My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Tidak Perlu Mencari Gadis Itu Lagi



"Jadi apa yang membuatmu tidak fokus Kak?"


Kini Marvin & James sedang menikmati makan siang di sebuah restoran ternama. Marvin menyeruput kopi di tangannya kemudian menatap James "tidak biasanya kau memanggilku Kakak?"


"Aku akan mencoba untuk tidak berbicara formal lagi padamu. Bukankah kau sendiri sudah menganggapku sebagai adik? Jadi tidak masalah bukan?"


Marvin mengangguk mengerti, sejak dulu dirinya memang ingin James memanggilnya Kakak. James sudah bekerja dengannya cukup lama, jadi ini lah cara mereka untuk tidak merasa canggung satu sama lain.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi"


"James, mulai sekarang kau tidak perlu mencari gadis itu lagi"


"Kenapa? Apa kau sudah lelah menunggunya Kak?" Tanya James bingung.


"Sama sekali tidak, tapi ini sudah selesai. Aku sudah menemukannya" jawab Marvin dengan senyuman mengembang.


"Benarkah? Dimana dia sekarang?"


"Di rumahku" jawab Marvin santai. James tersedak saat meminum teh miliknya. Ia menatap Marvin tak percaya? Sejak kapan Marvin menemukan gadis itu?


"Tunggu-tunggu kenapa dia bisa ada di rumahmu? Bukankah gadis itu berada di daerah yang terpencil? Bahkan aku nyaris frustasi mencarinya" erang James membuat Marvin tertawa.


"Aku pun terkejut saat melihatnya. Saat aku selesai mandi tadi pagi, ia tiba-tiba ada di kamarku untuk mengantarkan sarapan."


"Wahh kau gila Kak, kau pasti berhalusinasi" celetuk James, ia sudah berani mengatai Marvin gila.


"Sialan! Akal sehatku masih berjalan dengan baik. Awalnya aku sempat berpikir seperti itu, tapi setelah aku bertanya pada Emily. Rupanya ada pelayan baru yang bekerja di rumahku dan gadisku itu salah satunya".


"APA??? Jadi Brianna bekerja menjadi maid?"


"Ya dia bekerja dengan ibunya"


"Dan sialnya lagi, pagi tadi kau sudah merusak rencanaku untuk bertemu dengannya!" Dengus Marvin kesal.


"Haha jadi ini yang membuatmu tidak fokus saat rapat?" Tebak James dengan wajah tak berdosa.


Marvin menjitak kepala James untuk melampiaskan rasa kesalnya yang sejak tadi ia tahan. James tampak meringis lalu berbalik menatap Marvin sebal.


"Aku sudah baik memanggilmu kakak, tapi kau malah melakukan kdrt padaku"


Lihatlah baru beberapa jam mereka akrab layaknya saudara, kini mereka berubah seperti karakter Tom and Jerry yang tidak pernah akur.


#


Ternyata menjadi seorang maid itu tidak semudah yang Brianna bayangkan. Ia pikir semakin banyak pelayan, semakin sedikit pula pekerjaan yang di kerjakan. Setelah membersihkan halaman belakang yang luas dan menyiram tanaman, kini Brianna harus membantu salah seorang pelayan untuk membereskan dapur. Brianna tidak pernah menunjukkan rasa lelahnya pada orang lain ataupun mengeluh. Ia selalu bersyukur dengan pekerjaan yang di berikan, itu tandanya mereka menyukai pekerjaannya.


"Brianna bisakah kau memberikan Murphy makan siang? Aku harus pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan"


"Murphy? Siapa itu Kak?"


"Murphy itu anjing peliharaannya Tuan Marvin".


"A.. anjing?" Ekspresi Brianna berubah pucat pasi, ia sangat trauma dengan yang namanya hewan yang suka menjulurkan lidahnya itu. Masalahnya dulu saat kecil ia pernah di kejar hingga roknya sobek digigit oleh anjing gila milik tetangganya.


"Huh harusnya ini pekerjaan Samantha, tapi dia pergi entah kemana" dengus Mia kesal, gadis itu selalu menghilang secara tiba-tiba.


"Brianna apa kau keberatan?"


"Ah ti.. tidak kak, baiklah aku akan melakukannya" ujar Brianna pasrah.


"Makanannya ada di dalam kandang, kau tenang saja Murphy anjing yang baik hati" kekeh Mia lalu pamit pergi.