My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Kembali Sekolah



Brianna berjalan menuruni tangga dengan langkah terburu-buru. Senyuman manis terus mengembang di bibir cherrynya, ia ingin segera memberitahu mamanya soal sekolahnya yang akan berlanjut.


"Mama!!"


Yasmine tersentak mendengar teriakan putrinya, hingga seluruh penghuni dapur menoleh ke arah gadis itu.


"Hehe maaf mengganggu kalian semua, aku hanya ingin berbicara dengan mamaku"


Yasmine membungkuk minta maaf pada koki seniornya, dengan cepat ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menghampiri putrinya.


"Ada apa datang-datang berteriak?"


"Ma, aku membawa kabar baik"


Yasmine mengernyit, lalu ia menarik tangan Brianna menjauh dari dapur. Kini mereka berbicara di bawah tangga menuju lantai 2. Wanita itu tampak penasaran dengan kabar baik yang Brianna bawa.


"Kabar baik apa?"


"Ma, sebentar lagi aku akan sekolah! Tuan Marvin mendaftarkan aku ke sekolah yang sangat bagus" kata Brianna semangat, bola matanya terlihat berbinar senang.


Yasmine hanya tersenyum menanggapinya, ia sudah tahu soal ini karena sebelumnya Marvin sudah lebih dulu meminta izin padanya. Awalnya ia menolak, karena ia tidak ingin membebani Tuannya untuk membiayai sekolah Brianna. Apalagi sekolah di Kota A pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit


Yasmine ingin menyekolahkan Brianna dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Namun Marvin terus memaksa dengan alasan untuk kebaikan dan masa depan Brianna. Mengingat betapa besarnya semangat Brianna untuk bersekolah kembali. Jadi tidak ada lagi alasan bagi Yasmine untuk menolak.


"Kenapa mama hanya diam? Apa mama sudah tahu soal ini?"


"Ya sayang, Tuan Marvin sudah membicarakan soal ini dengan mama".


"Kenapa mama tidak mengatakannya padaku?"


"Karena Tuan Marvin ingin mengatakannya langsung padamu" ujar sang mama mengelus kepala putrinya.


"Gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin sayang. Belajarlah dengan rajin, jangan kecewakan mama terutama Tuan Marvin".


"Tentu saja mama, aku berjanji akan membuat mama dan Tuan Marvin bangga padaku"


"Anak pintar, mama percaya padamu" ditariknya tubuh Brianna ke dalam pelukannya.


Yasmine merasa sangat berhutang budi pada Marvin, majikannya tersebut begitu baik padanya terutama Brianna. Yasmine selalu memperhatikan interaksi Marvin dengan putrinya, pancaran mata Marvin terlihat berbeda saat menatap Brianna.


"Brianna!!!!"


Pelukan anak dan mama tersebut harus terlepas begitu teriakan Marvin menggema di lantai atas, pria itu tengah mencari maid kesayangannya.


"Ma, Tuan Marvin memanggilku"


"Baik ma"


Yasmine senang melihat putrinya bahagia, tapi disisi lain ia pun bingung dengan sikap Marvin yang begitu perhatian pada putrinya. Apakah benar jika majikannya tersebut menyukai Brianna, putrinya?


#


Sementara itu di ruangan lain, Samantha terlihat serius menatap layar ponselnya. Sorot matanya berubah tajam saat melihat beberapa foto yang berhasil membuat emosinya melonjak naik.


Beberapa waktu yang lalu, setelah acara mengupingnya ia meminta salah satu temannya untuk mengikuti Marvin dan Brianna. Dari hasil mengintainya ada video dan juga foto yang berhasil diambil ketika Marvin dan Brianna berada di kamar. Dari video tersebut Samantha juga bisa mengetahui informasi baru bahwa Marvin telah mendaftarkan Brianna ke sebuah sekolah.


Hal ini kembali membuat Samantha geram, bahkan pelayan lain pun semakin merasa iri dari benci pada Brianna.


"Sial!!! Kenapa mereka semakin dekat saja" Samantha mencengkram ponselnya kuat.


"Dan gadis ingusan itu, dia sudah mulai berani rupanya" desis Samantha kesal. Ia melempar ponselnya asal, lalu duduk di atas ranjangnya dengan kasar. Samantha diam untuk sejenak, entah apa yang ia pikirkan sekarang, yang jelas rencana licik sudah bersarang di otaknya. Hal tersebut terbukti dengan munculnya seringaian di bibir wanita itu.


#


Seperti hari-hari sebelumnya tidak ada pekerjaan lain yang Brianna lakukan jika Marvin sudah berangkat ke kantornya. Semua pekerjaan sudah di lakukan oleh pelayan lain.


Brianna menghampiri Emily yang tengah duduk santai di ruang tengah, matanya fokus membaca lembar demi lembar buku bacaan yang ada di tangannya.


"Permisi Nyonya Emily"


"Ada apa Brianna?" Emily mengalihkan fokusnya sejenak dari buku yang ia baca. Bibirnya tersenyum tipis melihat kedatangan Brianna.


"Apa aku mengganggumu?"


"Tentu saja tidak, ada yang bisa aku bantu?"


"Nyonya, apakah ada sesuatu yang bisa aku kerjakan?"


"Apa kau menganggur?"


Brianna mengangguk "Semua pekerjaan sudah dilakukan oleh pelayan lain, aku ingin membantu mereka tapi semuanya menolak. Jadi sekarang aku bingung harus melakukan apa"


"Tugasmu hanya menunggu Tuan Marvin pulang, dan melayaninya" Emily tersenyum tipis kemudian melanjutkan acara membacanya. Jelas saja para pelayan menolak untuk dibantu karena ini semua perintah Marvin Xavier. Brianna di larang melakukan pekerjaan lain selain melayaninya.


"Jika bosan, kau bisa bermain dengan Murphy" saran Emily


"Bermain dengan Murphy? Ah tidak tidak terima kasih, lebih baik aku berkeliling saja nyonya"


Emily terkekeh saat mendengarnya, sudah pasti Brianna masih trauma dengan anjing itu. Bermain dengan Murphy sama saja dengan bunuh diri, Brianna tidak mau lagi bermain kejar-kejaran dengan anjing berbulu lebat itu dan berakhir di atas pohon.