
"Sarapan sudah siap Tuan" Samantha memberikan senyuman terbaiknya untuk Tuan tampannya.
"Kenapa kau yang membawa sarapanku?" Marvin menatap Samantha tajam begitu wanita itu masuk ke kamarnya. Bukankah ia menyuruh Brianna yang membawanya? Kenapa jadi pelayan lain?
Senyuman Samantha memudar tergantikan dengan raut tegang begitu melihat tatapan tidak suka dari Marvin. Samantha bingung melihat sikap Marvin, ia sudah sering mengantarkan sarapan itu tapi kenapa hari ini Marvin terlihat tidak suka?
"Maaf Tuan, bukankah saya sudah sering membawanya untuk anda?"
"Tapi aku ingin Brianna yang membawanya, bukan kau atau siapapun!"
Nyali Samantha semakin menciyut mendengar perkataan Marvin. Namun terselip rasa kesal begitu nama Brianna disebut.
"Dimana Brianna sekarang?"
"Sa.. saya tidak tahu Tuan. Saya tidak melihatnya di dapur. Itu sebabnya saya membawa sarapan ini untuk anda"
Marvin menatap Samantha menyelidik, ia yakin pelayan di hadapannya ini sedang berbohong. Brianna tidak mungkin mengabaikan perintahnya. Gadis itu tahu betapa tidak sukanya Marvin apabila ada yang membantah perintahnya, atau menunda pekerjaan yang Marvin berikan.
Marvin menatap ke arah pintu di belakang Samantha, ada seseorang yang mengintip di balik pintu tersebut. Marvin yakin itu adalah gadisnya, Brianna Carissa.
"Brianna Carissa masuk!"
Dugaan Marvin memang benar, dibalik pintu itu adalah Brianna. Dari awal gadis itu mendengar percakapan Samantha dan Marvin yang penuh intimidasi.
Dengan ragu Brianna mulai membukakan pintunya. Kepalanya tertunduk melihat tatapan tajam Marvin. Samantha menatap Brianna sinis dan itu tidak luput dari pandangan Marvin.
Marvin merasa Samantha tidak menyukai gadisnya!
"Kenapa kau meminta orang lain untuk membawakan sarapanku?" Nada bicara Marvin melembut begitu berbicara dengan Brianna, gadis itu menoleh sejenak ke arah Samantha yang sempat menatapnya benci.
"Samantha yang memintanya Tuan."
Tubuh Samantha semakin pucat pasi mendengar kejujuran Brianna.
Sial!
Batin Samantha mengumpat, ia ingin sekali menyumpal mulut kelewat jujur itu. Apa Brianna berniat menjatuhkan dirinya?
Brianna memang tidak pandai berbohong. Gadis itu sudah diajarkan oleh papa dan mamanya untuk tidak berbohong pada siapapun. Kecuali dalam keadaan mendesak.
"Dia bilang ini adalah pekerjaannya, jadi aku memberikan makanannya pada Samantha".
"Samantha dengar. mulai sekarang kau tidak perlu mengantarkan makanan itu lagi, karena sekarang Brianna yang akan melakukannya. Dia adalah pelayan pribadiku"
"APA???" Pekik Samantha refleks, ia menoleh ke arah Brianna dengan tatapan tajamnya. Lelucon apa ini?
"Jadi kau bisa ambil pekerjaan yang lain di rumah ini. Sekarang kau boleh ke luar" ucap Marvin santai
Samantha mengepalkan tangannya kuat menahan emosi. Samantha merasa tidak terima dengan keputusan Marvin untuk menjadikan Brianna sebagai pelayan pribadinya.
Seharusnya ia yang berada di posisi itu, bukan gadis ingusan seperti Brianna. Batinnya terus mengumpat meneriakkan sumpah serapahnya. Ia segera keluar dari kamar Marvin dengan emosi yang nyaris meledak. Ini sangatlah tidak adil bagi Samantha.
Kesempatannya untuk mendekati Marvin kini mulai menipis, ia tidak bisa diam begitu saja. Brianna sama sekali tidak ada apa-apanya di banding dirinya. Ia sungguh penasaran, alasan apa yang membuat Marvin memilih Brianna?
Brianna menatap kepergian Samantha penuh rasa bersalah. Brianna bisa melihat sorot kemarahan dari mata Samantha. Seketika hatinya pun terasa was-was.
"Kenapa kau melamun?" Brianna tersadar mendengar teguran Marvin.
Brianna berjalan mendekati Marvin yang duduk di atas ranjang. Pria itu sama sekali tidak menyentuh sarapannya.
"Duduk"
Lagi-lagi Brianna menuruti intruksi Marvin, layaknya kelinci manis yang penurut.
"Pasangkan dasi ini" Marvin memberikan sebuah dasi berwarna navi kepada Brianna.
Gadis itu menyerngit menatap dasi tersebut dengan tatapan bingung. Ya ia bingung bagaimana cara memasangnya.
"Bagaimana cara memasangnya Tuan?"
"Kau tidak tahu caranya?" tanya Marvin terkejut.
Brianna menggeleng kecil lengkap dengan tatapan polosnya. Ia pernah memakai dasi seperti itu semasa sekolah, tapi sang mama lah yang selalu menyimpulnya. Ia sangat payah memasang dasi seperti itu. Menurutnya simpul dasi itu rumit, ia pernah mencobanya namun hasilnya selalu gagal.
"Baiklah, akan aku ajarkan. Perhatikan dengan baik ok?"
Marvin mulai mempraktikan cara memakai dasi dengan baik dan benar layaknya seorang youtuber yang sedang melakukan tutorial. Brianna tampak menyimak dengan seksama.
"Selesai! Mudah bukan?"
"Boleh aku coba?" Brianna tampak berminat
"Tentu saja, kau harus mahir melakukannya apalagi setelah menikah nanti" Marvin tersenyum penuh arti.
Dengan canggung Brianna mulai mengalungkan dasi itu ke leher Marvin. Posisi mereka begitu dekat, sehingga Brianna bisa mencium aroma parfum Marvin.
Brianna menyimpulkan dasi tersebut secara perlahan, pandangannya fokus tanpa menyadari tatapan Marvin yang sedari tadi menatap wajah cantiknya . Sesekali alisnya menyerngit saat lupa kearah mana lagi ia harus menyimpulnya.
Dan hasilnya adalah... Gagal!
Brianna menghela nafasnya kasar lalu menatap Marvin putus asa.
"Ini tidak berhasil Tuan" keluh Brianna menatap hasil simpulnya yang tidak jelas.
Marvin terkekeh, lalu melepas dasi itu kembali "kau baru mencobanya satu kali. Ayo coba lagi"
Marvin dengan sabar membimbing Brianna. Brianna terlihat seperti seorang istri yang tengah melayani sang suami. Bisa dilihat dengan jelas bagaimana sorot kebahagiaan itu dari paras tampannya. Brianna terlihat begitu cantik jika dilihat dari dekat seperti ini, ia sungguh tidak menyangka anak kecil yang dulu menolongnya bisa tumbuh secantik ini.
Marvin menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Brianna. Gadis itu terkejut atas tindakan Marvin, ia mendongak menatap Marvin dan saat itu juga pandangan mereka bertemu.
Brianna bisa melihat tatapan intens itu dari mata Marvin, membuat rona merah di pipinya kembali muncul. Apalagi saat sadar posisi mereka begitu dekat, dengan cepat Brianna pun menjauhkan tubuhnya.
"Tuan bolehkah aku meminjam dasimu? Aku akan belajar dengan mama nanti" pinta Brianna memecahkan suasana yang terasa canggung.
"Kau bisa mengambilnya sesuka hatimu" jawab Marvin dengan senyuman tipisnya, membuat Brianna ikut tersenyum.
Marvin beranjak dari duduknya kemudian mengambil tas kerjanya untuk bersiap pergi ke kantor. Ia sampai lupa dengan rapat pentingnya dan melupakan sarapannya, karena terlalu fokus mengajarkan Brianna memasang dasi.
"Aku akan berangkat sekarang. Jika kau sudah pandai memasang dasinya. Segera laporan padaku" Marvin terkekeh pelan, lalu mengacak pucuk kepala Brianna dengan gemas. Brianna hanya mengangguk mengerti diikuti rasa terkejutnya atas skinship yang Marvin lakukan.
Rupanya Marvin tidak seburuk yang diceritakan Mia. Marvin tidak sedingin dan sekejam itu di mata Brianna. Walaupun terkadang tatapannya penuh intimidasi, tapi ia yakin Tuannya ini adalah sosok pria yang hangat. Dan ia merasakan itu begitu telapak tangan Marvin mengusap rambutnya.
Tentu saja Brianna tidak tahu bagaimana perasaan Marvin. Pada kenyataannya, Brianna telah memiliki tempat yang spesial di hati pria itu.