My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Bolehkah Aku Menyentuhmu?



Setelah menikmati sunset, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Rencananya Marvin akan mengajak Brianna berkeliling mulai besok. Hari ini Marvin ingin menghabiskan waktunya untuk beristirahat saja di hotel.


Bunyi gemericik terdengar dari kamar mandi. Saat ini Brianna tengah membersihkan diri dan Marvin tengah duduk santai di atas ranjang sambil menikmati segelas kopi.


Sementara itu Brianna terlihat gugup di dalam kamar mandi. Sudah hampir setengah jam ia di dalam tapi gadis itu tidak kunjung keluar.


"Astaga, kenapa mama memberiku pakaian seperti ini?" Brianna menggigit bibir bawahnya melihat penampilannya saat ini. Pasalnya sang mama mertua memintanya untuk memakai sebuah lingerie.


Ini pertama kalinya Brianna memakai pakaian kurang bahan seperti ini.


"Pakai baju ini saat akan tidur oke? Ini amanah, jadi kau harus menurut"


"Tapi aku malu jika kakak melihat"


"Marvin adalah suamimu, sebagai seorang istri kau wajib membuatnya senang"


"Apa dengan pakaian seperti ini kakak akan senang?" Tanya Brianna polos.


"Tentu, dia akan sangat senang. Kau akan terlihat cantik saat memakainya. Ingat ini adalah Honeymoon kalian, buatlah moment berkesan di sana"


Brianna teringat dengan ucapan Livy, jika ia tidak memakainya sudah pasti wanita itu akan kecewa. Tapi ia malu jika Marvin melihatnya.


Tok tok tok!


"Sayang, kau sudah selesai?" Suara Marvin terdengar dari luar membuat Brianna tersentak.


"I..Iya kak" jawab Brianna gugup.


"Kau baik-baik saja?"


"Y..ya aku baik-baik saja kak"


Brianna mematut dirinya di cermin, entahlah ia refleks melakukannya. Brianna mengatur nafasnya sejenak kemudian membuka pintu.


Brianna melihat Marvin sedang duduk sambil memegang secangkir kopi di tangannya. Pria itu tidak sadar jika Brianna sudah keluar.


"Kakak ..." Panggil Brianna pelan.


Marvin menoleh sambil menyeruput kopi di tangannya. Seketika matanya membulat melihat penampilan gadis kecilnya.


"Uhukk-uhuukk!" Marvin terbatuk oleh kopinya sendiri, bola matanya nyaris keluar melihat pemandangan di depannya.


Brianna panik kemudian berjalan mendekati Marvin.


"Anna, apa yang..." Marvin tak mampu melanjutkan kata-katanya. Matanya menelisik penampilan Brianna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jantungnya berdebar kencang melihat betapa seksinya Brianna malam ini. Sebuah lingerie hitam membalut tubuh mungil gadisnya, bahkan Marvin bisa melihat pakaian dalam Brianna. Lingerie tersebut transparan!


"Siapa yang memberimu pakaian seperti ini?" Tanya Marvin dengan nada suara sedikit meninggi. Pria itu tidak marah hanya saja sedikit shock.


Brianna menggigit bibir bawahnya gugup dengan tangannya saling bertaut. " Ma..mama yang memberinya a..apa kakak tidak suka?"


Brianna tidak mampu menatap Marvin, nada bicara Brianna mulai bergetar. Gadis itu takut Marvin tidak menyukainya.


"Aishhh mama!" Marvin mendesis, otomatis Brianna menatapnya. Matanya gadis itu mulai berkaca-kaca.


"Ka..kalau kakak tidak suka, aku akan menggantinya"


Marvin bisa melihat ekspresi Brianna, dengan cepat ia pun menahan tangan Brianna. Lalu membawa Brianna duduk di sampingnya.


"Apa kau nyaman dengan pakaian itu?" Nada bicara Marvin mulai melembut, lalu menarik dagu Brianna agar menatapnya.


Brianna menggeleng, lalu tanpa sadar air matanya menetes di ujung matanya.


"Hey kenapa menangis?"


"Aku rasa aku terlihat jelek memakai ini, kakak sampai terbatuk melihatku seperti ini" cicit Brianna pelan.


Marvin terkejut mendengarnya, bagaimana bisa Brianna menyimpulkannya seperti itu. Justru ia terkejut karena betapa seksi dan cantiknya Brianna saat ini. Sepertinya ibunya sengaja memberikan baju sialan itu untuk memancingnya menyentuh Brianna


"Siapa bilang kau jelek? Aku bersumpah kau terlihat sangat cantik malam ini" bisik Marvin. Tak sengaja ia melirik tubuh mungil itu, Marvin menelan ludahnya menahan libido nya yang mulai terpancing.


"Sial!"


"Aku terbatuk karena aku terkejut, bukan karena kau jelek sayang. Ini pertama kalinya melihatmu memakai baju seperti ini"


Marvin menangkup pipi Brianna dengan tangannya, ia bisa melihat bibir mungil itu tersenyum.


"Terima kasih kak" balas Brianna malu-malu. Marvin gemas sendiri melihatnya, ia tidak yakin setelah ini mereka akan tidur dengan cepat. Hasratnya untuk menyentuh Brianna semakin meninggi, gadis itu berhasil memancing gairahnya.


"Sayang ..." Panggil Marvin pelan, dielusnya pipi gadis itu dengan lembut.


"Hmm?"


"Boleh aku menyentuhmu sekarang?"


Brianna mengernyit bingung. Menyentuh? Bukankah suaminya itu sudah menyentuhnya? Pikir Brianna. Otak polosnya kembali berjalan, ia tidak mengerti maksud Marvin. Namun ia mengangguk dengan ekspresi bodohnya.