
"Apa? Jadi Brianna berpacaran dengan pria kaya itu?"
Seorang gadis bernama Elsa terlihat terkejut mendengar cerita dari Steffy. Tidak hanya Elsa, sahabatnya yang lain yaitu Jessi juga memberikan reaksi yang sama. Mereka saat ini tengah berkumpul di taman belakang sekolah. Sepertinya Steffy sedang menceritakan pengalamannya bertemu Marvin dan Brianna di pesta pamannya beberapa waktu yang lalu.
"Kalian tidak menyangka bukan? Bagaimana bisa pria setampan dia mau berpacaran dengan gadis miskin sepertinya".
"Brianna benar-benar beruntung" sahut Jessi dan langsung ditimpali delikan tajam dari Steffy.
"Cihh apa hebatnya gadis itu? Lebih baik aku yang bersanding dengan Marvin Xavier. Kami sama-sama orang kaya, setidaknya Marvin tidak akan dipermalukan jika dia membawaku ke pesta ataupun acara bisnis lainnya. Sedangkan Brianna? Dia hanya akan membuat harga diri Marvin Xavier jatuh karena membawa anak dari seorang pelayan". Ungkap Steffy penuh percaya diri.
"Kau terlihat sangat kesal, apa kau cemburu?" Goda Elsa.
"Jangan-jangan kau menyukai Marvin?"
"Kalau iya memang kenapa!" Jawab Steffy kesal.
"Marvin Xavier pria tampan, kaya raya, dan mempesona. Hanya orang bodoh yang tidak tertarik padanya". Lanjutnya.
"Aku jadi penasaran ingin melihatnya secara langsung"
"Lihat saja nanti aku akan membuat hubungan mereka hancur!"
"Astaga! Jangan bilang kau ingin merebut Marvin Xavier dari Brianna"
Steffy tersenyum penuh arti "Sudah ku katakan aku yang lebih pantas untuk Marvin Xavier, dia harus jadi milikku"
Elsa dan Jessi hanya menghela nafasnya. Mereka sudah hafal betul bagaimana watak Steffy, gadis penuh ambisi!
"Steffy apa kau serius?" Tanya Elsa ragu.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Lagipula hidupku di masa depan akan semakin sejahtera jika nanti aku menikah dengan Marvin" Steffy terkekeh dengan seringaian di bibirnya.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya"
Steffy terdiam sejenak mencari jawaban untuk pertanyaan Jessi. Tiba-tiba ada pemandangan yang menarik perhatian Steffy, di ujung lorong kelas ia melihat sepasang siswa-siswi sedang berjalan beriringan.
Rencana licik langsung tertanam di otaknya. Sepertinya Steffy sudah menemukan jawabannya.
"Kau lihat mereka?" Tunjuk Steffy pada siswa dan siswi tadi, otomatis kedua sahabatnya itu mengikuti arah telunjuk Steffy.
"Mereka kenapa?"
Steffy tidak langsung menjawab, gadis itu justru tersenyum licik lalu membisikkan sesuatu pada Elsa dan Jessi. Jadi hanya mereka berdua yang mengetahui rencana busuk gadis itu.
#
Sementara itu Brianna tengah membawa setumpuk buku di tangannya. Ia sedang membantu Natasha membawakan buku-buku tersebut ke perpustakaan. Brianna nyaris oleng karena buku tersebut lumayan berat.
"Brianna biar ku bantu"
Seseorang mengambil alih sebagian buku yang Brianna bawa. Gadis itu tersenyum lega, karena beban di tangannya berkurang.
"Terimakasih Ryan"
Keduanya berjalan beriringan, mengikuti Natasha yang sudah berjalan lebih dulu.
"Brianna tolong susun buku-buku itu di rak ujung sana".
"Oh sejak kapan kau di sini Ryan?" Natasha terkejut melihat Ryan. Wanita itu baru menyadarinya.
"Sejak tadi, Aku tidak tega melihat Brianna membawa buku berat ini Bu, jadi aku membantunya".
"Baiklah, bantu Brianna susun bukunya. Aku akan pergi keluar sebentar"
"Baik, Bu"
#
Brianna dan Ryan mulai menyusun buku-bukunya. Suasana perpustakaan terlihat sepi hanya ada beberapa siswa saja di sana, karena siswa yang lain lebih banyak memilih berkumpul di kantin dari pada membaca buku di perpustakaan.
Begitupun suasana di antara Ryan dan Brianna, keduanya saling diam hanya keheningan yang menemani mereka. Ryan terlihat curi-curi pandang ke arah Brianna, sedangkan gadis itu terlihat fokus menata buku.
"Emm Brianna"
"Ya??"
Ryan inisiatif memulai percakapan untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
"Apa kau suka membaca komik"
"Komik? Tentu saja aku suka" jawab Brianna antusias. Ryan tersenyum rupanya topik obrolan yang ia ambil sangatlah tepat.
"Apa komik favoritmu?"
"One peace"
"Benarkah? Kebetulan sekali aku juga menyukainya. Bahkan aku mengoleksi beberapa serinya"
"Wah ternyata selera kita sama. Sebenarnya baru-baru ini aku menyukainya, karena Kak Marvin mengoleksinya juga"
"Kakak? Kau memanggil majikanmu dengan sebutan kakak?"
"Ah em i.. itu Tuan Marvin sendiri yang memintanya".
"Hmm begitu ya, sepertinya dia sangat menyayangi mu"
"Dia sudah menganggap ku sebagai adiknya sendiri" Brianna berbohong. Ia masih belum siap jika orang-orang mengetahui hubungannya dengan Marvin yang sebenernya, pengecualian untuk Steffy. Sebenernya Brianna merasa was-was semenjak Steffy mengetahui hubungannya dengan Marvin, ia takut Steffy akan menyebarkannya pada siswa yang lain.
"Ah Brianna bagaimana jika pulang sekolah nanti kita ke perpustakaan kota? Di sana banyak komik-komik bagus, kau bisa meminjamnya"
"Benarkah? Apa disana lengkap?"
"Tentu saja, kau bisa mendapatkan buku apapun yang kau cari"
Brianna mengangguk semangat "Baiklah ayo, tapi kita ajak Nina ya?"
"Kenapa harus mengajaknya?" Ryan terlihat keberatan.
"Karena Nina juga suka membaca buku, aku rasa Nina akan senang jika kita mengajaknya ke sana".
"Hemm baiklah"
Sebenernya Ryan berniat hanya akan mengajak Brianna saja, karena ini adalah kesempatan Ryan untuk lebih dekat dengan gadis itu. Tapi jika Nina ikut hancur sudah rencananya, Ryan jadi tidak bersemangat.