
Flashback
7 years ago
Pada suatu sore Brianna kecil terlihat asik bermain di teras depan rumahnya. Kedua tangannya asik memainkan dua buah boneka Tedy Bear seorang diri. Boneka yang satu nampak sudah lusuh, sedangkan satunya lagi terlihat masih baru.
Wajah lugunya tampak berseri bahagia, karena tadi pagi paman Felix yang merupakan tetangga barunya memberikan boneka baru untuknya.
Brianna kecil sangat bahagia bisa mengenal paman barunya tersebut, karena pria paruh bayah itu begitu menyayanginya layaknya seperti putri kandungnya sendiri.
"Yak!! Brianna Carissa boneka itu milikku!!" Senyuman Brianna memudar ketika boneka barunya direbut oleh seseorang.
"Kak Samantha"
"Boneka ini dari ayahku kan? Seharusnya ini milikku!" Gadis itu adalah Samantha, anak satu-satunya paman Felix. Hubungan Samantha dan Brianna memang kurang baik, usia Samantha memang terpaut 6 tahun. Samantha selalu iri melihat ayahnya selalu memperhatikan Brianna.
Samantha tidak suka ketika sang ayah memberikan perhatian lebih pada Brianna, karena gadis itu takut kasih sayang ayahnya teralihkan.
"kakak kembalikan bonekanya"
"Kau beli saja sendiri, jangan meminta pada ayahku! Ah aku lupa kau kan tidak punya ayah" Samantha tersenyum menyeringai, perkataan Samantha berhasil menyakiti perasaan Brianna. Gadis itu tertunduk mendengarnya, matanya berubah berkaca-kaca mendengar kalimat menyakitkan tersebut.
"Tapi paman Felix memberikannya untukku" cicit Brianna pelan.
"Cih, kau pikir siapa dirimu. Pokoknya boneka ini milikku!"
"Samantha berikan boneka itu pada Brianna!"
"ayah?" Samantha terkejut mendapati sang ayah berdiri di belakangnya.
"ayah sengaja membelikan boneka itu untuk Brianna nak, jadi kembalikan"
"Ckk kenapa ayah memberikan boneka ini pada Brianna?" Dengus Samantha kesal. Lihatlah bahkan ayahnya rela pergi ke kota untuk membeli boneka untuk Brianna. Padahal saat ia kecil, ayahnya jarang sekali membelikannya mainan.
"Samantha, Brianna ini adalah tetangga kita jadi tidak ada salahnya jika kita berbagi" Felix mencoba memberikan pengertian.
Namun Samantha tidak serta merta mengerti, gadis itu justru semakin melayangkan ketidaksukaannya pada Brianna.
"Pokoknya boneka ini milikku!"
"Sayang kembalikan bonekanya"
"Samantha kembalikan! Bersikaplah lebih dewasa!" Felix mulai meninggikan suaranya. Samantha menatap ayahnya tak percaya, sang ayah membentaknya hanya untuk membela Brianna yang tidak memiliki ikatan darah dengan mereka.
"Aku benci ayah!!" Samantha melempar boneka tersebut hingga mengenai wajah Brianna. Kemudian gadis itu pergi sambil menangis memasuki rumahnya.
"Samantha!!"
"Brianna kau tidak apa-apa nak?" Bukannya mengejar putrinya, Felix justru menghampiri Brianna kecil.
"Aku tidak apa-apa paman"
"Maafkan Samantha ya, dia tidak bermaksud menyakiti Brianna"
"Apa kakak marah padaku paman?"
"Tidak nak, Samantha tidak marah padamu. Sekarang masuklah ke rumahmu ini sudah sore" titah Felix dengan senyuman ramahnya, Brianna menurut lalu masuk ke dalam rumahnya tanpa membawa boneka dari Felix.
"Brianna bonekanya!" Seru Felix menghentikan langkah Brianna yang baru sampai pintu rumahnya.
"Tidak paman, boneka itu milik kak Samantha" Brianna tersenyum tulus, ia lebih memilih mengalah pada Samantha. Brianna tidak mau Samantha semakin membencinya.
Sejak saat itu, Brianna tidak pernah menerima barang pemberian Felix. Ia takut Samantha akan marah. Walaupun sikap Samantha tidak pernah baik padanya, Brianna tidak pernah sedikitpun membenci gadis itu, apalagi sampai menyimpan dendam.
#
Brianna duduk melamun di atas ranjang kamarnya, sedari tadi ia terus memikirkan mimpi yang ia alami tadi siang. Tak lama kemudian sang mama muncul sambil membawa teh hangat untuk Brianna.
"Masih memikirkan mimpi tadi?" Tanya Yasmine lalu duduk di samping putrinya.
Brianna mengerjap, ia tidak sadar mamanya telah masuk kamar. Bibirnya melengkung tipis lalu mengambil teh di tangan mamanya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kejadian itu sudah berlalu sayang. Tidak perlu di sesali, paman Kim meninggal bukan karena salahmu tapi kehendak dari Tuhan"
Brianna memang sudah menceritakan semua mimpinya pada sang mama, awalnya Yasmine terkejut karena mimpi tersebut sama persis dengan kejadian aslinya. Akan tetapi Yasmine segera menjelaskan semuanya. Dulu Brianna memang masih kecil dan belum mengerti situasi saat itu.
"Mama, aku harus meminta maaf pada kak Samantha"
Yasmine tersenyum mendengarnya, lalu mengelus kepala putrinya penuh sayang. Brianna memang memiliki hati yang tulus.
"Sudah malam, waktunya tidur"