan yang tepat sekarang.
"Tapi bagaimana jika dugaanku benar?"
"Mia lebih baik kau tidur ini sudah malam" perintah Yasmine
"Bi! Apa jangan-jangan dia seorang pedofil?!" Ucap Mia dengan suara cukup keras, spekulasi itu terlintas mengingat jarak umur antara Brianna dengan Marvin sangat jauh.
Sontak saja Yasmine melotot dengan ucapan sembarangan yang keluar dari mulut Mia. Gadis ini benar-benar! Tidak bisakah Mia menjauhkan segala pikiran negatifnya?
"Pedofil itu apa kak?" Rupanya Brianna mendengarnya, gadis itu sudah meninggalkan ikan badutnya, dan entah sejak kapan Brianna sudah duduk di sampingnya, menatapnya dengan tatapan polosnya.
"Ah, engg itu... Brianna kau mendengarnya ya?" Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus menjelaskan apa.
Brianna mengangguk kecil lengkap dengan raut penasaran akan kata "pedofil" yang Mia ucapkan. Brianna memang memiliki tingkat rasa ingin tahu yang tinggi.
"Ah Brianna sayang sudah waktunya tidur, bukankah besok hari pertama mu menjadi pelayan pribadi Tuan Marvin, kau tidak boleh kesiangan" Yasmine mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya mama, aku hampir lupa. Baiklah kak Mia. selamat malam, aku tidur lebih dulu"
" Ah, y.. ya semoga mimpi indah"
Mia menghela nafas lega. Sial! Ia tidak bisa berbicara sembarangan di depan gadis polos seperti Brianna. Mia menunjukkan cengiran tak berdosanya pada mama Brianna. Wanita itu tampak memperingati dengan gerakan bibirnya.
"Jangan bicara sembarangan di depan putriku"