My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Ada Yang Sengaja Memasukkan Obat



Beberapa anak buah Marvin terlihat menemui manager restoran seafood tadi. Pria dengan badan gemuk itu terlihat ketakutan ketika Marvin mengintograsinya soal masalah makanan yang dimakan Brianna tadi.


Marvin juga memanggil chef yang membuat makanan tersebut untuk mengajukan protesnya.


"Demi Tuhan Tuan, saya memasak dengan sesuai resep. Saya berani bersumpah tidak memasukkan obat atau apapun pada makanan Tuan". Seorang chef nampak menjelaskan.


"Tuan restoran ini sudah berjalan selama 20 tahun, tidak pernah ada masalah seperti ini sebelumnya. Kami selalu mengedepankan kehygenisan makanan disini. Chef-chef di sini juga sangat berpengelaman, jadi tidak mungkin kami sembarangan memasak" timpal manager restoran tersebut.


"Lantas kenapa kekasihku bisa sakit perut setelah tadi memakan makanan di sini!" Bentak Marvin.


"Tuan jika memang makanan tersebut ada racun, Tuan bisa terkena juga, tapi lihat Tuan baik-baik saja bukan?"


"Bos dia benar, Sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakai Brianna di sini" bisik James. Masalahnya hanya Brianna saja yang kena, pengunjung yang lain terlihat baik-baik saja termasuk Marvin


Marvin mengepalkan tangannya dengan kuat, emosinya mulai naik.


Ia harus menemukan pelakunya dan memberinya pelajaran.


"James, cari orang itu hingga dapat! Dan bawa dia ke hadapanku!" Ucap Marvin tegas, orang-orang yang melihatnya bergidik ngeri melihat kemarahan pria itu. Lantas Marvin pergi meninggalkan restoran.


 


***


 


"Sesuai apa yang kau minta, aku sudah memasukkan obat itu pada minumannya" Seorang pria asing terlihat berbicara serius dengan Steffy.


"Kau yakin tidak ada yang melihat?"


"Ya aku jamin semuanya aman, tidak ada kamera cctv di sana dan tidak ada satupun yang melihatnya".


"Kerja bagus! Ini bayaran untukmu" Steffy memberikan sebuah amplop cokelat berisi uang kepada pria tersebut.


Steffy tertawa puas melihat Brianna keluar dari restoran dengan wajah lemas. Steffy adalah penyebab dari semua ini. Gadis itu menyuruh pria tadi untuk memasukkan obat yang menyebabkan sakit perut pada minuman Brianna.


"Ini hanya permainan kecil Brianna Carissa. Aku akan memberikan kejutan yang lain untukmu"


Steffy sengaja ingin menghancurkan liburan Brianna bersama Marvin, karena rasa irinya.  Dan sekarang ia tinggal memikirkan cara bagaimana ia bisa mendekati Marvin. Steffy adalah gadis penuh obsesi, apapun yang ia inginkan haruslah terwujud. Gadis itu bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang ia inginkan.


Brianna kini berbaring lemas di atas ranjang seorang diri. Syukurlah perutnya tidak sesakit saat di restoran tadi. Marvin sudah memberikannya obat pereda rasa mulas, walaupun rasa melilit itu masih ada tapi ini jauh lebih baik.


Kelopak mata Brianna terbuka saat merasakan ranjangnya bergoyang, kemudian ia merasakan ada telapak tangan mengusap-usap kulit perutnya.


"Kak"


Marvin tengah mengusap perutnya dengan minyak hangat, pria itu tersenyum lalu mengecup keningnya lama.


"Maaf meninggalkanmu, apa sekarang lebih baik?" Marvin menatap perut Brianna yang terbuka.


"Emm i..iya ini jauh lebih baik" Brianna menunduk malu, awalnya ada rasa geli yang menjalar ketika permukaan tangan Marvin menyentuh kulit perutnya. Namun perlahan-lahan Brianna merasa nyaman.


"Aku rasa ada seseorang yang sengaja memasukan obat pada minuman mu"


Brianna mendongak dengan alis berkerut. Disengaja? Siapa kira-kira yang tega melakukannya? Memang ia salah apa?


"James sedang mencari tahu, tidak perlu khawatir. Kita akan segera menemukan pelakunya" Marvin mengusap kulit pipi Brianna dengan lembut, ia tidak mau membuat gadisnya cemas.


Marvin harus lebih waspada, ia takut ada musuhnya yang ingin mengganggu kehidupannya bersama orang yang dicintai. Atau mungkin sebaliknya, ada seseorang yang tidak menyukai Brianna hingga nekat mencelakai gadis itu.


Tiba-tiba saja Marvin teringat dengan gadis yang mempermalukan Brianna kemarin malam, Steffy. Apa mungkin gadis itu terlibat? Baiklah tidak ada salahnya mencurigai, James harus menyelidikinya juga.


Brianna merapatkan tubuhnya pada Marvin, membenamkan wajahnya di dada pria itu. Persis seperti anak kucing yang sedang manja pada ibunya. Tangan mungilnya melingkar manis di pinggang Marvin, tentu saja Marvin dengan sigap membalas pelukan gadisnya.


Jarang sekali kan Brianna manja seperti ini.


"Kak, kapan kita pulang?".


"Kau ingin pulang?" Tanya Marvin diiringi kecupan-kecupan kecil di pucuk kepala Brianna.


"Umm.. aku merindukan mama, dan rasanya di sini tidak aman"


"Baiklah besok pagi kita pulang, sekarang kita perlu istirahat"


Marvin menarik selimutnya sampai batas dada. Lalu menjadikan tangannya sebagai bantal untuk gadisnya.