My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Kau Terlihat Cantik Saat Tidur



Flashback


Pagi-pagi sekali Marvin sudah meminta Emily untuk menemuinya. Ini masalah Brianna, semenjak kemunculan Brianna di rumah tersebut sikap Marvin memang terlihat berbeda. Emily merasakan hal itu ketika melihat bagaimana cara Marvin memandang gadis itu dan memperlakukannya dengan cara yang tidak biasa.


Sudah hampir 30 tahun Emily mengabdi pada keluarga Xavier, jadi sudah pasti ia tahu betul bagaimana kebiasaan Marvin.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Aku ingin membahas sesuatu yang sangat penting, ini soal Brianna"


"Ada apa dengan Brianna Tuan? Apa gadis itu membuat masalah lagi?" Tanya Emily, mengingat tadi siang Brianna sudah berulah dengan aksinya naik ke atas pohon, hingga membuat Tuan nya ini jatuh tertimpa tubuh Brianna akibat menolong gadis itu.


"Aku ingin mengangkatnya sebagai pelayan pribadiku"


"Apa?? Apa Tuan yakin?"


"Ya sangat sangat yakin" jawab Marvin mantap tanpa ragu.


"Tapi Tuan, Brianna baru bekerja beberapa hari. Bukankah ini tidak adil untuk pelayan lainnya?".


"Aku Tuan di rumah ini, jadi aku berhak melakukan apapun, termasuk menjadikan Brianna sebagai pelayan pribadiku"


Emily mengangguk mengerti, jika sudah seperti ini Emily tidak berani melontarkan pertanyaan lagi. Walaupun ada banyak hal yang ingin Emily tanyakan, tapi sepertinya harus ia urungkan.


"Satu lagi, jangan biarkan Brianna melakukan pekerjaan yang lain, selain mengurus keperluan ku. Dia tanggung jawabku mulai sekarang"


"Baik Tuan saya mengerti"


"Jika ada pelayan yang protes, segera laporkan padaku"


Emily mengangguk mengerti, wanita itu merasakan ada nada posesif di setiap perkataan Marvin.


Apakah Marvin memang tertarik dengan Brianna?


Tapi apakah secepat itu? Mengingat ini baru pertama kalinya mereka bertemu. Berbagai pertanyaan kini menumpuk di kepala Emily. Wanita itu tidak tahu, bahwa Brianna lah yang menolong Marvin saat pria itu kecelakaan.


"Ada yang ingin kau tanyakan?"


"Tidak Tuan, kalau begitu saya permisi. Saya harus memberitahu para pelayan soal ini, dan memberikan pengertian pada mereka barangkali ada salah satu dari mereka yang tidak menerimanya"


"Aku percayakan semuanya padamu, dan pastikan tidak ada yang menyakiti Brianna setelah ini"


"Baik Tuan, saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau begitu saya permisi"


Flashback End


***


Senyuman Marvin mengembang begitu mobil yang ia tumpangi sudah sampai di pekarangan rumahnya. Marvin bisa melihat di depan pintu utama, ada Brianna yang sedang berdiri menunggunya.


Brianna benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik, Brianna langsung meminta izin pada Marvin untuk membawakan tas kerjanya begitu ia sampai di hadapan gadis itu.


Jika diperhatikan Brianna terlihat seperti seorang istri yang menyambut suaminya, yang membedakan adalah tidak ada kecupan manis yang Marvin terima dan mungkin suatu saat nanti Marvin akan mewujudkannya.


"Tuan ingin langsung mandi atau makan malam?" Tanya Brianna sambil berjalan di samping Marvin.


"Langsung mandi saja, tolong taruh tas itu di ruang kerjaku"


"Baik Tuan"


#


Brianna menaruh tas kerja Marvin di atas meja, kemudian ia berjalan mendekati deretan buku yang berjajar dengan rapi di dalam rak. Kebanyakan buku tersebut berisi hal-hal berbau bisnis, dan Brianna tidak mengerti soal itu. Bukunya sangat tebal dan sepertinya sangat membosankan saat dibaca.


Brianna bukanlah gadis kutu buku, tapi ia pun sering pergi ke perpustakaan saat sekolah dulu, itu pun hanya untuk membaca komik atau pun novel. Brianna hanya membaca buku-buku pelajaran di waktu tertentu saja, seperti pada saat akan mengahadapi ujian.


Setelah memperhatikan cukup lama, akhirnya ada satu buku yang menarik perhatian Brianna, disudut lemari ada beberapa komik yang berjajar yaitu komik detektif conan dengan beberapa seri. Apa Marvin salah satu pecinta detektif conan?


Dulu saat Marvin masih duduk di bangku SMA, pria itu menyukai komik tersebut. Marvin sering sekali membeli komik tersebut dan mengoleksinya hingga tidak sadar sudah terkumpul cukup banyak.


Brianna mengambil komik tersebut lalu membukanya lembar demi lembar. Jika sudah berhubungan dengan komik maka gadis itu akan lupa tempat dan waktu, ia bisa membacanya hingga berjam-jam hingga matanya kering.


Brianna duduk di salah satu sofa disana, sambil fokus membaca komik tersebut. Gadis itu sudah hanyut dalam dunianya hingga tidak menyadari kehadiran Marvin.


Marvin tersenyum melihat Brianna masih di ruang kerjanya, gadis itu tampak asik dengan komiknya tanpa bergerak sedikitpun.


"Ekhmmm"


Marvin duduk di samping Brianna membuat gadis itu terkesiap. Brianna segera menutup komiknya lalu menatap Marvin takut.


Oh ya ampun ia tertangkap basah.


"Tu.. tuan maaf aku..."


"Lanjutkan saja bacanya"


"Saya akan mengembalikan bukunya, maaf jika saya lancang Tuan" Brianna ingin mengembalikan buku tersebut ke dalam rak tapi Marvin menahan tangannya.


"Kau boleh membacanya Brianna Carissa, lagipula itu hanya sebuah komik. Kau bisa membacanya sesuka hatimu"


Brianna mengerjap, ia pikir Marvin akan marah. Namun yang ia dapatkan adalah senyuman tulus dari Marvin.


"Sungguh aku boleh membacanya?"


"Tentu, kau bisa baca semua buku yang ada disini"


"Terimakasih banyak Tuan" ucap Brianna senang, wajahnya terlihat sumeringah membuat Marvin tak tahan untuk tidak mengacak rambut gadisnya.


***


Waktu sudah menujukkan pukul 11 malam, Marvin meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah hampir 4 jam ia duduk mengerjakan tugas kantornya yang sempat tertunda. Saat ini ia masih terjaga di ruang kerjanya, dengan ditemani sebuah laptop yang baru saja ia matikan.


Pandangannya kini tertuju pada seorang gadis yang tertidur lelap di atas sofa. Tubuh mungilnya terlihat meringkuk seperti janin. Marvin baru sadar jika Brianna masih di ruangannya, gadis itu tertidur ketika membaca komiknya dan kini komik tersebut sudah tergeletak begitu saja di atas lantai.


Marvin mendekati Brianna dengan langkah pelan, takut membangunkan gadisnya. Marvin menundukkan tubuhnya menatap Brianna, sudut bibirnya lagi-lagi melengkung ke atas melihat betapa manisnya Brianna saat tidur seperti ini.


Wajahnya begitu polos dengan pipi bersemu merah. Tangan Marvin terulur mengusap kepala Brianna dengan lembut tanpa mengusik Brianna sedikit pun.


"Kau terlihat sangat cantik saat tidur seperti ini sayang" bisiknya pelan. Dengan perlahan Marvin mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Brianna penuh sayang.


Sofa tidak baik untuk dijadikan tempat tidur, tubuh Brianna bisa sakit keesokan harinya jika gadis itu tidur terlalu lama di atas sofa. Akhirnya Marvin memilih untuk membawa Brianna ke kamarnya. Dengan penuh kehati-hatian ia membawa Brianna ke dalam gendongannya.


Brianna sama sekali tidak terusik, yang ada justru gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Marvin, mencari kenyamanan disana.


Marvin terkekeh melihatnya, jantungnya turut berdebar saat kepala Brianna bersandar di dadanya. Mungkin jika Brianna dalam keadaan sadar, gadis itu bisa mendengar debaran jantungnya.


Marvin berhasil membawa Brianna ke kamarnya, lalu meletakkan tubuh Brianna di atas ranjang king size nya. Sekali lagi Marvin mengecup kening Brianna sayang, namun kali ini lebih lama dari sebelumnya.


Sudut bibirnya kembali tersenyum, dalam hatinya Marvin berharap bisa melihat wajah polos ini setiap harinya.


"Good night sweetheart"