
Tragis!
Bekal yang sudah Livy buat penuh suka cita akhirnya berakhir mengenaskan di atas lantai. Ryan terjatuh saat kakinya tersandung pot sialan yang tiba-tiba menghalangi jalannya sehingga kotak bekal itu terlempar hingga isinya keluar.
Brianna terdiam dengan wajah shocknya melihat nasib makanannya.
Wajah berubah merah padam sambil menatap nyalang ke arah Ryan yang kini malah menatapnya dengan ekspresi tak berdosa. Tangan Brianna terkepal kuat ingin sekali menghajar Ryan.
"Aku tidak sengaja hehe"
"Ryan!!!!!!"
Brianna berjalan ke arah pria itu lalu memukulinya, habis sudah kesabaran Brianna.
"Hei!! Kau benar-benar jahat! Kembalikan makananku!!!"
"Hei!! Hei!! Sakit bodoh!"
Ryan mengerang, Pukulan Brianna lumayan keras, wajar saja gadis itu dilanda amarah yang jarang sekali orang lihat. Biasanya Brianna diam saja jika ada mengganggunya, tapi sekarang ia tidak akan tinggal diam. Brianna tidak ingin dipandang lemah oleh teman-temannya.
"Hey ada apa ini!"
Pukulan Brianna terhenti ketika suara seseorang menginterupsinya.
"Ryan menumpahkan makananku, bu" Brianna mengadu pada wali kelasnya tersebut.
"Benar begitu Ryan?"
"Aku tidak sengaja" Ryan membela diri.
"Bohong! Dia pasti sengaja, tadi dia mengangguku dan mengambil kotak bekalku!"
"Aku benar-benar tidak sengaja!!" Teriak Ryan tanpa mempedulikan Natasha disana. Wanita itu memijit pelipisnya yang mendadak pening. Ryan selalu saja membuat ulah padahal ini masih pagi.
"Ryan!"
Ryan maupun Brianna sontak terdiam, Natasha menghela nafasnya melihat pertengkaran muridnya.
"Ryan tidak bisakah sehari saja kau tidak berulah hah?"
Ryan menunduk melihat wajah serius Natasha, dalam hati pria itu terus mengumpat karena sudah pasti ia akan terkena hukuman setelah ini.
"Minta maaflah pada Brianna"
"Apa??? Tidak mau!"
"Minta maaf! Atau kau akan mendapatkan hukuman berat" ancam Natasha
"Ckk berlari mengelilingi lapangan 20 kali kan?" Ryan memang sudah biasa mendapat hukuman itu seperti makanan sehari-hari. Bahkan hampir semua guru pernah menghukumnya dan mereka kewalahan mengahadapi kenakalan Ryan.
"Bersihkan seluruh toilet di sekolah ini dan cabuti rumput liar di taman belakang!"
"Justru karena hal-hal kecil kau selalu berulah hingga menjadi kebiasasaanmu. Cepat minta maaf!"
"Aishhh baiklah!" Ryan menatap malas ke arah Brianna yang kini menatapnya sinis. Siswa-siswi yang mulai berdatangan menatap penasaran ke arah mereka bertiga terutama Ryan. Pria itu lagi-lagi mendengus merasa harga dirinya jatuh karena harus meminta maaf kepada gadis kampung seperti Brianna.
"Aku minta maaf" Ryan mengulurkan tangannya sambil memalingkan wajahnya.
"Minta maaflah dengan benar" tegur Natasha. Masih syukur tidak ada Marvin di sana. Jika ada habislah dia.
Ryan mendengus lalu menyunggingkan sedikit senyumnya yang terkesan dipaksakan "Brianna, aku minta maaf".
Brianna menghela nafasnya, walaupun ia sangat kesal ia tidak bisa mengabaikan permintaan maaf orang lain, walaupun ia tahu Ryan tidak tulus mengatakannya. "Dimaafkan"
"Nah Ryan sekarang bersihkan makanan ini hingga bersih tanpa ada noda sedikitpun."
"Ah ya kurang lengkap jika kau tidak berlari mengelilingi lapangan seperti biasa ANAK BAIK!" sindir Natasha.
Ryan hanya bisa menggerutu, biasanya ia akan membantah tapi kali ini ia sudah terlalu lelah mendebat wali kelas nya itu. Masih syukur Natasha tidak menyuruhnya membersihkan toilet.
"Sial! seharusnya aku tidak menuruti permintaan gadis itu."
#
"Apa??? Jadi kau yang meletakkan pot itu di tengah jalan?" Ryan menatap kesal ke arah gadis yang kini tengah asik memainkan ponselnya.
"Bukankah itu bagus, makanan itu jadi tumpah dan gadis itu tidak bisa memakannya."
"Gara-gara kau aku jadi terkena hukuman, sialan!" Desis Ryan
"Kau berani mengumpatiku?" Steffy melirik sinis ke arah Ryan. Ya, gadis itu lah dalang dari kejahilan Ryan pada Brianna. Selama ini Steffy selalu menyuruh Ryan untuk mengganggu Brianna. Tentunya dengan diiimingi imbalan.
"Kau harus membayar semuanya"
"Tenang saja sudah aku siapkan"
Steffy mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Sesuai perjanjian kita"
Steffy memberikan sebuah jaket baseball terbaru untuk Ryan, ya sebuah imbalan atas jasa pria itu untuk mengerjai Brianna. Ryan bersorak senang begitu jaket mahal itu melekat di tubuhnya. Jaket yang selama ini ia idam-idamkan. Ryan memang tidak sekaya Steffy jadi wajar saja ia begitu senang.
"Ingat pekerjaanmu belum selesai, kau masih harus melakukan sesuatu untukku"
"Tenang saja, aku tidak akan kabur. Lagi pula sangat menyenangkan juga menjahili gadis itu"
"Bagus kalau begitu, aku sudah merencanakan permainan yang sangat menyenangkan."
"Apa itu?"
"Nanti kau juga akan tahu" Steffy beranjak dari tempatnya dengan senyuman smirk di bibirnya. Sedangkan Ryan menatapnya tak peduli, ia kembali mengagumi jaket yang diberikan Steffy.