
Ketegangan nampak begitu jelas memenuhi ruang guru. Kedatangan Marvin yang tiba-tiba membuat para guru dan staff terheran-heran, apalagi melihat wajah dingin Marvin saat memasuki ruang kerja mereka. Bahkan sang kepala sekolah terlihat berkeringat dingin melihat Marvin membawa beberapa anak buahnya yang memiliki badan kekar dan wajah yang seram.
Marvin melemparkan beberapa lembar foto di atas meja, itu adalah foto Steffy pada saat mendorong Brianna ke kolam renang.
Natasha yang berdiri tidak jauh dari Marvin terkejut melihat foto tersebut.
"Aku ingin bertanya apa kau tahu masalah ini? Brianna Carissa dia mengalami pembullyan di sekolah ini"
"Emm Tu..tuan lebih baik anda duduk lebih..."
"Tidak perlu! Aku hanya ingin menuntut penjelasanmu!"
Pria dengan perut sedikit buncit itu menyeka keringatnya melihat tatapan menghunus Marvin.
"Jujur saya tidak mengetahuinya Tuan"
"BAGAIMANA BISA HAH!!" Sentak Marvin. Guru-guru yang ada di sana pun ikut terkejut mendengar teriakan Marvin.
"Saya atas nama sekolah benar-benar meminta maaf Tuan, kami telah lalai dalam menjaga siswa-siswi kami. Untuk kasus ini kami benar-benar tidak mendapat laporan apapun".
"Lalu apa gunanya CCTV! Apa kalian tidak pernah mengeceknya?! Lihat Brianna Carissa hampir mati tenggelam di kolam itu!"
"Marvin..." Natasha mendekati Marvin, wanita itu terlihat merasa bersalah melihat kejadian yang menimpa Brianna. Dari awal Marvin sudah menitipkan Brianna padanya, tapi ia tidak bisa menjalankan amanah Marvin dengan baik.
"Maaf, ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaga Brianna dengan baik"
Marvin menatap Natasha dingin, jujur saja Marvin juga kecewa pada wanita itu.
Tak lama kemudian James datang ke ruangan tersebut dengan wajah panik. Sebelumnya James di tugaskan untuk mencari Brianna ke kelasnya. Namun pria itu tidak menemukan Brianna di sana. Ia sudah bertanya pada Nina dan gadis itu mengatakan Brianna berada di perpustakaan sejak bel masuk.
"Bos aku tidak menemukan Brianna dimana pun, tapi aku menemukan earphone dan tas nya tergeletak di perpustakaan".
"Sial! Cepat cari lagi!"
James dan anak buahnya langsung melaksanakan tugas Marvin, bahkan security sekolah pun turut membantu mencari keberadaan Brianna.
Para siswa pun terheran-heran melihat banyak pria berbadan kekar melewati kelas mereka, wajar saja karena saat ini masih jam belajar.
Marvin tidak bisa tenang jika hanya diam saja, akhirnya pria itu ikut mencari sang kekasih. Perasaannya benar-benar tidak enak, rasanya telah terjadi sesuatu yang buruk pada Brianna.
"James kau urus Steffy, jangan sampai gadis itu lolos. Biar aku yang mencari Brianna" perintah Marvin.
"Baik"
Marvin mencari ke setiap ruang yang ada di sekolah tersebut. Namun tidak juga membuahkan hasil, tak lama kemudian salah satu anak buah Marvin datang menghampirinya dengan wajah cemas.
"Kami berhasil menemukannya Tuan, Nona Brianna ada di gudang belakang sekolah".
"Gudang?"
"Ya dan nona Brianna terluka Tuan" jawabnya.
Marvin langsung berlari menuju gudang tersebut, dan semua benar adanya. Dadanya terasa sesak melihat gadisnya terkulai tak berdaya di atas lantai yang dingin dengan wajah penuh luka.
"BRIANNA CARISSA!!!"
Marvin berlari mendekati tubuh Brianna, diangkatnya tubuh lemah itu ke atas pangkuannya.
"Ya Tuhan apa yang terjadi, sayang buka matamu" Marvin mengguncangkan tubuh Brianna memastikan gadisnya masih sadar atau tidak.
"SIAL!!! CEPAT TANGKAP GADIS IBLIS ITU, PASTI DIA PELAKUNYA!"
Tak ada sedikit pun respon dari Brianna, Marvin langsung mengangkat tubuh Brianna untuk di bawa ke rumah sakit.
Marah, kesal, khawatir, semua tercampur menjadi satu. Marvin berlari melewati setiap koridor sekolah sambil membawa Brianna dalam gendongannya. Bahkan semua itu tidak luput dari perhatian siswa-siswi Trinity High School. Ryan yang melihat dari jendela kelasnya langsung berlari menyusul Marvin. Ia tidak peduli dengan teriakan gurunya yang melarangnya keluar dari kelas. Ryan ingin mengetahui apa yang terjadi pada Brianna.
Namun Ryan tidak berhasil mengejar Marvin. Pria itu sudah membawa Brianna masuk ke dalam mobilnya.
#
"Sayang bertahanlah ku mohon"
Marvin memasuki mobilnya, di dalamnya sudah ada sopir yang siap siaga membawa majikannya pergi kemanapun. Marvin bisa melihat wajah Brianna yang semakin pucat. Demi Tuhan ia tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menyakiti gadisnya seperti ini. Steffy, ia yakin gadis itu pelakunya.
"Jalankan mobilnya dengan cepat!!!" Teriak Marvin pada sopirnya.
"Ka..kakak..."
Marvin terkejut mendengar suara Brianna. Gadisnya sadar!
"Ya Tuhan, Anna kau sadar"
Marvin mengusap pipi gadis itu yang memerah, bukan karena merona melainkan itu bekas tamparan Steffy.
"Kakak datang" ucap Brianna lirih, gadis itu tersenyum kecil sambil menahan sakit di kepalanya.
"Ya, aku datang. Maaf, maafkan aku yang terlambat menolong mu. Maafkan aku" Suara Marvin mulai bergetar, ia tidak bisa membendung air matanya melihat kondisi Brianna. Oksigennya terasa di rebut dengan paksa. Sesak sekali.
"Kakak ja.. jangan menangis..."
Brianna mengelus pipi Marvin sambil menyeka air matanya "aku baik-baik saja"
"Tidak! Kau tidak baik-baik saja Brianna Carissa! Kumohon bertahanlah"
Marvin mengecupi pucuk kepala Brianna, lalu membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Brianna berusaha mempertahankan kesadarannya. Matanya terpejam merasakan hangatnya pelukan Marvin. Pelukan sang kekasih menjadi kekuatan tersendiri bagi Brianna.
Dibalasnya pelukan Marvin dengan lemah, dengan jarak sedekat ini Brianna bisa mencium aroma tubuh Marvin yang khas, aroma favoritnya.
"Terima kasih, Kak" gumamnya lirih.