My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Suamiku Memang Sudah Tua



Pagi yang cerah. Marvin terlihat berada di ruang pakaian, Ia sedang mencari sesuatu di dalam laci yang berisi beberapa koleksi dasinya. Pria itu nampak menggerutu karena tidak berhasil menemukan apa yang dia cari.


"Sayang, dimana dasi warna birunya!"


"Ada di laci Kak, semuanya ada di sana" Brianna menyahut sambil merapihkan pakaian yang di kenakan Maxime.


Hari ini mereka akan menghadiri pernikahan James dan Mia, pasangan tersebut akhirnya menikah setelah kurang lebih satu tahun berpacaran, sungguh kabar yang sangat membahagiakan.


"Tidak ada sayang".


Brianna menghela nafasnya kemudian membawa Maxime ke dalam gendongannya. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang sambil membawa sebotol air susu untuk persediaan Maxime di acara pernikahan nanti.


"Bi, aku titip Maxime dulu" Brianna menyerahkan putranya kepada sang pelayan. Setelah ini ia harus mengurus bayi besar yang sekarang terlihat frustasi mencari dasi yang ia inginkan.


"Sayang, bantu aku mencarinya!" Marvin kembali berteriak di ruang pakaian.


"Sebentar!"


Brianna menghampiri Marvin yang berdiri di depan lemari kecil yang berisi dasi dengan berbagai corak, semua itu koleksi Marvin Xavier.


"Warna biru seperti apa yang Kakak cari?"


"Biru bergaris putih"


Brianna mengangguk lalu mencari dasi tersebut dengan teliti, dan tak sampai 5 detik wanita itu sudah berhasil menemukannya.


"Ini apa?" Brianna mengambil dasi tersebut, lalu mengangkatnya tepat di depan wajah Marvin dengan kesal.


"Oh, sungguh aku sudah mencarinya tadi tapi tidak ada" ucap Marvin dengan wajah bingung. Brianna hanya menghela nafas, ini salah satu kebiasaan Marvin.


"Kalau tidak ada, terus ini apa?"


Marvin mengusap tengkuknya malu.


"Ahh sepertinya minusku bertambah" kilah Marvin sambil mengucek-ngucek matanya.


Melihat wajah kesal sang istri Marvin buru-buru memasang cengiran polosnya, lalu mengecup pipi Brianna.


"Terimakasih sayang, ayo pasangkan untuk ku"


Walaupun sedikit kesal Brianna tetap menuruti perintah Marvin. Pria itu meneliti penampilan sang istri dari atas sampai bawah. Brianna terlihat sangat cantik hari ini, balutan gaun biru navy sudah membungkus tubuh berisi nya dengan indah. Paska melahirkan berat badan Brianna memang bertambah, hal tersebut memang sudah biasa dialami oleh wanita yang habis melahirkan. Tetapi di mata Marvin, istrinya semakin cantik dan seksi dengan ukuran tubuhnya saat ini.


"Sayang kau terlihat cantik hari ini" Goda Marvin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Brianna.


"Tentu saja, karena hari ini hari special aku harus merias diriku. Aku tidak ingin mempermalukan Kakak di acara pesta nanti, bagaimana mungkin seorang Marvin Xavier menggandeng istri yang jelek"


Marvin tersenyum mendengar penjelasan Brianna "Kau tetap cantik apa adanya, walau tanpa make up sekalipun".


"Sudah selesai ayo kita berangkat" Brianna menepuk bahu Marvin pelan sebagai sentuhan terakhir.


Bukannya melepaskan, Marvin justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Brianna.


"Ada apa lagi?"


"Morning Kiss"


"Kakak sudah mendapatkannya tadi"


"Kapan? Aku tidak mengingatnya" kilah Marvin.


"Ahh rupanya suamiku memang sudah tua, mulai pikun hmm"


"Heiii!!"


Marvin menyentil kening Brianna sampai wanita itu meringis.


"Tidak sopan!"


Brianna mengerucutkan bibirnya kesal, ia berontak dalam pelukan Marvin merajuk.


"Baiklah aku tidak akan memberikan morning kiss lagi, minta saja pada Murphy"


"Apa??? Mana bisa begitu?"


"Bisa, karena Kakak suami menyebalkan! Pagi-pagi Kakak sudah melakukan kdrt padaku!"


"Wah haha kau berlebihan sayang"


"Lepas!" Brianna benar-benar kesal sekarang.


"Tidak!" Marvin semakin mengurung tubuh mungil Brianna. Tidak kehilangan akal, tangan Brianna menyelinap masuk ke dalam jas Marvin, pria itu berpikir Brianna membalas pelukannya. Namun tak lama kemudian, pria itu memekik keras.


Brianna mencubit perutnya!


Alhasil Marvin langsung melepas pelukannya sambil meringis, cubitannya kecil namun sangat menyakitkan. Marvin yakin hasilnya pasti memerah.


"Sayang! Sakit!!"


Bukannya kasihan, Brianna justru tertawa puas. Wanita itu buru-buru kabur keluar ruangan, sebelum singa jantan dalam diri Marvin keluar.


"Kita satu sama kan! Haha!"


"Aisshhhh!!"