
Marvin membanting pintu mobilnya dengan kasar, meninggalkan Brianna yang berusaha mengejarnya. Marvin memasuki rumah besarnya dengan cepat, tanpa mempedulikan panggilan Brianna.
Mata Brianna sudah memerah menahan air matanya. Sepanjang perjalanan pulang Marvin sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Brianna berusaha memanggil Marvin tapi pria itu tidak meresponnya dan terus berjalan menuju kamarnya dengan wajah dingin.
"Kakak!"
Brianna berhasil meraih tangan Marvin. Marvin berhenti sejenak tapi enggan menatap wajahnya.
"Kakak salah paham, aku dan Ryan hanya pergi membaca komik. Maaf karena aku lupa memberitahu kakak, tapi sungguh kami tidak memiliki hubungan apapun" Brianna menatap Marvin memelas, namun itu tidak menyurutkan emosi Marvin. Foto-foto yang ia dapat tadi masih terbayang-bayang di kepalanya.
Marvin merogoh saku jasnya dengan kasar lalu mengeluarkan ponselnya.
"Lalu ini apa hah!" Marvin menunjukkan foto ketika Brianna memeluk Ryan saat di bonceng, selain itu ada juga ketika Ryan merapihkan rambut Brianna yang berantakan.
"Apa ini yang kau sebut hanya TEMAN?"
"Da..darimana kakak mendapat foto-foto itu?" Brianna terkejut bukan main, pantas saja Marvin begitu marah.
"Tidak penting foto ini darimana, ini benar kalian kan?!
"I..itu aku tidak sengaja memeluknya, karena Ryan membawakan motor sangat cepat kak"
"Cihh alasan!" Marvin melepaskan tangan Brianna di lengannya. Kemudian kembali berjalan memasuki kamarnya.
Brianna menyerah, sepertinya Marvin membutuhkan waktu untuk sendiri. Gadis itu hanya bisa menatap Marvin dengan nanar.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Kepala Brianna tertunduk, hatinya sakit melihat Marvin mengabaikan nya seperti ini. Ini pertama kalinya Marvin semarah ini padanya. Semua ini salahnya sendiri, seharusnya ia jujur dari awal bukan membohongi Marvin seperti tadi.
Ketegangan itu tidak luput dari perhatian para pelayan yang sedang bekerja, termasuk Emily si kepala pelayan.
"Nona apa terjadi sesuatu?"
Emily menghampiri Brianna yang terdiam di tempatnya. Wanita paruh baya itu bisa melihat bahu Brianna yang bergetar. Brianna mulai menangis.
"Bibi Emily..."
"Astaga kenapa menangis?" Emily meraih wajah Brianna menatapnya dengan cemas.
"Hiks... Bibi dimana Mama?"
"Mamamu sedang bersama Mia di paviliun".
Brianna mengangguk kemudian pergi meninggalkan Emily, gadis itu tidak mengatakan apapun tentang masalahnya. Brianna hanya ingin bertemu mamanya sekarang.
#
"Mamaa!!"
Brianna menangis memeluk ibunya. Yasmine yang saat itu tengah mengobrol dengan Mia terkejut melihat kedatangan anak gadisnya sambil menangis.
"Sayang kenapa menangis?"
"Ada apa dengan Marvin?" Tanya Yasmine heran.
"Kak Marvin marah padaku"
Brianna langsung menceritakan masalahnya dengan Marvin. Sambil terus memeluk ibunya, Brianna terus menangis karena bingung harus bagaimana agar Marvin mau memaafkannya.
"Kenapa tidak meminta izin dulu pada Marvin?"
"Hiks.. aku lupa, Ma"
"Ya sudah berhenti menangis, setelah ini bicaralah pada Marvin dan jelaskan padanya".
"Tapi kakak tidak mau bicara denganku"
Yasmine mengelus kepala putrinya dengan sayang,
"Mungkin Tuan Marvin ingin menenangkan diri" Mia yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
"Mia benar, setelah keadaannya lebih tenang bicara pelan-pelan padanya hmm."
"Sudah Brianna jangan menangis, aku yakin Tuan Marvin tidak akan bisa marah lama-lama padamu".
"Sekarang ganti bajumu setelah itu istirahat, mama akan menyiapkan makan malam" Yasmine mengecup kening Brianna lalu memberi isyarat pada Mia untuk mengantarkan putrinya ke kamarnya.
#
Sudah saatnya makan malam, Brianna sudah duduk di meja makan dengan beberapa hidangan tersedia di meja makan. Brianna tengah menunggu Marvin yang belum juga keluar dari kamarnya.
"Kenapa tidak makan sekarang?" Emily datang sambil membawa segelas air putih untuk Brianna.
"Aku menunggu Kak Marvin"
Emily menghela nafasnya pelan, lalu mengambilkan piring dan menyendokkan nasi serta lauknya untuk Brianna.
"Tuan Marvin sedang pergi ke luar, jadi makanlah lebih dulu"
"Tidak, aku akan makan setelah Kak Marvin pulang"
"Beliau akan pulang sangat larut, ingat pesan Tuan Marvin jangan sampai telat makan"
Brianna tidak mempedulikan ucapan Emily, selera makannya sudah hilang sekarang. Ia tetap akan makan jika Marvin ada menemaninya makan.
"Mau bibi temani?"
Brianna menggeleng mendengar tawaran Emily. Gadis itu memundurkan kursinya lalu beranjak dari tempatnya. Emily hanya bisa menghela nafas, ia tidak akan memaksa Brianna makan jika gadis itu tidak ingin.
"Dimana Brianna?" Yasmine baru saja keluar dapur,ia bingung tidak mendapati putrinya di sana.
"Putrimu kembali ke kamar, dia kelihatan sedih karena Tuan Marvin tidak ada"
"Baiklah biar aku yang akan membujuknya"