
Brianna melirik jam dinding besar yang menggantung indah di ruang tengah. Sesekali mulutnya menguap tak kuasa menahan kantuk, bagaimana tidak waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi gadis itu belum juga tidur.
Ada seseorang yang sedang Brianna tunggu, siapa lagi kalau bukan Marvin Xavier. Brianna sengaja menunggu Marvin pulang karena ia berencana ingin meminta maaf kembali. Tapi hingga selarut ini Marvin belum juga pulang ke rumah.
Selama menunggu Marvin, Brianna di temani oleh tugas-tugas yang harus ia kumpulkan besok. Saat ini gadis itu duduk di atas karpet dengan buku-buku yang berserakan. Tidak lupa juga ada beberapa cemilan yang ia siapkan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Yasmine tidak berhasil membujuk putrinya untuk makan, karena gadis itu bersikeras ingin makan bersama Marvin. Namun sampai detik ini Marvin belum juga menampakkan batang hidungnya.
Hingga pukul 12 malam, Brianna tidak kuasa menahan kantuknya akhirnya ia tertidur di atas karpet berbulu itu bersama tugas-tugasnya. Suasana rumah tampak sepi karena seluruh pelayan sudah kembali ke paviliun dan mama Brianna sudah pergi tidur.
Hingga pukul 1 dini hari, Marvin akhirnya pulang ke rumah. Wajah lelahnya terpampang jelas dalam paras tampannya. Marvin berjalan gontai memasuki rumahnya.
Saat melewati ruang tengah, MarvinĀ melihat Brianna tidur disana tanpa bantal. Hanya ada buku yang menjadi bantal Brianna.
"Kenapa kau tidur di sini?" Tidak ada raut dingin dalam ekspresi Marvin saat ini.
Marvin menatap wajah Brianna dengan lekat. Ekspresi kekecewaan Marvin kembali terlihat, jujur saja ia masih kecewa dan kesal pada kekasihnya ini. Namun melihat wajah lugu dan polos Brianna saat ini membuat rasa kecewa itu melebur secara perlahan.
Marvin membawa Brianna ke dalam gendongannya, gadis itu mulai terusik hingga akhirnya ia terbangun.
"Kakak?" Brianna mengerjapkan matanya saat melihat Marvin. Mengumpulkan nyawanya untuk memastikan jika sosok di hadapannya ini bukan halusinasinya.
Senyuman gadis itu langsung terbit saat telapak tangannya menyentuh pipi Marvin, ini benar-benar nyata bukan mimpi.
"Akhirnya Kakak pulang, aku menunggumu"
"Kenapa menungguku?" Marvin bertanya dengan ekspresi datar, pandangannya fokus ke depan tanpa melihat wajah Brianna. Oke mungkin ini bentuk hukuman untuk Brianna. Bibir gadis itu tampak mengerucut melihat respon Marvin.
"Kakak masih marah ya?"
Mereka sudah sampai di kamar Brianna, Marvin membaringkan tubuh Brianna di atas ranjang tanpa menjawab pertanyaannya.
"Tidurlah, ini sudah larut besok kau sekolah" Marvin pergi begitu saja tanpa memberikan kecupan selamat tidur seperti yang biasa pria itu lakukan.
Brianna menatap Marvin sedih, dia hanya diam menatap punggung Marvin menjauh, lalu menghilang di balik pintu.
Brianna menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Menangis itulah yang Brianna lakukan saat ini.
#
Sudah 3 hari Marvin menghindari Brianna, selama itu Brianna jarang sekali bertemu dengan Marvin. Pria itu tidak lagi mengantar ataupun menjemput Brianna sekolah. James bilang Marvin sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan hari ini Marvin akan pergi Jepang untuk mengurus proyek barunya di sana.
Tak lama kemudian seseorang datang membuyarkan lamunan gadis itu.
"Brianna kau melamun lagi"
Nina menatap sahabatnya dengan heran, akhir-akhir ini Brianna memang terlihat tidak bergairah. Wajah cantik Brianna selalu tampak murung tidak seperti Brianna yang ia kenal, ceria dan bersemangat.
"Aku tidak apa-apa"
"Ckk berhenti membohongiku, jika ada masalah kau bisa cerita padaku Brianna. Aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu".
Nina menggenggam tangan Brianna membuat gadis itu menatapnya.
"Kau bisa mengeluh padaku, keluarkan semua isi hatimu. Aku rasa itu akan membuatmu jauh lebih lega" Nina tersenyum tipis di akhir ucapannya.
Brianna akhirnya mau bercerita pada Nina. Mulai dari hubungan specialnya dengan Marvin hingga masalah pertengkarannya beberapa hari yang lalu yang melibatkan Ryan. Nina sangat terkejut saat tahu Marvin adalah kekasih Brianna. Sebelumnya Nina juga memperhatikan bahwa sikap Marvin pada Brianna tidak terlihat seperti seorang majikan pada maid nya. Selama ini Marvin begitu sangat peduli, Nina bisa melihat itu.
"Aku bingung harus bagaimana sekarang, Kak Marvin mengabaikan aku semenjak kesalahpahaman itu terjadi. Padahal aku sudah meminta maaf"
"Brianna sepertinya Marvin sangat cemburu pada Ryan"
"Tapi aku dan Ryan..."
"Aku tahu kalian hanya sebatas teman, tapi ingat kau adalah kekasih Marvin saat ini. Jadi kau harus bisa menjaga perasaan Marvin".
"Lantas apa yang harus aku lakukan agar Kak Marvin tidak marah lagi padaku?"
"Jangan terlalu dekat dengan Ryan, atau pria manapun".
Brianna mengangguk mengerti. Saat ini ia sudah melakukan itu. Tapi Ryan selalu berusaha mendekatinya akhir-akhir ini. Dan rasanya tidak mungkin jika ia tiba-tiba memusuhi Ryan.
"Tidak harus memusuhinya, kau hanya perlu menjaga jarak dengan Ryan. Bicara seperlunya jika itu penting".
"Hmm baiklah"
"Ku harap masalahmu cepat selesai, aku kesal melihat wajah murung mu setiap hari" dengus Nina
"Maafkan aku Nina, aku janji tidak akan murung lagi. Terima kasih sudah mau mendengar keluh kesah ku" Brianna memeluk Nina, bebannya terasa lebih ringan sekarang. Setelah ini ia akan menemui Marvin ke kantornya. Brianna tidak akan menyerah sebelum pria itu memaafkannya.