
Marvin menghentikan mobil sportnya tepat di depan gedung fakultas tempat Brianna menimba ilmu. Brianna sudah mulai kuliah di Spring Hill University sejak satu bulan yang lalu dengan mengambil jurusan Japanese Language and Literature.
Wajah Brianna tidak secerah biasanya, ekspresinya terlihat di tekuk pertanda jika gadis itu sedang kesal. Kesal pada sosok pria yang berada di balik kemudi saat ini, siapa lagi kalau bukan suaminya. Entah masalah apalagi, padahal semalam mereka telah melewati malam yang panas dan menggairahkan di atas ranjang.
"Sayang jangan menekuk wajahmu seperti itu, kau terlihat jelek". Canda Marvin dan langsung mendapat delikan tajam dari istrinya itu.
"Ayolah, aku kan sudah meminta maaf. Lagipula aku benar-benar tidak sengaja melakukannya"
"Harusnya Kakak tidak membuatnya di leher! Aku malu jika orang-orang melihatnya".
Kissmark, tanda itulah yang membuat Brianna marah. Akibat aktivitas panasnya semalam, Marvin membuat tanda kepemilikannya memenuhi leher Brianna. Belum lagi ia bangun terlambat karena pria itu terus menyerangnya hingga ia baru tertidur pukul 3 pagi. Nafsu suaminya itu benar-benar sialan, untung saja hari ini jadwal kuliahnya diundur menjadi pukul 10.
Salah sendiri dari awal gadis itu sudah menggoda Marvin. Niat Brianna ingin bermain dengan 'adik' Marvin memang sekedar hanya main-main saja tidak sampai ke tahap inti. Tetapi laki-laki mana yang bisa bertahan jika di berikan service seperti itu oleh istrinya. Marvin bisa gila jika harus menahannya dan pada akhirnya pertahanan Marvin runtuh. Sempat ada perdebatan kecil di pagi hari, Marvin melarangnya kuliah hari ini akibat kecelakaan semalam. Namun Brianna tetap kukuh ingin kuliah, lagipula memarnya sudah mulai memudar. Menurutnya Marvin terlalu berlebihan.
#
Akhirnya Brianna memakai syal untuk menutupi lehernya, padahal cuaca hari ini terlihat cerah dan panas. Padahal semalam hujan turun sangat lebat, cuaca saat ini memang sulit diprediksi.
"Aku masuk" Brianna melepas selt beltnya lalu mengambil tasnya di jok belakang. Marvin menahan tangan gadis itu sebelum keluar dari mobil.
"Apa lagi?" Tanya Brianna ketus.
Cup
Kecupan tanda permintaan maaf mendarat di kening Brianna. "Jangan marah lagi" ucap Marvin lirih. Sungguh Marvin paling lemah jika mengahadapi sikap Brianna seperti ini, ia tidak bisa membiarkan gadisnya berlama-lama marah padanya walaupun hanya karena hal sepele.
#
Setelah mengantarkan Brianna ke kampus, Marvin langsung bergegas menuju kantornya. Seperti biasa ia kembali harus menghadiri sebuah rapat, James juga ikut serta dalam rapat tersebut. Syukurlah rapat membosankan tersebut tidak berlangsung lama, hanya sampai jam makan siang walaupun sedikit terlambat.
Marvin dan James memutuskan untuk pergi makan siang bersama di salah satu restoran dekat kantor. Perbincangan kecil menemani waktu makan siang mereka yang sudah jarang mereka lakukan secara bersama-sama. Menu makan mereka sudah habis sejak 10 menit yang lalu, hanya tersisa minuman yang sudah habis setengahnya. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berniat meninggalkan restoran.
Marvin membuka ponselnya untuk menghubungi Brianna, ia ingin tahu apa istrinya itu sudah makan siang atau belum. Pertama ia menelpon Brianna, namun gadis itu tidak mengangkatnya. Marvin mencoba menghubunginya lagi sampai 3 kali, namun tak kunjung ada jawaban. Apa gadisnya masih ada jam kuliah?
Marvin memutuskan untuk mengirim pesan, mengingatkan gadisnya itu untuk tidak melupakan makan siangnya. Setelah itu ponselnya kembali ia masukan ke dalam saku jasnya.
Pandangan Marvin beralih pada James, alis pria itu menyerngit melihat tingkah James saat ini. Senyum-senyum tidak jelas sambil memainkan ponselnya, sepertinya pria itu sedang bertukar pesan.
"Apa pekerjaan yang aku berikan membuatmu tidak waras?" Celetuk Marvin.
"Kau bicara apa?" Tanya James tanpa melepas pandangannya dari ponsel sambil cengengesan. Sial! Bocah itu benar-benar mengabaikan Marvin.
"Maaf" jawab James.
"Kau sedang dekat dengan seorang wanita?" Tebak Marvin.
"A..apa?"
"Tingkah mu menunjukkan seperti itu" Marvin menyeringai, sambil menyeruput sisa jus di dalam gelasnya.
James mengusap tengkuknya malu, dengan wajah sedikit merona.
Bingo! James benar-benar sedang jatuh cinta.
"Tidak berniat mengenalkannya padaku?"
"Umm aku memang sedang menyukai seorang wanita, kami dekat akhir-akhir ini".
"Jadi siapa wanita itu?"
"Akan aku kenalkan jika kami resmi berpacaran"
"Jangan buang-buang waktu, nyatakan perasaanmu jika sudah yakin. Jangan sampai gadis itu di rebut oleh pria lain, kau akan menyesal nantinya"
"Tenang saja, aku jamin gadis itu tidak sedang dekat dengan pria manapun selain aku."
"Karena aku selalu mengawasinya setiapa hari" batin James.
Perbincangan mereka terhenti begitu ponsel Marvin berdering, ada panggilan dari Brianna. Senyuman Marvin langsung merekah dan menjawabnya dengan cepat.
"Ya, sayang?"
"Maaf apa benar ini dengan kerabat Brianna Carissa?"
Bukan suara Brianna yang Marvin dengar melainkan suara wanita asing.
"Ya aku suaminya, dengan siapa ini?"
"Aku temannya di kampus, Tuan bisa ke rumah sakit sekarang? Tadi Brianna sempat pingsan di kampus, aku sedang di perjalanan membawanya menuju Y Hospital"
"APA!"