My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Akting Samantha



"Ini bayaran untuk kalian"


Samantha memberikan sebuah amplop cokelat pada dua orang pria yang tampak tersenyum puas. Amplop tersebut berisi uang yang entah berapa jumlahnya. Saat ini Samantha tengah berada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah Marvin. Pertemuan tersebut dilakukan secara diam-diam.


"Kalian membuangnya dimana?"


"Di hutan yang jauh dari pemukiman warga dan tidak pernah dilewati banyak orang, sesuai dengan permintaan mu"


"Kerja yang bagus, aku akan memberikan bonus jika gadis itu benar-benar tidak pernah kembali".


Kedua pria itu saling bertatapan kemudian mengangguk senang. Mereka yakin jika pekerjaan yang mereka lakukan sudah berhasil.


"Sekarang kalian boleh pergi"


Samantha tampak puas dengan rencananya kali ini, mengeluarkan Brianna dari rumah Marvin akhirnya tercapai, yaitu dengan cara membuang gadis itu ke hutan yang jarang dilewati oleh orang-orang.


"Tinggal rencana selanjutnya, kali ini aku harus berhasil"


***


"Mia, apa kau melihat Brianna?"


Yasmine terlihat menghampiri Mia yang sedang memberikan makan pada Murphy, wajahnya nampak cemas karena sedari tadi ia tidak melihat Brianna dimanapun.


"Brianna? Sejak pagi aku belum bertemu dengannya bi. Apa terjadi sesuatu?"


"Brianna tidak ada di rumah, aku sudah berkeliling tapi tidak juga bertemu."


"Aps mungkin Brianna pergi ke luar?"


"Tidak, tidak. Itu tidak mungkin, Brianna tidak akan berani pergi ke luar. Bagaimana ini Mia aku sangat cemas"


"Bibi tenanglah, kita cari lagi bersama-sama. Ayo!"


"Tunggu!!"


Baru saja Yasmine dan Mia ingin mencari Brianna, namun suara Samantha menghentikan langkah mereka. Wanita itu datang memghampiri Yasmine sambil menangis, Mia yang memang sejak dulu tidak menyukai Samantha hanya menatap malas.


"Hikss bibi"


"Kenapa kau menangis Samantha?" Tanya Yasmine heran.


"Hikss... Bibi aku membawa kabar buruk"


"Kabar buruk apa?"


"Bri...Brianna"


"Ada apa dengan Brianna? Apa kau melihatnya? Sedari tadi bibi mencarinya"


"Bri..Brianna menghilang bi"


"Apa maksudmu???!!" Mia memekik terkejut, begitupun dengan Yasmine.


"Ta..tadi siang aku dan Brianna pergi ke toko peralatan dapur. Brianna mengajakku ke sana untuk membeli gelas baru, karena tadi siang dia memecahkan gelas yang aku bawa di paviliun."


"Aku sempat ingin memberitahumu tapi Brianna melarang, ia tidak mau dimarahi. Akhirnya kami pergi, tapi saat di toko aku kehilangan Brianna. Pada saat itu aku pergi sebentar ke toilet, aku memintanya untuk menunggu di depan toko. Tapi saat aku kembali Brianna sudah tidak ada hikkss" jelas Samantha dengan lelehan air mata palsunya.


"Kau tidak mengarang cerita kan Samantha?!" Mia memicing tak percaya, mengingat bagaimana buruknya sikap Samantha pada Brianna. Dan air mata wanita itu sungguh diragukan.


"Hikss mana mungkin aku berbohong!"


"Atau kau sengaja meninggalkannya sendiri disana!?"


"Aku tidak sejahat itu Mia!"


"Cihh bisa saja kan, wanita ular sepertimu tidak mudah dipercaya!"


"Kau ..."


"Sudah cukup! Samantha toko mana yang kau datangi tadi?" Yasmine berusaha bersikap tenang, walaupun hatinya sangat was-was. Ia tidak ingin menuduh macam-macam pada Samantha.


"Di sekitar daerah xx, aku sudah berkeliling mencarinya di sekitar toko itu tapi aku tidak bisa menemukannya"


"Bi, aku takut Brianna diculik" Mia mulai kalut.


"Kita harus segera mencarinya Mia, aku takut terjadi sesuatu pada putriku"


"Ada apa ini???"


"Tuan Marvin?"


#


"Kenapa kau membiarkannya sendirian hah!!"


Marvin tampak murka setelah mengetahui Brianna menghilang, sorot matanya yang tajam begitu menghunus ke arah Samantha. Wanita itu hanya menunduk takut dan berusaha untuk menjelaskan. Walaupun begitu ia merasa kesal karena Marvin terlihat begitu khawatir.


"Saya tidak tahu kejadiannya akan seperti ini Tuan. Maafkan saya" Samantha memohon maaf dengan air mata yang di buat-buat. Sebuah akting yang berhasil membuat orang-orang tidak curiga, seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa.


"James!!"


Merasa namanya di panggil, James segera menghadap Marvin yang tengah kalut.


"Cepat cari Brianna sekarang juga! Kerahkan seluruh anah buahku dan periksa kamera cctv di sekitar toko itu!"


"Baik"


Tanpa berpikir panjang lagi, James langsung melaksanakan perintah Marvin. Mia berusaha menenangkan mama Brianna yang tampak cemas, ingin rasanya ia ikut mencari putrinya namun Marvin melarang. Biarlah para anak buahnya yang mencari.


Sementara itu, Samantha tampak mengusap air matanya dengan senyuman licik tersemat di bibirnya. Ia senang melihat penghuni rumah Marvin kalang kabut. Dan ia yakin Brianna tidak akan pernah bisa di temukan. Karena semua ucapannya tadi hanyalah omong kosong. Itu adalah taktiknya untuk mengecoh anak buah Marvin.


"Mia bagaimana ini, aku takut terjadi sesuatu pada Brianna" air mata Yasmine tidak bisa di tahan lagi, wanita itu benar-benar cemas. Ia takut ada yang menyakiti Brianna di luar sana.


"Bibi tenanglah, kita berdo'a saja semoga Brianna baik-baik saja"


Sementara itu, Marvin nampak diam termenung. Ia pun sama cemasnya, jika benar Brianna di culik ia bersumpah tidak akan memaafkan orang tersebut dan akan menghukumnya dengan ganjaran yang setimpal.