
Sementara itu Steffy terlihat panik bersama kedua temannya. Steffy, Jessi dan Elsa sudah melihat Brianna telah di tolong oleh Marvin. Sekarang mereka takut Marvin mengetahui kejahatan yang telah mereka lakukan.
"Steffy bagaimana ini, aku takut guru-guru tahu kita pelaku pengeroyokan Brianna" Jessi berbicara dengan cemas. Saat ini mereka tengah bersembunyi di salah satu kelas kosong.
"Ini semua kesalahanmu Steffy! Ini semua rencana mu. Seharusnya kau tidak melibatkan kami!" Elsa terlihat kesal, ia menyesal mengikuti rencana jahat temannya itu. Ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
"Benar, aku menyesal telah mengikuti rencana mu itu. Bagaimana jika kita dipenjara?"
Soal Steffy memukuli Brianna hingga pingsan benar-benar di luar dugaan mereka. Elsa dan juga Jessi benar-benar menyesal. Sekarang mereka sendiri yang akan terkena getahnya.
"Kenapa kalian menyalahkan aku! Bukankah kalian juga membencinya? Kalian sendiri yang setuju dengan rencana ku ini". Ucap Steffy tak terima.
Elsa dan Jessi pun terdiam. Meratapi nasibnya yang sudah di ujung tanduk. Cepat atau lambat perbuatan mereka akan terungkap. Jessi mulai menangis, gadis itu ketakutan.
"Yak! Jangan menangis bodoh!"
"Hikss bagaimana jika kita dikeluarkan dari sekolah, atau lebih parah lagi dipenjara?"
"Kita tidak akan tertangkap! Percaya padaku".
Elsa mendesis, ia tidak yakin dengan ucapan Steffy. Marvin pasti tidak akan tinggal diam melihat Brianna diperlakukan buruk oleh mereka. Apalagi pria itu menemukan Brianna dengan kondisi terluka sampai tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, mereka mendengar keributan di depan kelas tersebut. Gedoran pintu terdengar begitu nyaring, terdengar seperti orang yang memaksa membuka pintu. Itu adalah James beserta anak buah Marvin.
Steffy, Elsa dan Jessi langsung bersembunyi di bawah kolong meja. Keringat dingin terlihat menghiasi wajah mereka. Jessi semakin menangis dengan tubuh gemetaran.
"Jessi berhenti menangis! Kita bisa ketahuan!" Bisik Steffy pelan.
"Steffy! Keluar kau, aku tahu kau ada di dalam!" Suara tegas James terdengar dari luar. Wajah Steffy memucat begitu mendengarnya. Sedangkan Elsa, gadis itu sudah pasrah. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.
"Kau mau kemana?" Steffy panik luar biasa. Elsa pergi ke arah pintu seolah-olah menyerahkan diri pada James.
"Teman macam apa kau ini hah! Kembali ke tempatmu Elsa!"
Elsa tidak peduli, ia langsung membuka pintunya dan melihat ada beberapa orang yang mengepung mereka.
"Dimana Steffy?" Tanpa basa basi James langsung bertanya.
Elsa mengarahkan tangannya ke salah satu meja paling belakang. Di sanalah Steffy bersembunyi. Anak buah Marvin langsung menuju meja tersebut dan menarik Steffy keluar dari persembunyiannya. Begitu pula dengan Jessi.
"Yak!! Lepaskan aku!"
"Cepat bawa mereka ke kantor polisi"
"Apa?? Atas dasar apa kalian menangkap ku seperti ini!"
"Tidak perlu mengelak, Marvin sudah tahu kelakuan busukmu pada Brianna. Aku sudah memiliki bukti atas perbuatanmu itu!"
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Steffy berontak dalam cengkraman pria-pria berbadan kekar tersebut. Sedangkan Elsa dan Jessi sudah pasrah, mereka juga terlibat dalam pembullyan Brianna. Untuk itu James meminta anak buah nya untuk membawa Elsa dan Jessi ke kantor polisi.
#
"Marvin bagaimana keadaan Brianna?" Tanya Yasmine khawatir. Begitu sampai di rumah sakit, Marvin langsung menghubungi ibu Brianna. Marvin belum menceritakan masalah yang menimpa Brianna di sekolah, Marvin tidak ingin menambah cemas calon ibu mertuanya tersebut.
"Dokter sedang memeriksanya, kita berdo'a saja semoga Brianna baik-baik saja".
"Sebenarnya apa yang terjadi di sekolah? Kenapa bisa putriku di larikan ke rumah sakit?"
"Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya setelah waktunya tepat".
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya dokter yang menangani Brianna keluar. Marvin dan Yasmine dengan sigap mendekati dokter tersebut menanyakan kondisi Brianna.
"Bagaimana keadaanya?"
"Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir, kondisi Nona Brianna sudah stabil. Syukurlah luka di pelipisnya tidak terlalu parah hanya saja ada beberapa luka lebam di tubuhnya. Saya pastikan luka lebam itu tidak membahayakan tubuh bagian dalamnya"
Marvin, Yasmine dan Emily akhirnya bisa bernafas lega mendengar penjelasan sang dokter.
"Boleh kami melihatnya?"
"Tentu silahkan. Saat ini Nona Brianna sedang dalam pengaruh obat bius, mungkin 3 sampai 4 jam beliau akan segera sadar".
"Baik kalau begitu terima kasih Dokter"
**
Setelah dilakukan pemeriksaan Brianna di pindahkan ke ruang inap. Yasmine menatap putrinya dengan sendu, ia bisa melihat beberapa luka di wajah Brianna. Yasmine sadar itu seperti luka pukulan, Marvin pun belum menjelaskan apapun padanya.
"Kenapa bisa seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi?" Yasmine menggenggam tangan putrinya. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Brianna.
Marvin datang menghampiri, ia duduk di sebelah kiri Brianna. Ia melakukan hal yang sama seperti yang Yasmine lakukan. Menatap sedih wajah sang kekasih yang sekarang masih betah memejamkan matanya.
Di elusnya kepala Brianna yang berbalut perban itu dengan lembut. Dalam hatinya Marvin membatin, ia merasa menyesal karena tidak becus menjaga gadisnya dengan baik. Marvin merasa lalai sehingga bahaya begitu mudah mengintai Brianna.
"Maaf karena aku telah lalai menjagamu, maafkan aku" ucap Marvin lirih. Di kecupnya kening Brianna penuh sayang, rasanya ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Jika saja ia lebih sigap mengetahui kejahatan Steffy, semua ini tidak akan terjadi.
Yasmine memberikan waktu pada Marvin berdua bersama Brianna. Wanita itu memilih keluar dari kamar inap dan menunggunya di luar bersama Emily.
"Aku bersumpah tidak akan membiarkan gadis iblis itu lolos. Dia akan mendapatkan balasan yang setimpal"
Ada percikan emosi di mata Marvin. Leher pria itu mengeras memikirkan kejahatan yang sudah Steffy lakukan pada gadis pujaan hatinya.
Tak lama kemudian Marvin merasakan ponselnya bergetar, rupanya James menghubunginya.
Pria itu meminta Marvin untuk segera datang ke kantor polisi. Tanpa pikir panjang Marvin langsung bergegas ke sana.
Sebelum pergi ia mengecupi wajah Brianna penuh sayang dan penuh hati-hati, mengengingat ada beberapa luka yang menggores wajah cantik gadisnya.
"Cepatlah sadar sayang, maaf aku harus pergi dulu. Aku akan segera kembali untukmu" di kecupnya bibir Brianna penuh kelembutan. Setelah itu Marvin pamit pada ibu Brianna untuk menyelesaikan masalah ini.