My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Akan Ku Buatkan Istana Indah



Ryan menatap gerbang rumah mewah yang menjulang tinggi di hadapannya. Sudah hampir 15 menit ia berdiri di sana.  Kepalanya menunduk menatap sebuah goodie bag yang ia bawa. Keraguan terlihat jelas di sana, Ryan ingin masuk ke rumah tersebut namun ia ragu.


"Apa aku simpan saja di sini?" Ryan melihat keadaan sekitar, lingkungan rumah tersebut sangatlah sepi.


"Aisshh seharusnya aku tak perlu repot-repot mengantarkannya kemari!"


Ryan memukul kepalanya sendiri, merasa bodoh dengan tindakannya saat ini. Tak lama kemudian gerbang itu terbuka, Ryan terkejut ketika seorang security memergokinya.


"Hey siapa kau!"


Security tersebut menarik kerah baju Ryan karena pria itu hendak berlari.


"A..aku bukan pencuri, aku hanya kebetulan lewat saja" bohong Ryan.


Security tersebut tertawa remeh "Hey bocah kau pikir aku bodoh, sejak 15 menit yang lalu kau berdiri di sini kan? Disini ada kamera cctv"


Ryan menelan ludahnya, sial! Ternyata rumah ini penuh penjagaan ketat.


"Ada maksud apa kau kemari?"


"Apa benar ini rumah Brianna?"


"Bukan, tapi nona Brianna memang tinggal di sini".


Security tersebut memperlihatkan penampilan Ryan dari atas sampai bawah, sepertinya ia hafal dengan seragam sekolah yang dikenakan Ryan.


Ryan sengaja mendatangi kediaman Brianna karena ia ingin memberikan seragam sekolah gadis itu yang masuk ke dalam kolam kemarin. Ryan bahkan meminta alamatnya  pada bu Natasha, wali kelasnya.


Brianna tidak sempat mengambil seragamnya karena seperti yang ia lihat kemarin, bu Natasha membawa Brianna dengan terburu-buru. Akhirnya hari ini ia mengembalikannya langsung ke rumah Brianna karena gadis itu tidak masuk sekolah. Sekaligus penasaran dimana Brianna tinggal. Ryan perlahan menaruh perhatian pada gadis itu.


"Paman, bisakah kau lepaskan tanganmu. Aku bukan pencuri!" Aku ingin mengembalikan ini" Ryan kesal lalu menunjukan goodie bag yang di bawanya.


"Apa ini?"


"Itu milik Brianna, dan aku adalah temannya"


Security tersebut akhirnya melepaskan Ryan lalu mengambil goodie bag nya. Ryan mendengus kesal melihat tatapan curiga dari security menyebalkan itu.


"Benar kau teman nona Brianna?"


"Tentu saja, aku kesini untuk mengembalikan seragamnya yang tertinggal di sekolah"


"Kalau begitu kau boleh pergi sekarang" usirnya lalu kembali masuk. Belum sempat security tersebut menutup gerbangnya dengan cepat Ryan menahannya.


"Paman boleh aku bertanya?"


"Apa?"


"Nona Brianna sedang pergi berlibur dengan Tuan Marvin"


"Tuan Marvin?"


"Beliau pemilik rumah ini".


Ryan mengangguk mengerti, ada rasa kecewa karena ia tidak dapat bertemu dengan Brianna. Tetapi ia lega karena Brianna baik-baik saja. Gara-gara kejadian kemarin Ryan khawatir Brianna akan jatuh sakit.


Syukurlah gadis itu baik-baik saja.


#


Marvin terkekeh melihat Brianna begitu asik bermain pasir di pinggir pantai. Sesuai permintaan Brianna, gadis itu ingin membuat istana pasir seperti yang ia lihat di film-film yang pernah di tonton nya.


Marvin malah terlihat seperti seorang ayah yang sedang menemani anaknya bermain.


Dengan santai, Marvin duduk di kursi pantai sambil sesekali mengecek ponselnya. Di saat kondisi seperti ini Marvin tidak bisa lepas dari yang namanya pekerjaan. Jemarinya aktif menyentuh layar touchscreen nya sambil membaca beberapa email yang masuk.


Sementara itu Brianna terlihat asik dengan dunianya, wajahnya tampak sumringah melihat hasil karyanya membuat istana pasir. Marvin begitu baik sampai mempersiapkan semua peralatannya.


"Kakak!"


Brianna memanggil Marvin untuk melihat hasil karyanya. Dengan senang hati Marvin menghampirinya, dan tak lupa memuji gadisnya.


Marvin ikut duduk di samping Brianna membiarkan pasir itu mengotori celananya.


"Bagaimana menurutmu?"


"Sangat-sangat bagus kau sangat kreatif rupanya" Marvin tersenyum lebar lalu mengacak rambut gadisnya dengan gemas.


"Suatu saat nanti aku ingin memiliki rumah seperti istana ini, hidup bahagia bersama keluarga kecilku".


"Aku akan segera mewujudkannya nanti" Marvin tersenyum kecil, Brianna mengernyit bingung dengan ucapan Marvin barusan.


"Aku akan membuatkan istana indah sesuai apa yang kau harapkan."


"Benarkah?" Mata Brianna berubah berbinar.


"Tapi ada satu syarat"


"Apa syaratnya?" Tanya Brianna penasaran.


Marvin tersenyum penuh arti, tangan panjangnya terulur merangkul pundak Brianna hingga tubuh mereka menempel.


"Syaratnya... Menikahlah denganku" bisik Marvin.