
"Kenapa kakak berbohong pada mama?"
Brianna melontarkan pertanyaannya begitu sampai di beranda paviliun. Kini Brianna dan Mia tengah duduk di sebuah gazebo saling berhadapan.
"Kau mau belajar denganku atau tidak?" Tanya Mia mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja aku mau"
"Kalau begitu diam, dan perhatikan"
Brianna hanya menurut, Mia mulai mengajarkan cara menyimpulkan dasi. Disisi lain ada seseorang dari kejauhan memperhatikan aktifitas dua wanita yang berbeda usia tersebut. Bibirnya melengkung ke atas, dengan sorot mata yang sulit diartikan.
#
"Bagaimana apa kau sudah menemukan sekolah yang cocok untuk Brianna?"
Marvin nampak fokus membaca dokumen-dokumen ditangannya sambil sesekali bertanya mengenai tugas yang sudah ia berikan pada pria yang duduk santai di hadapannya, James.
Setelah mengetahui keinginan Brianna untuk sekolah, Marvin langsung memerintahkan James untuk mencarikan sekolah untuk gadisnya, tentu saja sekolah yang paling terbaik dan nyaman untuk Brianna.
Tidak peduli seberapa mahal biaya administrasinya, Marvin pasti akan memberikan yang terbaik untuk gadisnya.
"Sudah, sekolah ini sangat bagus, fasilitasnya pun sangat lengkap. Aku yakin Brianna akan betah sekolah disana"
"Bagaimana dengan siswa-siswinya? Apa pernah ada masalah? Kasus pembullyan mungkin"
"Sejauh ini reputasi sekolah itu masih bagus, tidak ada masalah"
"Kau harus pastikan hal itu, ingat keamanan gadisku jauh lebih penting" jiwa posesif Marvin mulai muncul. Semenjak Brianna terluka tempo hari, Marvin semakin memperhatikan Brianna terutama lingkungan gadis itu. Ia tidak ingin kejadian kemarin kembali terulang, dan membahayakan gadis kecilnya.
"Ya aku mengerti, aku jamin semuanya akan aman."
"Lalu orang yang mencelakai Brianna kemarin, apa kau sudah menemukan pelakunya?"
"Saat ini aku sedang mencurigai seseorang, tapi belum ada bukti yang jelas"
"Baiklah kau boleh pergi, aku percayakan semua padamu. Tangkap pelakunya hingga dapat."
"Baik"
#
Pekerjaan hari ini cukup melelahkan bagi Marvin, banyak hal yang harus ia kerjakan hingga menguras tenaga dan pikirannya. Hal ini berkenaan dengan suksesnya cabang perusahaan yang terus berkembang begitu pesat.
Marvin memasuki rumahnya dengan langkah gontai, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam itu tandanya rumah besarnya telah ditinggal oleh seluruh pelayan. Disana hanya ada Emily yang menyambutnya dan membawakan tas kerja Marvin.
"Apa Tuan ingin langsung membersihkan diri? Akan saya siapkan air hangatnya"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri Emily. Kau boleh istirahat "
"Baiklah kalau begitu Tuan, saya permisi"
Sebelum Marvin memasuki kamarnya di lantai atas, pria itu memilih pergi ke dapur untuk meminum air dingin, menghilangkan dahaganya.
Beginilah aktivitas Marvin jika memasuki pukul 9 ke atas, semua hal ia lakukan sendirian. Bahkan jika tengah malam Marvin lapar, ia bisa memasak untuk dirinya sendiri tanpa harus meminta pelayan membuatkannya.
"Ahhh leganya" Marvin menghabiskan segelas air minumnya hingga tandas. Untuk beberapa saat Marvin hanya diam bersandar pada meja pantri sambil menatap gelas bening di tangannya.
"Tuan Marvin!"
"Astaga!" Marvin tersentak dari lamunannya begitu seseorang memanggilnya dari arah pintu dapur.
Seorang gadis berbalut piyama bergambar beruang berdiri ditengah pintu dapur, bibir mungilnya terlihat tersenyum tanpa dosa ke arah Marvin, siapa lagi kalau bukan Brianna Carissa.
Brianna menghampiri Marvin yang masih berdiri di depan meja pantri. Marvin memperhatikan setiap langkah Brianna yang mendekat, sepertinya kaki gadis itu sudah sembuh.
"Kakimu sudah sembuh?" Tanya Marvin begitu Brianna sudah berdiri di hadapannya.
"Ya aku sudah sembuh, berkat obat yang Tuan berikan padaku. Terimakasih banyak Tuan" ucap Brianna tersenyum tulus. Tentu saja Marvin tidak bisa mengabaikan senyuman tersebut, Marvin membalasnya dengan senyuman tampannya tanpa seringaian.
"Lantas apa yang sedang kau lakukan disini?
"Aku ingin memberi laporan, bahwa aku sudah pandai menyimpulkan dasi"
Marvin tergelak mendengarnya, jadi Brianna benar-benar belajar?
"Kau bisa melaporkannya besok Brianna Carissa, seharusnya kau istirahat"
"Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu Tuan" jawabnya semangat.
"Benarkah? Kalau begitu buktikan"
"Sekarang Tuan?"
"Tahun depan, tentu saja sekarang" Marvin terkekeh lalu mengacak rambut Brianna dengan gemas, hal itu berhasil menciptakan semburat merah di pipi gadis itu.
Brianna mengeluarkan dasinya dan mengalungkannya pada leher Marvin. Karena tubuh Marvin jauh lebih tinggi, Brianna harus mendongakkan kepalanya.
Agar Brianna lebih mudah memasangkan dasinya, akhirnya Marvin mengangkat tubuh mungil itu untuk duduk di atas meja pantri.
"Posisi ini lebih mudahkan?"
Brianna menatap Marvin gugup, apalagi cara memandang pria itu membuat Brianna salah tingkah. Pipinya kembali memanas, Marvin sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Marvin mengulum senyumnya melihat ekspresi Brianna saat ini, benar-benar gemas. Malam ini Brianna terlihat manis dengan rambut di gulung ke atas di lengkapi sebuah bandana berwarna pink di kepalanya. Namun Marvin tertegun saat melihat piyama Brianna, terlihat lusuh dengan warna yang sudah memudar.
Brianna menjadi tidak fokus menyimpulkan dasinya, beberapa kali Brianna kembali mengalami kesulitan. Fokusnya kembali buyar saat Marvin berani mengelus kepalanya. Apalagi jarak mereka yang kian dekat, membuat jantung Brianna perlahan berdebar kencang.
"Oh Tuhan jantungku!" Brianna menjerit dalam hati, ini jauh mengerikan dibanding saat ia berdekatan dengan James, rasanya tidak segila ini.
"Kenapa mendadak sulit" cicit Brianna pelan, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Marvin. Brianna ******* bibirnya yang terasa kering, siapa sangka hal itu membuat Marvin menahan diri untuk tidak menyerang Brianna dengan sebuah ciuman.
"Sial!"
Marvin menggeram dalam batinnya.
"Fokus Brianna! Fokus!"
10 menit telah barlalu, akhirnya Brianna berhasil menyimpulkan dasinya. Bahkan Brianna tidak sadar jika wajahnya sudah berkeringat.
"Selesai!" Pekik Brianna senang, gadis itu segera turun dari pantri tanpa bantuan Marvin, guna menormalkan debaran jantungnya.
"Bagaimana Tuan, aku berhasilkan?"
Marvin berdehem sejenak, lalu menatap simpulan hasil tangan Brianna dengan pandangan menilai.
"Hmm tidak buruk, kau berhasil"
"Yeeyy terimakasih Tuan Marvin!" Pekik Brianna senang, Marvin hanya terkekeh melihatnya.
"Karena kau berhasil, besok ikutlah denganku"
"Kemana Tuan?"
"Rahasia, kau akan tahu besok" Marvin tersenyum misterius membuat Brianna penasaran.