
Malam minggu akhirnya tiba, Mia terlihat mematut dirinya di depan cermin. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana menelisik penampilannya malam ini, terasa sangat special karena malam ini James mengajaknya berkencan.
Beberapa pakaian berserakan begitu saja di atas ranjang. Sudah 5 kali ia mengganti pakaiannya, ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan James. Mia harus memakai pakaian terbaiknya.
Pilihan Mia akhirnya jatuh pada sebuah dress sederhana berwarna peach, bukan dress mewah ataupun mahal. Mia membelinya ketika ia mendapat gaji pertama dari Marvin. Mia nyaman memakainya dan setidaknya dress tersebut tidak terlalu memalukan.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, James mengirimnya pesan bahwa pria itu sudah menunggunya.
"Aissh kenapa dia menunggu di depan rumah utama. Bagaimana jika Tuan Marvin atau yang lainnya tahu"
Mia dengan cepat menyambar tas kecilnya. Lalu berjalan mengendap-endap keluar dari paviliun. Tidak ada yang tahu dengan kencan mereka, jika pelayan lain tahu habis sudah. Dirinya akan menjadi bahan gunjingan.
Mia berjalan melewati samping rumah Marvin, sesekali ia menoleh ke sekitar takut ada yang memergokinya. Mia terlihat seperti pencuri, karena tingkahnya yang mencurigakan.
"Tingkahmu sungguh mencurigakan Mia"
"Astaga!! Kakak!" Mia terkejut melihat James tiba-tiba muncul seperti hantu. James sontak tertawa melihat wajah Mia yang berubah pucat pasi. James sengaja bersembunyi di sana karena ia yakin gadis itu akan melewati jalan itu.
"Kau takut orang-orang tahu dengan kencan kita?"
Mia menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk kecil. James menghela nafasnya kemudian menarik telapak tangan Mia. "Tidak perlu cemas, aku sudah meminta ijin pada kepala pelayan dan juga Marvin. Mereka tidak keberatan"
"Benarkah?"
"Tentu" James menatap Mia dengan intens membuat Mia sedikit gugup "Kau terlihat sangat cantik malam ini" ucap pria itu jujur membuat wajah Mia seketika merona. "Terima Kasih" jawab Mia malu-malu
"Ayo kita nikmati kencan perdana kita" James menggandeng tangan Mia menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah utama. Wajah Mia kembali merona melihat James menggenggam tangannya dengan begitu hangat, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Padahal saat ini status mereka belum jelas.
"Kak Mia! Kak James!"
Mia dan James berhenti sejenak saat ingin memasuki mobil. Mereka mendengar suara seseorang memanggil mereka.
Keduanya mendongak, dan benar saja di atas sana ada Brianna yang sedang tersenyum menggoda pada mereka. Sambil melambaikan tangannya.
"Semoga kencan kalian berjalan dengan lancar! Fighting!" Brianna berseru semangat, membuat Mia terkejut sekaligus malu. Ia menoleh ke arah James "Kak, Brianna juga tahu?"
James mengangkat bahunya, lalu tersenyum ke arah Brianna "Hey gadis kecil masuklah, angin malam tidak baik untuk tubuhmu" teriak James.
"Aku bukan gadis kecil, kakak lupa sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu!" Brianna berubah cemberut, kesal dengan ucapan James yang selalu menganggapnya anak kecil.
Mia dan James terkekeh mendengarnya, kemudian James memberi kode pada Mia untuk masuk ke mobil. Sebelum James ikut masuk, pria itu kembali menatap ke arah Brianna gadis itu masih di sana.
Pria itu mengangkat kepalan tangannya ke atas "Fighting!" Gumamnya, lalu dibalas pula oleh Brianna sambil terkekeh. Setelah itu James langsung masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan kediaman Marvin.
"Ahh mereka terlihat serasi"
"Siapa yang serasi?" Suara Marvin mengejutkan Brianna dari belakang.
Pria itu baru saja selesai mandi terlihat dari rambutnya yang masih basah bahkan menetes di pundak Brianna. Marvin tengah memeluk istrinya dari belakang.
"Mia dan James. Aku senang mereka dekat" Brianna tersenyum lalu menolehkan kepalanya menatap Marvin. Pria itu membalas senyuman istrinya lalu memberikan satu kecupan di bibir mungil istrinya.
"Ayo kita berkencan seperti mereka" bisik Marvin. Sontak saja mata Brianna berubah berbinar, tentu saja ia mau "Ayo, kita mau berkencan kemana ka.. hmmpppt" ucapan Brianna terhenti karena Marvin membungkam mulutnya dengan ciuman. Ciuman yang sangat lembut, membuat siapa saja pasti terlena. Baru saja Brianna ingin membalas ciuman Marvin, pria itu langsung mengakhiri ciumannya membuat Brianna kesal. Marvin membalikkan tubuh Brianna, menarik pinggang istrinya agar semakin rapat dengan tubuhnya. Kening mereka saling menempel dengan nafas saling berbenturan.
Brianna merasakan kecupan-kecupan ringan di bibirnya. Tangan Marvin mulai nakal menyingkap dress piyamanya, meraba paha mulus istri kecilnya dengan gerakan sangat lembut. Brianna menggigit bibir bawahnya, gugup dengan posisi intim seperti ini. Apalagi saat ini tatapan Marvin berubah seperti singa yang baru menemukan mangsanya.
"Ka..kakak..." Tangan Brianna meremas kaos bagian depan Marvin. Suaminya tersebut kini tengah mendaratkan bibirnya di perpotongan leher Brianna. Menggigit kecil titik sensitifnya lalu bernafas di sana menghirup aroma tubuhnya.
"Kita berkencan di atas ranjang" Marvin berbisik sambil mengecup daun telinga Brianna. Tubuh Brianna seketika meremang, wajahnya memanas merasakan sesuatu yang keras menyentuh perutnya. Ini bukan pertama kalinya Marvin menyentuhnya, tetapi rasanya selalu sama, mendebarkan.
"Aku menginginkan mu malam ini"