
Steffy begitu mengagumi ketampanan Marvin, apalagi saat Marvin berbicara serius dengan pamannya. Gadis itu terus tersenyum dalam diam, rasanya tidak ada rasa bosan saat memperhatikan wajah tampan Marvin.
Samuel hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Steffy, pria itu sadar jika Marvin tidak nyaman dengan keberadaan Steffy. Syukurlah kali ini Steffy tidak bertindak macam-macam pada Marvin.
Setelah urusan pekerjaan selesai ketiganya langsung menikmati beberapa hidangan makanan di restoran tersebut. Dari sana Steffy bisa melihat bagaimana cara Marvin makan, rasanya tidak ada yang kurang sama sekali. Walaupun ekspresi Marvin selalu dingin, itu semua tidak mengurangi kekagumannya.
"Emm Tuan ada sesuatu di bibirmu" Steffy langsung membersihkan sudut bibir Marvin dengan tisu, Marvin terkejut dengan sikap Steffy yang lancang itu.
"Steffy!" Tegur Samuel.
"Aku hanya membantu membersihkannya, apa itu salah?" Dengus Steffy.
"Aku tidak suka jika ada orang asing menyentuhku tanpa seijinku nona" ucap Marvin tajam. Samuel menelan ludahnya, lalu mencubit lengan Steffy.
"Awww paman sakit!"
"Minta maaf!"
"Maafkan aku Tuan Marvin" sesal Steffy dengan tatapan menyesal, matanya mengerjap ingin memberikan kesan imut pada Marvin supaya pria itu luluh. Namun yang ada Marvin ingin mengeluarkan makanan di perutnya sekarang juga.
Marvin mengakhiri acara makannya dengan cepat, selera makannya hilang setelah melihat wajah Steffy. Marvin ingin segera pulang dan bertemu gadis kecilnya.
"Tuan Marvin aku ingin meminta maaf karena sudah mempermalukan Brianna kemarin". Steffy mulai mengutarakan maksudnya.
"Aku tidak melihat ketulusan dari matamu" Marvin tersenyum miring, ia yakin gadis dihadapannya ini sedang berusaha menarik simpatiknya dan tidak tulus meminta maaf.
"Aku serius Tuan Marvin, setelah Tuan Marvin menegurku kemarin aku sadar bahwa sikap ku sangat keterlaluan. Aku sudah menyakiti hati Brianna".
"Aku akan memaafkanmu jika Brianna juga menerima maaf mu. Jadi apa Brianna sudah memaafkan mu hem?"
"Su..sudah" Steffy terlihat ragu mengatakannya. Marvin tersenyum sinis, lalu berdiri dari duduknya.
"Selain lancang, kau ternyata pandai berbohong"
Marvin tidak peduli di sana ada Samuel yang notabennya adalah paman Steffy. Jika Marvin sudah benci pada seseorang maka ia akan menunjukkannya secara terang-terangan. Persetan jika setelah ini Samuel membatalkan kerjasama mereka, ia tidak peduli.
Marvin pergi meninggalkan restoran tersebut. Sementara Samuel tampak memijat pelipisnya yang mendadak pening.
"Ckkk dasar pria angkuh, menyebalkan! Liat saja nanti aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku Tuan Marvin!".
"Steffy jangan macam-macam!".
"Kenapa paman hanya diam saja? harusnya paman membelaku tadi!".
"Apa yang harus paman bela? Kau memang salah Steffy".
"Menyebalkan!". Steffy menghentakkan kakinya kesal, lalu pergi meninggalkan Samuel sendiri. Samuel mengangkat bahunya tak peduli. Percuma saja ia berbicara dengan gadis labil, itu hanya membuang tenaganya saja.
#
Marvin melepas ikatan dasinya dengan asal, ia baru saja sampai rumah. Matanya menelisik melihat suasana rumah yang sepi. Maklum saja ini sudah pukul 9 malam, semua maid nya sudah pergi ke paviliun untuk beristirahat.
Sementara itu Livy Xavier sudah kembali ke Negara B karena wanita itu tidak bisa meninggalkan suaminya lama-lama di sana. Lagi pula Hanna harus membantu mengelola restoran suaminya yang kini sedang maju.
Marvin berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke lantai dua, namun saat di ujung tangga Marvin mendengar suara kegaduhan dari arah dapur. Alisnya mengernyit rasanya tidak mungkin ada pelayan yang masih bekerja.
Karena penasaran akhirnya Marvin memutar langkahnya menuju dapur. Langkah kaki Marvin begitu pelan tanpa menimbulkan suara. Saat sudah sampai di ambang pintu dapur, Marvin bisa melihat siluet tubuh mungil sedang berdiri di depan kompor.
Marvin sudah tidak asing lagi dengan tubuh itu, siapa lagi kalau bukan gadis kecilnya. Sebuah ide jahil muncul di kepala Marvin. Dengan perlahan ia berjalan mendekati Brianna, Marvin tidak tahu apa yang dilakukan Brianna saat ini. Gadis itu begitu serius hingga tidak menyadari kedatangan Marvin.
Happp!
"Awwwwh!!"
Brianna memekik saat sebuah tangan memeluknya dari belakang. Namun lebih mengejutkan lagi, tangannya teriris pisau karena saat ini Brianna sedang mengiris bawang.
"Kakaaak!!"
"Astaga! Anna tanganmu!"
Marvin panik bukan main saat jari Brianna mulai mengeluarkan darah. Sungguh ia tidak tahu jika saat ini Brianna sedang memegang pisau.
"Kenapa Kakak memelukku tiba-tiba, bagaimana jika tanganku terpotong"
Mata Brianna mulai berkaca-kaca, rasa perih mulai menjalar. Dengan cepat Marvin mencuci luka Brianna namun darahnya tidak mau berhenti.
"Maafkan aku, maafkan aku sayang" Tangan Marvin bergetar saat memegang tangan Brianna, sungguh ia sangat panik. Semua ini jelas salahnya.
Marvin memasukkan jari telunjuk Brianna ke dalam mulutnya, menyedot darahnya agar berhenti keluar dan cara itu berhasil.
Setelah itu Marvin membawa Brianna untuk duduk, lalu mengobati lukanya. Brianna terlihat menekuk wajahnya, sepertinya gadis itu kesal pada Marvin.
"Apa masih sakit?" Tanya Marvin tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
Brianna mengangguk kecil, gadis itu tidak mau menatap Marvin.
"Kenapa malam-malam mengiris bawang, apa kau ingin masak sesuatu?" Tanya Marvin lembut, rasa bersalah terus menyelimuti hati Marvin.
"Aku lapar dan ingin memasak nasi goreng"
"Kenapa tidak meminta Chef saja?"
"Mereka sedang istirahat, aku tidak mungkin mengganggu mereka"
Marvin mengambil tangan Brianna yang luka tadi lalu mengecupinya dengan lembut.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Kau boleh memukulku sekarang"
Brianna mengangkat wajahnya dengan alis berkerut. Kenapa harus memukul?
"Untuk menebus rasa bersalahku" lanjut Marvin.
"Kakak berlebihan, aku tidak apa-apa"
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika melihatmu celaka seperti ini. Maafkan aku" Marvin menarik tubuh Brianna ke dalam pelukannya, lalu memberikan ciuman bertubi-tubi pada pucuk kepala Brianna.
"Berhenti meminta maaf, aku baik-baik saja" hati Brianna menghangat melihat sikap Marvin. Diam-diam bibirnya tersenyum lalu membalas pelukan Marvin.
Tak lama kemudian Marvin melepas pelukannya. Di sentuhnya ke dua pipi Brianna dengan lembut
"Kau lapar bukan? Bagaimana jika aku yang masakan nasi goreng untukmu?"
Brianna mengangguk setuju, wajahnya tidak lagi murung seperti tadi. Marvin tersenyum kecil lalu mengecup kening Brianna.
"Tunggu di sini Chef Marvin akan membuat makanan yang lezat untuk Tuan Putri"
Brianna tertawa mendengarnya, rasa kesalnya menguap begitu cepat. Marvin selalu berhasil mengembalikan suasana hatinya.