
Brianna segera mengobati lututnya yang terluka, sesekali bibirnya meringis saat cairan antiseptik menyentuh lukanya. Mungkin karena ia terlalu panik, ia tidak menyadari luka tersebut, dan sekarang ia bisa merasakan perihnya.
Sudut bibirnya tertarik ke atas ketika melihat kotak P3K tersebut. Brianna jadi teringat dengan sikap hangat James yang penuh perhatian. Ditambah lagi usapan lembut dikepalanya masih bisa Brianna rasakan.
"Brianna Carissa!" Kepala pelayan keluar dari arah kamar Marvin. Gadis itu tersentak kemudian membereskan obat lukanya untuk segera menghampiri Emily.
Rasa gugup kini kembali melanda Brianna, ia yakin setelah ini Emily akan menceramahinya mengingat masalah yang sudah ia perbuat.
Brianna menelan ludahnya gugup melihat wajah dingin Emily. Ia pasrah dengan segala hukuman yang akan diberikan Emily maupun Marvin. Tangannya sudah berkeringat dingin, oh rasanya ia ingin pulang ke kampung saja.
"Brianna Carissa, Tuan Marvin memintamu untuk menemuinya sekarang"
"Kepala pelayan Emily, aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi, aku benar-benar tidak sengaja"
"Kau bisa meminta maaf langsung pada Tuan Marvin, sekarang temuilah dia di kamarnya" perintah Emily lalu pergi menuruni anak tangga.
***
Brianna mengetuk daun pintu kamar Marvin secara perlahan, jangan ditanya bagaimana kondisi jantungnya saat ini. Beberapa kali ia terus merapalkan do'a agar Marvin mau memaafkannya.
"Masuk!" suara tegas Marvin terdengar dari dalam.
Dengan langkah ragu Brianna mulai masuk ke dalam kamar Marvin. Pria itu terlihat fokus memainkan ponselnya sambil bersandar di kepala ranjang.
"Permisi Tuan" ucap Brianna dengan kepala tertunduk.
"Kemarilah" Marvin menyimpan ponselnya di tepi ranjang, lalu menatap Brianna dengan tatapan datarnya.
"Tuan aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi, aku benar-benar tidak sengaja" ucap Brianna to the point. Marvin hanya diam tak merespon, justru ia memperhatikan tubuh Brianna dari atas hingga bawah untuk memastikan kondisi gadisnya.
Marvin melihat sebuah perban membalut lutut Brianna. Rasa bersalah kini hinggap di hati Marvin, seharusnya ia tidak meminta gadisnya melompat. Lihatlah akibatnya sekarang, tidak hanya dirinya saja yang terluka tetapi Brianna juga. Betapa bodohnya ia karena tidak becus menangkap tubuh gadisnya.
Brianna sama sekali tidak mengangkat wajahnya, ia tahu Marvin sedang memperhatikannya dan itu membuat Brianna takut setengah mati hingga ingin menangis.
Ia tidak bisa membayangkan jika benar-benar dipecat oleh Marvin, tentu saja mamanya akan terkena imbasnya. Mamanya sudah susah payah mengumpulkan uang untuk pergi Kota A berharap kehidupan mereka akan lebih baik. Tapi sekarang, impian tersebut mungkin akan berakhir akibat ulahnya sendiri.
"Tuan tidak akan memecatku kan?"
Bukannya menjawab, Marvin justru balik bertanya. Brianna terkejut mendengarnya, apa Marvin baru saja menanyakan keadaannya?
" Y.. ya saya baik-baik saja Tuan"
"Lututmu"
"Ah ini hanya luka sedikit, aku sudah mengobatinya"
"Syukurlah"
Brianna bisa mendengar helaan nafas lega dari mulut Tuannya. Sepertinya Marvin tidak seburuk apa yang di katakan para pelayan. Buktinya Marvin bertanya mengenai keadaanya dan jangan lupa saat ia terjebak di atas pohon tadi, Marvin mau menolong seorang pelayan sepertinya.
"Arghhhh"
Marvin tiba-tiba meringis membuat Brianna tersadar dari lamunannya, Marvin ingin mengambil gelas berisi air putih di atas nakas, tetapi pergerakan pria itu terbatas akibat rasa sakit di pinggangnya.
"Biar saya ambilkan Tuan" Brianna dengan cepat mengambilkan gelas tersebut untuk Marvin.
Pria itu tersenyum kecil lalu menerimanya dengan senang hati.
"Terima Kasih"
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hidup Marvin Xavier, yaitu mengucapkan kata terima kasih untuk pelayannya. Biasanya seorang Marvin Xavier selalu menjunjung tinggi rasa gengsinya.
"Tuan tidak akan memecatku kan?" Sebuah pertanyaan yang sejak tadi Brianna tahan akhirnya tersampaikan. Marvin terkekeh mendengarnya, lalu menatap Brianna dengan senyuman kecil.
"Menurutmu?"
"Aku harap tidak, aku masih membutuhkan pekerjaan ini Tuan" cicit Brianna pelan.