My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Pengantin Baru



Cuaca pagi hari ini terlihat begitu cerah. Suara burung pun mulai bersahutan menyambut sepasang pengantin baru yang kini masih bergelung di bawah selimut mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, akan tetapi diantara mereka berdua belum ada yang berkenan membuka matanya. Maklum saja mereka sepertinya kelelahan setelah mengadakan acara pernikahan dari pagi hingga sore, kemudian di lanjut kembali acara makan malam bersama seluruh keluarga hingga tengah malam.


Marvin dan Brianna begitu nyaman saling memeluk, berbagi kenyamanan dalam tidur mereka. Cahaya matahari sudah menerangi kamar mereka, hingga akhirnya salah satunya terbangun karena terusik oleh cahaya tersebut. Brianna Carissa, gadis itulah yang pertama bangun.


"Engghh"


Brianna melenguh sambil mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya matahari yang menganggu panglihatan nya. Satu pemandangan yang indah langsung menyambut Brianna begitu matanya terbuka, yaitu wajah damai Marvin Xavier.


Brianna mengerjap beberapa saat, menyadarkan diri bahwa ini bukanlah mimpi. Ia menolehkan kepalanya ke arah dinding, di sana Brianna bisa melihat foto pernikahan mereka terpajang dengan eloknya.


Sudut bibir Brianna terangkat membentuk senyuman yang indah. Kepalanya kembali menoleh ke arah Marvin, tangannya terulur mengelus pipi pria itu dengan pelan takut membangunkan Marvin.


"Ini semua nyata" gumam Brianna pelan, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Ini nyata bukan halusinasi semata. Marvin benar-benar telah menjadi suaminya.


"Good morning" Suara indah Marvin mengalun di telinga Brianna, gadis itu tersentak melihat pria itu tersenyum padanya sambil menggenggam tangannya yang masih bertengger di pipi Marvin


"Kakak sudah bangun?" Brianna tiba-tiba merasa gugup. Marvin mengangguk kecil lalu mengecupi telapak tangan Brianna sambil menahan rasa kantuknya yang masih tersisa.


Mata Marvin masih setengah terbuka dan itu terlihat lucu di mata Brianna, gadis itu mengulum senyumnya melihat tingkah Marvin.


"Apa kita bangun terlambat?" Tanya Marvin dengan suara sedikit serak khas bangun tidur.


"Engg.. sudah jam 8" bisik Brianna.


Marvin hanya bergumam, ia menarik pinggang Brianna lebih dekat. Lalu menyimpan wajahnya di ceruk leher Brianna, menghirup aroma tubuh Brianna yang wangi seperti bayi. Padahal gadis itu belum mandi tetapi wangi itu seperti menempel secara permanen. Tidak ada aroma yang lebih menenangkan selain aroma gadis kecilnya, Marvin sangat menyukainya.


Brianna salah tingkah, gadis itu bergerak tak nyaman dalam pelukan Marvin. Ah bukan tak nyaman melainkan canggung, ia tidak biasa dengan posisi seperti ini.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja" Marvin merengek memberikan sensasi geli di leher Brianna.


Brianna tak kuasa menahan degup jantungnya, wajahnya berubah memanas saat bibir Marvin mulai berani menciumi lehernya. Brianna menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkram erat piyama yang dikenakan Marvin.


Tubuh dan pipinya semakin memanas, Brianna merasakan sensasi yang mendebarkan begitu bibir Marvin dengan lihainya menciumi permukaan kulit lehernya. Brianna refleks mendongak seolah-olah memberikan akses lebih pada Marvin untuk mencumbunya. Tidak, Brianna tidak sadar dengan gerakannya. Isi kepalanya mendadak kosong dan tubuhnya justru menikmati sentuhan Marvin.


Entah sejak kapan Marvin merubah posisinya, pria itu sudah berada di atas tubuh Brianna. Menggigit kecil area perpotongan lehernya hingga menimbulkan bercak merah. Brianna seperti ingin mengeluarkan sebuah suara, semacam *******. Marvin menciumi area sensitifnya.


Ciuman Marvin naik menuju rahang Brianna lalu sampai di bibir manis gadisnya.


Brianna memejamkan matanya saat bibir tebal Marvin menekan permukaan bibirnya dengan lembut.


Sepertinya sekarang Marvin sudah sepenuhnya terbangun, ia sadar dengan skin ship yang ia lakukan. Sialnya ia tidak bisa berhenti, gairahnya tiba-tiba terbangun saat melihat wajah polos Brianna yang tampak memerah.


Marvin melepas ciumannya sejenak diikuti bulu mata lentik Brianna yang mulai terbuka. Pandangan keduanya bertemu dengan nafas yang mulai memburu, ada percikan gairah dari mata Marvin dan Brianna tidak mengerti hal itu. Gadis itu hanya diam mematung sambil mencoba menormalkan kembali degup jantungnya.


"Maaf, aku tidak bisa berhenti" gumam Marvin pelan. Dielusnya pipi Brianna pelan dengan sorot mata penuh cinta. Alis Brianna menyerngit, gadis itu tidak paham maksud Marvin.


"Hentikan aku jika kau merasa tidak nyaman"


"A..apa?"


Marvin tersenyum geli melihat wajah polos Brianna, ia kembali mendekatkan wajahnya menyatukan bibir mereka kembali. Marvin ingin melakukan 'itu' sekarang, itupun jika Brianna siap, jika gadisnya belum siap maka ia akan berhenti. Marvin tidak akan memaksa Brianna.